PW St. Klara, Perawan (P)
Yeh. 2:8–3:4; Mzm. 119:14.24.72.103.111.131; Mat. 18:1-5.10.12-14; BcO Za. 9:1–10:2
Merendahkan Diri

Saudara-saudari terkasih, dalam bacaan pertama, Allah memerintahkan Nabi Yehezkiel untuk memakan gulungan kitab yang ternyata terasa manis seperti madu. Kisah unik ini mengingatkan kita bahwa Sabda Tuhan bukan sekadar untuk didengar atau dihafal, melainkan harus “ditelan” dan meresap ke dalam hati hingga mengubah cara kita berpikir, berbicara, dan bertindak. Tentu saja, menerima Sabda berarti bersedia dibentuk, ditegur, dan ditantang untuk meninggalkan kenyamanan ego kita. Namun, ketika kita berani taat, proses yang tidak mudah itu akan berujung pada kedamaian yang manis. Teladan indah ini nyata dalam hidup Santa Klara dari Asisi; ia rela meninggalkan kemewahan bangsawan demi membiarkan Sabda Tuhan menjadi penuntun hidupnya, karena ia tahu Kristus jauh lebih berharga dari segala kenyamanan dunia.
Sebaliknya, Injil hari ini memperlihatkan pemandangan yang sangat kontras ketika para murid justru sibuk berdebat tentang siapa yang terbesar di antara mereka. Keinginan untuk diakui, dipuji, dan merasa lebih penting dari orang lain memang kerap menyelinap dalam hati kita sehari-hari, baik disadari maupun tidak. Menanggapi ambisi ini, Yesus memberikan jawaban yang menjungkirbalikkan logika dunia dengan memanggil seorang anak kecil. Ia menegaskan bahwa siapa pun yang mau merendahkan diri dan menjadi sederhana seperti anak kecil inilah yang terbesar dalam Kerajaan Surga.
Yesus memilih anak kecil karena mereka hidup dengan kepolosan, penuh rasa percaya kepada orang tuanya, dan tidak sibuk membuktikan diri bahwa mereka hebat. Sikap batin inilah yang dihidupi oleh Santa Klara sepanjang hayatnya. Meskipun ia dipercaya sebagai pemimpin komunitas spiritualnya, Klara sama sekali tidak mencari kehormatan atau fasilitas istimewa. Ia justru memilih untuk melayani sesama saudarinya, bahkan tanpa ragu melakukan tugas-tugas domestik yang dianggap paling rendah saat itu. Bagi Klara, menjadi besar di mata Tuhan berarti meniru Yesus yang datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dengan kasih yang tulus.
Melalui renungan hari ini, Yesus juga mengetuk hati kita agar tidak meremehkan “yang kecil”—mereka yang tersisih, kesepian, menderita, atau terabaikan di sekitar kita. Melalui hati yang sederhana dan peka seperti Santa Klara, Tuhan dapat berkarya dengan sangat luar biasa untuk menjangkau jiwa-jiwa yang rapuh tersebut. Mari kita berdoa agar hari ini kita semakin berani membiarkan Sabda Tuhan tinggal di dalam hati kita, mengikis keangkuhan kita, dan mengubah hidup kita menjadi berkat yang nyata serta membawa sukacita yang manis bagi sesama. Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita semua.
Fr. Delho Sinaga
