
Udara pagi di kawasan Pakem, Sleman, Yogyakarta terasa sejuk menyapa kulit pada Kamis (28/8/2026). Matahari pun belum sepenuhnya terik bersinar, membiarkan kabut tipis dan angin lembut pegunungan Merapi berhembus perlahan. Riuhnya pasar dan lalu lintas di sekitar Jalan Kaliurang tampak lengang, hanya sesekali diselingi suara deru mesin kendaraan yang melintas pelan.
Namun, begitu melangkahkan kaki memasuki kompleks Gereja Paroki St. Maria Assumpta Pakem, semua riuh dan hiruk-pikuk itu seolah menguap bagitu saja. Ada keheningan yang istimewa di sini. Di teras depan pintu utama gereja yang tampak sederhana namun kokoh menopang dinding menara itu, suasana berganti menjadi hening, sejuk, menenteramkan, dan seolah menegaskan ada cerita manis tersimpan di dalamnya.
Angin semilir berhembus lembut, seolah menyapa setiap peziarah yang datang dengan kehangatan dan kasih yang tak pernah berhenti memancar dari dalam. Banyak orang mengenalnya sebagai salah satu tempat ziarah umat Katolik di lereng Merapi. Ketika kita berjalan sedikit lebih dalam, menyusuri bangku-bangku umat dan menatap ornamen-ornamen indah yang membingkai bangunan gereja, ada sebuah rahasia kecil yang membuat tempat ini menjadi begitu istimewa, Sumur Kitiran Mas.
Unik? Sangat. Sebuah sumur ada di dalam gereja agaknya terdengar asing dan janggal bagi yang baru pertama kali berkunjung. Namun, bagi mereka yang pernah duduk diam di gereja ini, keberadaannya menjadi begitu istimewa. Saat jemari menyentuh dan mencecap airnya, rasa sejuk dan segar alami langsung mengalir. Kesegaran itu menyimpan kisah perjuangan panjang yang sarat akan harapan dan iman.
Perjuangan dan Tirakat
Kehadiran kami, peserta Training of Trainers (ToT) Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) pagi itu disambut dengan ramah oleh Pastor Paroki Pakem, Romo Yosaphat Dani Puspantoro dan Matius Supriyadi, salah satu pengurus Tempat Ziarah Sumur Kitiran Mas.
Romo Dani menuturkan kisah awal mula hadirnya sumur berkat ini. Pada tahun 1984, Romo G.P Sindhunata yang berkarya di Pakem saat itu bersama umat membuat patung Maria Ibu Risang Sungkawa, Maria Bunda yang Menderita. Patung ini menggambarkan Bunda Maria sebagai perempuan desa yang sederhana dan menderita, mewakili situasi perjuangan umat Pakem masa itu.
Pada Oktober 1985, sebuah keputusan iman diambil, membuat sumur di dalam gereja, persis di bawah kaki Bunda Maria. Lewat niat teguh yang penuh kepasrahan dan harapan, jauh sebelum sumur di gali, umat melakukan pencarian air dengan mengumpulkan air dari tujuh sumber berbeda serta tujuh macam bunga. Semua proses tersebut dilaksanakan malam hari dalam balutan suasana doa yang khusyuk dan tirakat yang kuat.
Meski dihadapkan pada berbagai kendala dan tantangan yang tak mudah, harapan itu tak pernah padam. Hingga akhirnya, sepetak tegel berukuran 20 cm x 20 cm di bawah patung Bunda Maria pun digali. Diiringi lantunan doa yang tiada putus, setelah hampir satu bulan penggalian, pada kedalaman tiga meter, keajaiban kecil itu terjadi: pada Oktober 1985 mata air tiba-tiba membuncah. Air jernih mengalir melimpah, menjadi sumber berkat yang sejak hari itu tak pernah mengering. Perayaan Ekaristi pun digelar sebagai ungkapan syukur atas berkat yang Tuhan beri. Saat pemberkatan, air dari tujuh sumber dan tujuh macam bunga pun dimasukkan, menyatu dengan sumber air baru, menjadi Air Maria.
Daya hidup air ini terus memberi kesejukan dan berkat bagi para peziarah yang datang silih berganti. Hingga akhirnya keputusan besar diambil, pada tahun 2010 sumur baru digali dengan ukuran yang lebih besar, 70 cm x 70 cm. Luar biasa, air tetap mengalir dengan deras, tak pernah kering tapi juga tak pernah luber. Sumur ‘anak’ yang digali di sebelah ‘ibu’ itu diberkati pada Minggu, 14 Oktober 2001.
Menjadi Penolong

Air yang mengalir deras dalam lantunan doa dan keteguhan iman penuh harapan ini teruji nyata saat bencana melanda. Ketika Gunung Merapi erupsi dahsyat pada 2010 dan menyebabkan banyak wilayah sekita mengalami kesulitan air bersih, Sumur Kitiran Mas justru menjadi penolong. Sumur ini menjadi salah satu sumber air utama yang memberi kelegaan dan kehidupan bagi warga sekitar. “Kendati airnya disedot untuk memenuhi mobil tengki, airnya tak pernah kering, tetap melimpah,” tutur Romo Dani.
Ada pesan mendalam yang tinggal di sana, ada harapan yang tak pernah pudar, dan ada kehidupan yang tak akan pernah berakhir.
Rumah Kasih bagi Semua Orang
Keindahan Sumur Kitiran Mas tidak hanya terletak pada kejernihan airnya, tetapi juga pada kehangatan persaudaraan yang tercipta di sekelilingnya.
Matius Supriyadi mengungkapkan bahwa peziarah yang datang menimba dan mencecap air di bawah kaki Bunda Maria ini bukan hanya dari kalangan umat Katolik. Banyak pula umat Muslim dan warga masyarakat dari berbagai latar belakang yang datang dengan niat tulus, mereguk kesejukan dan menimba berkat.
Bunda Maria di tempat ini dialami sebagai sosok Ibu yang penuh kasih, seorang ibu yang senantiasa peduli, menanungi, dan menghadirkan kesegaran berkat bagi siapa saja yang mendamba ketenangan jiwa tanpa membeda-bedakan.
Pagi itu, di lereng Merapi, Sumur Kitiran Mas bukan lagi sekedar tempat penampungan air. Ia telah menjelma menjadi bagaikan Taman Sriwedari yang indah, sebuah oase kedamaian, saat ketulusan, kesederhanaan, dan kerendahan hati menyatu dalam setiap jiwa yang menemukan kesegaran, harapan, dan kasih yang menyejukkan. Sumur ini menjadi saksi keluh kesah manusia, menyegarkan tenggorokan yang kering dan membasahi kembali jiwa-jiwa yang sempat gersang oleh hiruk pikuk hidup.
***TJK
