
Bengkulu – Suasana syukur dan sukacita menyelimuti Paroki Santo Yohanes Penginjil Bengkulu pada Rabu (22/7/2026). Umat bersama para imam, biarawan-biarawati, keluarga, dan sahabat berkumpul dalam Perayaan Syukur 40 Tahun Hidup Membiara Bruder Antonius Sudaryono, SCJ. Momen istimewa ini menjadi ungkapan syukur atas empat dekade perjalanan panggilan religius yang dijalani dengan penuh kesetiaan, pengabdian, dan semangat melayani.
Rangkaian perayaan diawali dengan Perayaan Ekaristi yang dimulai pukul 17.00 WIB. Gereja dipenuhi umat yang hadir untuk bersyukur atas penyertaan Tuhan dalam perjalanan hidup Bruder Antonius. Kehadiran mereka menjadi tanda kasih, penghargaan, dan dukungan atas karya pelayanan yang telah dihidupi Bruder Antonius selama 40 tahun.
Kesetiaan dalam Panggilan Menjadi Inspirasi
Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Romo Wahyu Tri Haryadi, SCJ, bersama sejumlah imam konselebran. Dalam homilinya, Romo Wahyu mengajak seluruh umat untuk mensyukuri anugerah panggilan hidup membiara sebagai wujud kasih dan pilihan Allah.
“Kesetiaan seorang religius bukan hanya diukur dari lamanya masa pelayanan, tetapi dari ketekunan dalam menjalani panggilan dengan cinta, kerendahan hati, dan semangat melayani sesama,” ungkap Romo Wahyu.

Dalam sambutannya setelah misa, Bruder Antonius Sudaryono, SCJ mengungkapkan rasa syukur atas penyertaan Tuhan yang selalu menguatkan langkah hidupnya. Menurutnya, perjalanan selama empat puluh tahun hidup membiara tidak lepas dari berbagai tantangan dan dinamika, namun semuanya menjadi bagian dari proses pembentukan panggilan.
“Empat puluh tahun hidup membiara merupakan perjalanan panjang yang penuh dinamika. Namun, melalui karya pelayanan, pendampingan umat, dan kesederhanaan hidup, saya berharap dapat terus menghadirkan kasih Kristus di tengah masyarakat,” tutur Bruder Antonius.
Bagi umat Paroki Santo Yohanes Penginjil Bengkulu, Bruder Antonius dikenal sebagai pribadi yang rendah hati, sederhana, dan selalu hadir melayani tanpa membedakan latar belakang. Kesaksian hidupnya menjadi inspirasi bagi banyak orang untuk tetap setia menjalani panggilan masing-masing.
Syukur yang Dirayakan dalam Semangat Persaudaraan dan Budaya
Usai Perayaan Ekaristi, sukacita berlanjut di halaman gereja melalui acara ramah tamah yang diawali dengan prosesi pemotongan tumpeng sebagai simbol rasa syukur atas penyelenggaraan Tuhan selama empat puluh tahun hidup membiara Bruder Antonius. Potongan tumpeng diserahkan kepada pihak-pihak yang selama ini mendukung perjalanan panggilan dan karya pelayanannya sebagai bentuk penghormatan dan terima kasih.

Suasana semakin semarak dengan penampilan kesenian tradisional Gedrug dari Sanggar Tri Purwo Budoyo. Iringan musik tradisional, gerak tari yang energik, serta semangat para penampil berhasil memukau umat dan tamu undangan yang hadir. Pertunjukan tersebut tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga menunjukkan bahwa kekayaan budaya Nusantara dapat berpadu harmonis dengan kehidupan menggereja.
Keakraban semakin terasa saat seluruh tamu undangan, para imam, biarawan-biarawati, umat, serta keluarga menikmati ramah tamah bersama. Gelak tawa, sapaan hangat, dan doa-doa yang dipanjatkan menjadi cerminan persaudaraan yang tumbuh dalam kebersamaan.

Perayaan syukur 40 tahun hidup membiara Bruder Antonius Sudaryono, SCJ menjadi pengingat bahwa panggilan hidup religius adalah anugerah yang terus dipelihara melalui kesetiaan dan pelayanan. Melalui perayaan yang sederhana namun sarat makna ini, umat diajak untuk terus mendoakan agar Bruder Antonius senantiasa diberi kesehatan, kekuatan, dan sukacita dalam melanjutkan karya pelayanannya, sehingga semakin banyak orang mengalami kasih Allah melalui hidup dan pengabdiannya.
***Eduardus Kristiawan (Komsos Paroki Santo Yohanes Penginjil Bengkulu)
