
PALEMBANG — Ancaman perbudakan modern, seperti penipuan kerja digital (online scamming) dan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO), kini makin nyata mengintai usia produktif. Menjawab tantangan tersebut, sekitar 200 Orang Muda Katolik (OMK) dan umat Dekanat Palembang berkumpul dalam Sarasehan Migran Aman bertajuk “Berani Bermimpi, Bijak Melangkah, Aman Bermigrasi bagi Orang Muda” yang diselenggarakan di Gedung Serbaguna Paroki St. Yoseph Palembang, Minggu (11/10/2026). Kegiatan edukatif ini digelar secara kolaboratif oleh Komisi Keadilan dan Perdamaian (KKP) Keuskupan Agung Palembang (KAPal), JPIC Suster Charitas (FCh), JPR Dehonian Indonesia, serta Komisi Gender dan Pemberdayaan Perempuan (KGPP) KAPal.
Modus Lowongan Kerja “Kerah Putih”
Yustinus Joni dari Divisi Pastoral Perburuhan, Migran, dan Perantau KKP KAPal mengungkapkan bahwa modus perdagangan manusia saat ini makin canggih. Sindikat internasional sering kali menyebarkan iklan lowongan kerja berkedok staf IT atau customer service di media sosial dengan tawaran gaji fantastis. Sayangnya, tawaran yang menggiurkan tersebut justru berujung pada penyekapan di pusat scamming online di kawasan Asia Tenggara.
Yustinus menegaskan bahwa bekerja di luar negeri atau merantau memang hak asasi, namun keselamatan tetap yang utama karena pekerja migran adalah saudara dalam kemanusiaan, bukan komoditas.
Waspadai “Red Flags” dan Terapkan Prinsip Pencegahan
Sementara itu, Sinta Uli Simatupang dari Balai Pelayanan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Sumatera Selatan menyoroti banyaknya Pekerja Migran Indonesia (PMI) nonprosedural yang menjadi korban kekerasan, penahanan dokumen, hingga perampasan hak. Untuk menghindari jebakan ini, BP3MI Sumsel mengimbau masyarakat agar tidak mudah tergiur gaji fantastis tanpa verifikasi resmi, tidak menyerahkan dokumen asli seperti paspor kepada pihak yang tidak berwenang, serta menghindari keberangkatan melalui jalur tidak resmi atau calo.

Sebaliknya, ia menegaskan agar calon pekerja harus memastikan keabsahan agen dan pekerjaan melalui portal resmi pemerintah seperti SISKOP2MI, sekaligus memastikan keluarga mengetahui detail keberangkatan serta menyimpan salinan dokumen-dokumen penting.
Panduan Langkah Konkret untuk Kaum Muda
Sebagai tindak lanjut, sarasehan ini juga membekali para peserta dengan panduan tindakan konkret yang dikemas dalam konsep 5B. Kaum muda diajak untuk berani bermimpi dalam menetapkan cita-cita hidup yang positif, serta bijak memilih dengan bersikap kritis terhadap penawaran kerja yang tidak masuk akal.

Selain itu, mereka diingatkan untuk selalu benar dalam prosedur dengan memastikan verifikasi dokumen dan jalur resmi, berani bertanya secara aktif kepada lembaga berwenang, hingga berani melapor jika menemukan indikasi TPPO di sekitar mereka.

Melalui kegiatan ini, Gereja dan para pemangku kepentingan berharap kaum muda makin waspada, bijak, dan terlindungi saat hendak melangkah mencari peluang di luar daerah maupun luar negeri.
***Andreas Daris Awalistyo (Komsos Paroki St. Yoseph)
