
PALEMBANG — Isu kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan membutuhkan komitmen bersama dan gerakan nyata yang melampaui sekat perbedaan keyakinan. Hal tersebut menjadi fokus utama dalam Seminar Nasional “Merajut Moderasi, Merawat Ekologi, dan Kerja Sama Lintas Agama di Sumatera Selatan” yang diselenggarakan di Gedung Rafah Tower UIN Raden Fatah Palembang, Selasa (15/9/2026).
Kegiatan interreligius yang diinisiasi oleh Program Studi Agama-Agama Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah ini menghadirkan pimpinan universitas, akademisi, kaum muda, serta narasumber dari berbagai tokoh agama di Sumatera Selatan, seperti Ketua NU Sumsel, KH Hendra Zainuddin, dosen Universitas Katolik Musi Charitas (UKMC) Palembang, Romo Stefanus Sigit Pranoto SCJ, Biksu Padipa Kusala (Suhu Geng Shan), Ketua Dewan Pengawas Perkumpulan Adat Hinsu Bali Sumsel, I.G.B. Surya Negara, dan Pemikir Islam Fakultas Ushuluddin UIN, Zaki Fadad Syarif Zain.

Dalam sesi diskusi, Romo Stepanus Sigit Pranoto SCJ, menegaskan bahwa dialog moderasi beragama harus didasari oleh kejujuran serta rasa solodaritas. Menurutnya, krisis lingkungan seperti karhutla tidak pernah memilih korban berdasarkan suku maupun agama.
“Moderasi beragama tidak cukup hanya dimaknai sebagai upaya menghindari konflik, tetapi harus melahirkan kerja sama konkret dalam menjaga kehidupan. Krisis ekologis merupakan persoalan konkret yang dihadapi semua agama. Dampaknya tidak membedakan agama maupun suku,” tegas Romo Sigit.
Anggota Kongregasi Imam-Imam Hati Kudus Yesus (SCJ) ini menambahkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan hidup merupakan panggilan iman untuk merawat “rumah kita bersama” dari krisis ekologis yang mengancam kesejahteraan umat manusia dan martabat kehidupan.
Pandangan tersebut didukung oleh Wakil Rektor III UIN Raden Fatah Palembang, Syahril Jamil, yang menekankan pentingnya teologi yang hadir dalam kehidupan sehari-hari. “Tidak ada agama yang mengajarkan manusia untuk merusak alam. Moderasi beragama perlu membicarakan persoalan yang menjadi perhatian bersama, termasuk lingkungan,” ujarnya.
Komitmen Bersama
Dalam diskusi tersebut, para pemuka agama memaparkan landasan ajaran masing-masing dalam menjaga dan merawat bumi. Ketua PWNU Sumsel, KH Hendra Zainuddin Al Qodiri, menyampaikan bahwa kepedulian lingkungan dibangun melalui tiga pilar persaudaraan: ukhuwah Islamiyah (sesama muslim), ukhuwah wathaniyah (kebangsaan), dan ukhuwah insaniyah (kemanusiaan).
Mewakili Gereja Katolik, Romo Sigit menggarisbawahi pentingnya melangkah dari toleransi menuju solidaritas aksi nyata dalam menghadapi ancaman karhutla. Sementara itu, pemuka agama Buddha, Y.M. Bhiksu Pradipa Kusala (Suhu Geng Shan), menjelaskan ajaran mettā (cinta kasih) dan karuṇā (belas kasih) sebagai landasan menjaga alam yang saling terhubung dengan kehidupan manusia. Seruan yang sama disampaikan I.G.B. Surya Negara, memaparkan filosofi Tri Hita Karana keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam.
Selain persoalan ekologi, narasumber seminar, Nugroho, mengingatkan bahwa dampak karhutla merusak berbagai sektor penting, mulai dari kesehatan, pendidikan, hingga ruang hidup masyarakat. Oleh karena itu, agama memiliki kekuatan besar untuk menggerakkan umat dalam menjaga alam secara bersama-sama.
Melalui seminar ini, generasi muda dan masyarakat umum diharapkan dapat menjadi agen perubahan yang aktif. Langkah bersama antara Gereja Katolik lokal, UIN Raden Fatah, serta berbagai tokoh agama ini menjadi titik awal lahirnya gerakan nyata untuk menekan risiko karhutla demi kelestarian alam di Sumatera Selatan.
***Andreas Daris Awalistyo (Kontributor Palembang)
