Dekorasi Altar Tak Sekadar Indah, tetapi Juga Wujud Kepedulian terhadap Ciptaan

Peserta Pelatihan Mendekor Altar dengan Tanaman Pot | Foto : Komsos Paroki Hati Kudus

Keindahan dalam ruang ibadah tidak hanya dimaksudkan untuk memperindah gereja, tetapi juga membantu umat mengarahkan hati kepada Tuhan. Melalui penataan altar dan ruang liturgis, keindahan dapat menjadi bagian dari doa sekaligus wujud kepedulian terhadap ciptaan.

Hal tersebut disampaikan Romo Hieronimus Indra Sepriandika dalam kegiatan Pelatihan Mendekor Altar dengan Tanaman Pot yang digelar pada Sabtu (22/8) pukul 09.00 WIB di Gereja Katolik Hati Kudus Palembang.

Kegiatan bertema “Altar yang Hidup, Merayakan Tuhan, Merawat Ciptaan” ini diikuti 58 peserta yang merupakan utusan dari lingkungan dan kelompok kategorial Paroki Hati Kudus Palembang.

Dalam pemaparannya, Rm. Indra menekankan bahwa dekorasi liturgi bukan sekadar kegiatan menghias ruang gereja. Menurutnya, kesenian liturgis harus membantu umat semakin menghayati perayaan iman.

“Dekorasi liturgi bukan sekadar kegiatan menghias. Kesenian liturgis diarahkan untuk memuliakan Allah dan membantu umat menghayati perayaan liturgi,” ungkap Rm. Indra.

Praktek Menghias Altar | Foto : Komsos Paroki Hati Kudus

Ia menjelaskan, keindahan dalam dekorasi liturgi tetap perlu memperhatikan kesederhanaan agar tidak mengalihkan perhatian umat dari inti perayaan.

“Dekorasi hendaknya tidak berlebihan dan tidak mengganggu pusat perhatian umat dalam perayaan,” lanjutnya.

Rm. Indra juga mengajak umat untuk menghadirkan keindahan yang tidak menghasilkan pemborosan. Salah satunya melalui penggunaan tanaman hidup yang dapat dirawat dan digunakan kembali.

“Keindahan juga dapat diwujudkan tanpa harus menghasilkan pemborosan. Penggunaan tanaman hidup menjadi salah satu cara untuk menghadirkan keindahan yang sekaligus dapat dirawat dan digunakan kembali,” jelasnya.

Menurutnya, penggunaan tanaman hidup menjadi bagian dari upaya membangun cara pandang baru terhadap keindahan. Keindahan tidak harus bersifat sementara, tetapi dapat terus bertumbuh dan dirawat.

“Prinsip ini mengajak umat beralih dari keindahan yang hanya berlangsung sesaat menuju keindahan yang terus hidup dan berkembang,” ungkap Rm. Indra.

Hasil Dekorasi Altar Menggunakan Tanaman Pot| Foto : Komsos Paroki Hati Kudus

Dalam konteks kepedulian terhadap lingkungan, umat diajak melihat ciptaan bukan sekadar sebagai bahan yang dapat digunakan, melainkan sebagai anugerah Allah yang perlu dirawat. Karena itu, umat didorong untuk mengurangi penggunaan bunga potong dan dekorasi sekali pakai, serta mengutamakan tanaman hidup dan elemen alami.

Meski demikian, Rm. Indra menegaskan bahwa penggunaan tanaman hidup dalam gereja bukan merupakan kewajiban liturgis universal. Bunga potong tetap dapat digunakan selama penataannya dilakukan secara bijaksana dan tidak berlebihan.

“Bunga potong tetap dapat digunakan dalam liturgi selama penataannya dilakukan secara bijaksana, tidak berlebihan, tidak boros, serta tetap menempatkan Kristus sebagai pusat perayaan,” tegasnya.

Dalam praktiknya, penataan tanaman di ruang gereja juga perlu memperhatikan aspek liturgis, estetika, keamanan, dan perawatan. Tanaman tidak boleh menghalangi aktivitas liturgi, menutupi altar, ambo, tabernakel, salib, maupun simbol liturgis lainnya. Ukuran dan posisi tanaman juga perlu disesuaikan dengan kondisi ruang agar tidak membuat panti imam terasa sempit atau mengalihkan perhatian umat dari altar.

Peserta Pelatihan Mendekor Altar dengan Tanaman Pot | Foto : Komsos Paroki Hati Kudus

Selain itu, tanaman yang dipilih sebaiknya tahan berada di dalam ruangan, tidak mudah rontok, tidak berduri, tidak mengeluarkan bau menyengat, serta tidak menarik terlalu banyak serangga. Pot juga harus stabil dan tidak mengganggu jalur umat maupun petugas liturgi.

Melalui konsep “Altar yang Hidup”, gereja diajak membangun budaya baru dalam memandang keindahan. Keindahan tidak harus identik dengan kemewahan atau penggunaan bahan secara berlebihan. Sebaliknya, keindahan dapat hadir melalui kesederhanaan, kehidupan, dan keberlanjutan.

Pada akhirnya, dekorasi gereja bukanlah tujuan utama. Tanaman, bunga, warna, kain, dan berbagai unsur tata ruang hanyalah sarana untuk mendukung keindahan liturgi. Kristus tetap menjadi pusat perayaan.

Semangat “Altar yang Hidup” tersebut dapat dirangkum dalam empat prinsip, yakni indah, sederhana, hidup, dan berkelanjutan. Keempat prinsip ini menghadirkan keindahan di ruang ibadah sekaligus menjadi kesaksian iman dalam merawat ciptaan.

***Kristina Yuyuani Daro

Leave a Reply

Your email address will not be published.