Renungan Harian Jumat, 9 Oktober 2026

PF. St. Dionisius, uskup, dan kawan-kawan, martir

Galatia 3:7-14; Mzm 111:1-2.3-4.5-6; Luk. 11: 15-26; BcO Sir 6:5-37

Menghidupi Iman Sejati”

 Saudara-saudari yang terkasih, Bacaan Kitab Suci pada hari ini membawa kita pada sebuah permenungan mendalam tentang makna iman yang sesungguhnya. Iman bukanlah sebatas wacana, hafalan ajaran, atau kata-kata indah yang keluar dari bibir saja, melainkan suatu daya hidup yang terwujud melalui tindakan nyata.

Ketegangan mengenai iman yang sejati ini tampak sangat jelas dalam kisah Injil hari ini. Ketika Yesus mengusir setan dan membebaskan seseorang dari penderitaan, karya kebaikan-Nya yang luar biasa itu tidak lantas membuat semua orang bersyukur. Sebagian orang justru dipenuhi prasangka buruk dan menuduh Yesus berkarya atas kuasa Beelzebul. Tanggapan ini tentu sangat memprihatinkan, sebab menunjukkan betapa biasanya mata hati manusia tertutup oleh prasangka dan keangkuhan. Atas sikap keras hati ini, Yesus memberikan teguran yang sangat tegas: “Siapa yang tidak bersama Aku, ia melawan Aku, dan siapa yang tidak mengumpulkan bersama Aku, ia menceraiberaikan” (Luk. 11:23).

Untuk membantu kita berefleksi, bayangkanlah kisah seorang ibu yang sangat aktif dalam berbagai kegiatan gerejani. Ia tak pernah absen misa, tekun berdoa rosario, aktif organisasi, serta menghiasi rumahnya dengan simbol-simbol keagamaan. Secara kasat mata, ia tampak sangat beriman. Namun sayangnya, semua itu kerap hanya dijadikan pajangan identitas lahiriah. Dalam kehidupan sehari-hari, ia masih dikuasai amarah yang tak terkontrol, gemar bergosip, enggan menolong dengan rendah hati, dan memandang sesama sebagai pesaing. Tanpa kita sadari, cermin kehidupan ibu ini sering kali mencerminkan kepribadian kita sendiri—terlalu fokus pada formalitas luar, tetapi mengabaikan kebersihan batin.

Hari ini kita semua diundang untuk memeriksa kedalaman hati dan mengenal kembali jati diri kita sebagai anak-anak Allah. Rasul Paulus mengingatkan bahwa aturan dan ibadah keagamaan seharusnya menjadi sarana yang menuntun kita untuk makin mengasihi, bukan belenggu yang membuat relasi kita dengan sesama menjadi kaku. Begitu pula dalam Injil, Yesus mengajarkan bahwa pelayanan iman yang sejati tidak diukur dari banyaknya tepuk tangan, pujian, pengakuan, atau like dari publik, melainkan dari sejauh mana kita menyalurkan karya kasih Allah bagi sesama dengan hati yang tulus dan rendah hati.

Saudara-saudari yang terkasih, marilah kita belajar dari keteladanan Bunda Maria yang senantiasa melayani dalam kesederhanaan, ketulusan, dan keheningan hati. Mari kita tinggalkan cara beriman yang sekadar tampak di permukaan dan mulai membangun kedamaian batin yang sejati. Semoga iman kita tidak hanya berhenti pada simbol-simbol lahiriah, tetapi sungguh-sungguh memancar dalam sikap hidup yang penuh kasih, kelembutan, dan kepedulian bagi sesama. Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita semua.

Fr. Anry AfuTingkat 1

Leave a Reply

Your email address will not be published.