
Paus Leo XIV menulis kata pengantar untuk edisi baru “YOUCAT: Love Forever”, sebuah buku yang mendampingi kaum muda untuk merefleksikan cinta, relasi, dan perkawinan dalam terang iman Katolik.
Sahabat-sahabat muda yang terkasih, hati kalian merindukan cinta. Cinta yang mendalam, rela berkorban, dan bertahan selamanya. Kerinduan ini bukanlah sesuatu yang terjadi secara kebetulan. Ini merupakan tanda bahwa kalian diciptakan untuk mencintai.
Santo Agustinus, yang hatinya berkobar digambarkan melalui anak panah pada lambang kepausan saya, mengungkapkannya demikian: “Hati kami gelisah sampai beristirahat dalam Engkau, ya Allah” (Confessions 1:1).
Dengan ungkapan tersebut, ia menyatakan kerinduan akan kasih ilahi yang sungguh-sungguh dicurahkan Allah ke dalam jiwa kita ketika kita bersatu dengan-Nya.
Ya, Allah sendiri dapat hadir dalam cinta manusia dan mengubahnya. Kemudian Ia memberi kita kemampuan untuk mencintai sebagaimana Ia mencintai: dalam pelayanan, dalam pemberian diri yang murah hati dan, bila diperlukan, dalam pengampunan.
Sebab, Allah adalah kasih, dan Ia menciptakan kalian untuk mencintai—mencintai-Nya dan orang-orang yang berada di sisi kalian.
Di antara berbagai bentuk cinta manusia, cinta antara seorang pria dan seorang perempuan memiliki tempat yang istimewa. Cinta itu dapat menyentuh hati seperti anak panah—kuat dan begitu cepat.
Namun, cinta sejati tidak berhenti di sana. Cinta bukan sekadar emosi sesaat yang berkobar sebentar. Cinta jauh lebih dalam. Cinta adalah komitmen mendalam kepada orang lain, sebuah keputusan, perjalanan, dan perjanjian untuk seumur hidup.
“Cinta itu autentik dan dapat bertahan selamanya hanya ketika mencerminkan kemuliaan abadi Allah—Allah yang adalah kasih (bdk. 1Yoh 4:8). Hubungan yang kokoh dan menghasilkan buah dibangun bersama di atas kepercayaan timbal balik, pada ‘selamanya’ yang menjadi inti dari setiap panggilan hidup berkeluarga dan hidup bakti” (Pidato dalam pertemuan dengan kaum muda di Lebanon).
Cinta ini pertama-tama bertanya, “Bagaimana saya dapat mencintai seperti Kristus mencintai?” (bdk. Yoh 15:12), dan menempatkan pertanyaan “Apa yang saya dapatkan dari hubungan ini?” sebagai yang terakhir.
Perkawinan mengungkapkan sesuatu dari misteri Allah sendiri. Ketika seorang pria dan seorang perempuan menyerahkan diri sepenuhnya satu sama lain dalam cinta, Allah hadir dan hidup di tengah-tengah mereka.
Kesetiaan mereka, pengampunan mereka, dan usaha mereka setiap hari untuk melakukan apa yang baik merupakan cerminan kasih Kristus kepada Gereja-Nya.
Mungkin hal ini terdengar seperti ungkapan romantis yang berlebihan, tetapi sesungguhnya merupakan kebenaran mendalam mengenai kenyataan: “Di dalam Dia, yang adalah satu, kita adalah satu.” (Agustinus, Commentary on Psalm 127).
Allah memanggil kalian, kaum muda yang terkasih, kepada cinta yang agung ini. Jangan takut akan kedalamannya!
Sebab cinta yang menjadi panggilan kalian cukup kuat untuk mengatasi kesulitan dan cukup besar untuk menopang kalian sepanjang hidup. Cinta itu tidak sempurna, tetapi bertumbuh dalam terang iman.
Cinta sejati adalah karunia Allah, dan kita tidak dapat begitu saja menciptakannya sendiri. Cinta manusia sering kali tercemar oleh keinginan-keinginan egois. Sebaliknya, kasih Allah tidak mementingkan diri sendiri, panjang sabar, penuh kesabaran, dan memiliki segala kualitas indah yang disebutkan Paulus dalam Suratnya kepada jemaat di Korintus (bdk. 1Kor 13).
Kita melihat gambaran terindah mengenai cinta sejati ketika memandang salib Yesus Kristus. Ia begitu mengasihi kita sehingga bersedia mati bagi kita.
Inilah “DNA” kekristenan, perintah Kristus: “Kasihilah satu sama lain seperti Aku telah mengasihi kamu. Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang menyerahkan nyawanya bagi sahabat-sahabatnya” (Yohanes 15:12–13).
Buku YOUCAT: Love Forever ini bertujuan mendampingi kalian dalam perjalanan tersebut.
Kaum muda seperti kalian dari lebih dari 30 negara telah membagikan kesaksian mereka di dalam buku ini, menunjukkan bahwa cita-cita yang menjadi panggilan Kristus merupakan harta yang begitu memikat.
Buku ini mengundang kalian untuk membuka hati terhadap sebuah rencana yang lebih besar daripada impian manusia mana pun. Buku ini menjadi persiapan untuk sebuah “ya” yang bukan hanya untuk satu hari, melainkan untuk seumur hidup—sebuah “ya” seperti kasih Allah, yang tak kenal lelah dan setia.
Saya berdoa bagi kalian yang membaca buku ini, yang terinspirasi oleh Paus Fransiskus yang kita kasihi. Semoga Yesus Kristus menggerakkan hati kalian hingga menemukan ketenangan di dalam-Nya. Semoga Roh Kudus menjadi terang dan kekuatan kalian.
Dan semoga kalian, seperti Maria, Bunda Cinta Kasih yang indah, menjawab dengan penuh kepercayaan dan keberanian terhadap panggilan yang paling indah dari semua panggilan: panggilan untuk mencintai.
***Paus Leo XIV, 6 Oktober 2026
Vatican News
