
PEMATANGSIANTAR — Sinodalitas atau semangat berjalan bersama dalam Gereja Katolik bukanlah sekadar urusan duduk bersama, menggelar rapat, atau mengadakan konferensi. Sinodalitas adalah cara hidup nyata yang menuntut para imam untuk keluar dari diri sendiri, merangkul umat, dan bersedia menyesuaikan langkah agar tidak ada satu pun yang tertinggal.
Pesan reflektif tersebut ditegaskan oleh Nunsius Apostolik atau Duta Besar Vatikan untuk Indonesia, Mgr. Walter Erbì, saat berdialog dengan para uskup dan imam utusan dari 38 keuskupan dalam rangkaian Munas XV Unio Indonesia di Catholic Center-Pusat Pembinaan Umat Keuskupan Agung Medan (CC-PPU KAM), Pematangsiantar, Rabu (16/9/2026) siang.
Mgr. Erbì yang hadir didampingi Uskup Agung Medan, Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap, Pembina Unindo sekaligus Uskup Ruteng, Mgr. Siprianus Hormat, Uskup Agung Semarang, Mgr. Robertus Rubiyatmoko, Uskup Padang, Mgr. Vitus Rubiyanto Solichin SX, dan Uskup Malang, Mgr, Hendrikus Pidyarto Gunawan OCarm, datang bukan sekadar sebagai perwakilan Takhta Suci, melainkan sebagai sesama saudara imam, mengajak para pelayan Gereja melihat kembali makna hakiki dari perjalanan bersama.
Bukan Lomba Lari Cepat
Dalam dialognya, Mgr. Erbì menggambarkan sinodalitas sebagai sebuah peziarahan bersama. Menurutnya, dalam perjalanan tersebut, tidak semua orang memiliki stamina atau kecepatan yang sama, ada yang bisa berlari cepat, ada pula yang melangkah lambat. Ujian terbesar dari semangat berjalan bersama justru terletak pada kesabaran dan kesediaan untuk menurunkan kecepatan demi menunggu mereka yang tertinggal.
“Tujuan sinodalitas bukanlah menentukan siapa yang paling cepat mencapai garis akhir atau siapa yang lebih dahulu memperoleh mahkota juara. Yang terutama adalah kemampuan untuk tetap bersama dalam perjalanan,” ungkapnya.
Bagi imam diosesan, hal ini berarti membangun kesatuan utuh dengan uskup, rekan imam, dan seluruh umat Allah. Pelayanan pastoral tidak boleh menjadi panggung atau ambisi pribadi.
Peka Zaman dan Bijak Bermedia
Sejalan dengan tema Munas XV Unindo Imam Diosesan: Rasul Spiritualitas Kritiani Di Era Digital, selain menekankan kesatuan, Duta Vatikan yang lahir di Turin, Italia pada Januari 1968 ini juga mengingatkan para imam untuk peka terhadap konteks tempat mereka bertugas. Pewartaan Injil harus membumi dan mampu membaca situasi sosial, budaya, serta dinamika zaman.
Salah satu tantangan nyata yang disorot Mgr. Erbì adalah penggunaan media digital. Kemajuan teknologi memang membuka peluang luas bagi pelayanan pastoral, namun era digital juga membawa persoalan besar dan potensi bahaya yang tersembunyi.
Uskup Agung yang ditunjuk Takhta Suci menggantikan Mgr. Piero Pioppo pada 1 Juli 2026 ini meminta para imam menggunakan media sosial dan teknologi secara bijaksana, terukur, serta menempatkannya semata-mata untuk mendukung pewartaan dan mempererat persekutuan.
Pesan Mgr. Erbì menggarisbawahi inti dari kerasulan imam modern yang menegaskan bahwa keberhasilan pelayanan Gereja tidak diukur dari siapa yang paling depan, melainkan dari kesetiaan untuk melangkah bersama, saling menunggu, dan memastikan tak ada seorang pun yang berjalan sendirian.
***TJK
