
PEMATANGSIANTAR — Pembina Unio Indonesia sekaligus Uskup Ruteng, Mgr. Siprianus Hormat, mengingatkan para imam diosesan agar tidak menjadikan diri mereka sebagai pusat perhatian, terutama di media sosial. Tugas utama seorang imam adalah membantu umat mengarahkan pandangannya kepada Kristus.
Pesan tersebut disampaikan Mgr. Siprianus dalam homili Perayaan Ekaristi pembukaan Musyawarah Nasional (Munas) XV Unio Indonesia di Pusat Pembinaan Umat (CC-PPU), Pematangsiantar, Sumatera Utara, Senin (14/9/2026) sore. Hadir mendampingi sebagai konsebran di antaranya Ketua Konferensi Waligereja Indonesia, Mgr. Antonius Subianto Bunjamin OSC, Uskup Agung Semarang, Mgr. Robertus Rubiyatmoko, Uskup Agung Palembang, Mgr. Yohanes Harusn Yuwono, Uskup Padang, Mgr. Vitus Rubinto Solichin SX, dan Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Medan, Romo Michael Manurung OFMCap.
Lebih lanjut, menanggapi tema Munas “Imam Diosesan: Rasul Spiritualitas Kristiani di Era Digital,” Mgr. Siprianus menegaskan bahwa tantangan era digital bukan sekadar kemampuan mengoperasikan media sosial atau kecerdasan buatan. Menurutnya, dunia digital adalah ajang perebutan cara pandang manusia melalui algoritma dan notifikasi.
“Dalam hidup imamat, kita tidak pertama-tama dipanggil menjadi influencer religius. Kita dipanggil menjadi penunjuk arah pandang bagi umat,” tegas Mgr. Siprianus.
Mengambil analogi kisah Musa yang meninggikan ular tembaga di padang gurun, ia mengingatkan bahwa imam juga tidak kebal dari luka, kesepian, kekecewaan, maupun kegagalan. Namun, yang terpenting adalah ke mana seorang imam mengarahkan pandangannya saat berada di masa-masa sulit tersebut.
Ia menekankan paradoks jalan Kristus yang mengosongkan diri dan melayani. Ukuran keberhasilan seorang imam bukanlah popularitas, jumlah pengikut di media sosial, atau pujian publik, melainkan seberapa jauh hidupnya menjadi pemberian tulus bagi sesama.
Di akhir refleksinya, Mgr. Siprianus mengajak para peserta Munas XV memegang tiga pegangan utama, yaitu Bersaudara dengan saling mendukung dan tidak menanggung beban atau luka pelayanan seorang diri; Bersinergi dengan bekerja sama menghadapi tantangan zaman yang kian kompleks, mulai dari masalah sosial hingga dinamika generasi muda; dan Bersaksi dengan menunjukkan kebenaran iman melalui tindakan nyata, kedekatan dengan umat, dan kerendahan hati.
Ia berharap perhelatan Munas XV menjadi kesempatan baik bagi para imam untuk memperbarui diri dengan kembali menempatkan Kristus sebagai pusat hidup dan pelayanan mereka.
***TJK
