Renungan Harian Senin, 10 Agustus 2026

Pesta St. Laurensius
2Kor. 9:6-10; Mzm. 112:1-2.5-6.7-8.9; Yoh. 12:24-26; BcO Kis. 6:1-6; 8:1.4-8

Zona Nyaman

Saudara-saudari yang terkasih, pernahkah kita membayangkan betapa uniknya sebutir biji gandum? Jika biji itu disimpan dengan rapi di tempat yang aman dan kering, ia akan tetap tinggal sebagai satu biji tunggal yang tak berdampak apa-apa. Namun, ketika ia rela dijatuhkan ke dalam tanah yang gelap, hancur, dan “mati”, dari sanalah kehidupan baru bermula hingga menghasilkan buah yang berlimpah. Yesus menggunakan gambaran sederhana ini untuk mengajarkan sebuah kebenaran radikal: hidup yang bernilai bukanlah tentang seberapa erat kita menggenggam ego dan kenyamanan diri, melainkan seberapa berani kita menyerahkannya demi kasih kepada Allah dan sesama.

Semangat “biji gandum” ini terpancar nyata dalam diri Santo Laurensius, seorang diakon dan martir yang hari ini kita peringati. Ketika penguasa Roma menuntut Laurensius untuk menyerahkan seluruh harta kekayaan Gereja, ia justru membawa orang-orang miskin, cacat, dan terlantar di hadapan penguasa seraya berkata, “Inilah harta kekayaan Gereja yang sejati.” Laurensius tidak takut kehilangan nyawanya. Ia rela tubuhnya terbakar dan gugur sebagai biji gandum, sebab ia percaya penuh pada janji Yesus: barangsiapa melayani Kristus, ia akan mengikut Dia dan dihormati oleh Bapa di surga.

Saudara-saudari terkasih, bagi kita hari ini, panggilan untuk menjadi “biji gandum yang mati” tidak selalu berarti mati secara fisik. Dalam keseharian, “mati” bisa berwujud hal-hal yang sangat dekat: mau menurunkan kesombongan untuk meminta maaf lebih dulu, menahan amarah demi menjaga kedamaian keluarga, menyisihkan waktu istirahat untuk mendengarkan orang yang kesepian, atau membagikan rezeki kepada mereka yang menderita. Setiap kali kita mengalahkan keegoisan demi kebaikan orang lain, pada saat itulah kita sedang “mati” sedikit demi sedikit agar kehidupan yang baru dan indah bisa mekar di sekitar kita.

Mari kita jujur bertanya pada diri sendiri: apakah kita masih terlalu takut dan sibuk mengamankan “biji” kehidupan kita sendiri? Jangan pernah takut kehilangan ketika kita memberi dan melayani dengan tulus, sebab tidak ada pengorbanan atas dasar kasih yang pernah sia-sia di mata Tuhan. Semoga teladan keberanian dan sukacita Santo Laurensius menginspirasi kita untuk berani keluar dari zona nyaman, melayani dengan hati yang gembira, dan menjadi benih kasih yang menghadirkan kehangatan bagi banyak orang. Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita semua.

Fr. Jefri Ansa Rajagukguk

Leave a Reply

Your email address will not be published.