PF St. Sixtus II dan St. Kayetanus
Nah. 1:15; 2:2; 3:1-3.6-7; MT Ul. 32:35cd-36ab.39abcd.41; Mat. 16:24-28; BcO Mal. 1:1–14; 2:13-16
Memikul Salib

Saudara-saudari terkasih, seorang pematung tua yang dengan teliti mengikis bagian demi bagian dari sebongkah kayu yang kasar dan keras. Pematung itu berkata, “Kayu ini harus kehilangan bentuk aslinya agar dapat menjelma menjadi sebuah karya augng yang diminati banyak orang.” Kisah sederhana ini mencerminkan apa yang ingin disampaikan Yesus dalam bacaan Injil yang kita dengarkan hari ini: “Barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barang siapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.”
Dalam hidup ini, sering kali kita terlalu berpegang erat pada kenyamanan duniawi dan ego kita sendiri. Kita menolak untuk “dikikis” oleh kehidupan yang diberikan oleh Sang Pemahat yang Agung, yakni Allah sendiri. Kita lebih memilih untuk lari dari tantangan hidup, darpada mengikuti panggilan Kristus untuk menyangkal diri dan memikul salib sebagai jalan menuju kehidupan yang sejati.
Dalam bacaan pertama, Nabi Nahum menggambarkan kejatuhan Niniwe, sebuah kota besar yang dibangun diatas kekuatan duniawi yang berisi kekejaman, kesombongan dan penindasan. Kekuatan itulah yang membuat kota Niniwe akhirnya runtuh dibawah kekuatannya sendiri. Dunia menawarkan kepada kita untuk menyelamatkan diri dengan menghalalkan segala cara, mecari kekuasaan duniawi dan menghindari setiap bentuk penderitaan. Sebaliknya, Yesus memberikan kepada kita sebuah kemenangan sejati yang lahir dari kerendahan hati, pengorbanan, dan kesediaan untuk bebas dari belenggu dosa.
Saudara-saudari terkasih, Santo Sixtus dan Santo Kayetanus, yang kita peringati hari ini, telah membuktikan kebenaran ini dengan menyerahkan hidup mereka demi kesetiaan mutlak kepada Sang Guru. Mereka memikul salib Kristus yang hadir dalam kesuciaan dan pelayanan tanpa pamrih kepada kaum miskin.
Memikul Salib bukan berarti mencari-cari penderitaan atau hidup dalam keputusasaan, melainkan sebuah pilihan untuk mengarahkan setiap langkah hidup harian kita pada kehendak kasih Allah. Ketika kita merelakan hal-hal duniawi yang menyesatkan itu, kita sedang membiarkan rahamt Tuhan, yang perlahan membentuk kita menjadi ciptaan yang baru. Dengan menyerahkan setiap pergulatan hidup kita kepada salib Kristus, kita diantar bukan pada kehancuran, melainkan pada kemuliaan kebangkitan yang dijanjikan-Nya bagi setiap orang yang percaya dan setia hingga akhir. Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita semua.
Fr. Natalius Alan
