HPS 2026 Bukan Sekadar Seremonial, Romo Rakidi Ajak Umat Wujudkan Pertobatan Ekologis dan Kedaulatan Pangan

BANYUASIN – Ketua Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) Keuskupan Agung Palembang (KAPal), Romo Laurentius Rakidi, menegaskan bahwa perayaan Hari Pangan Sedunia (HPS) merupakan pilar penting gerakan gereja yang berfokus pada kedaulatan pangan dan keadilan ekologis, bukan sekadar kegiatan seremonial belaka. Hal tersebut disampaikannya dalam materi bertajuk “Sinodalitas: Mendengarkan Suara Bumi dan Penghuninya” pada Lokakarya Perayaan Hari Pangan Sedunia ke-46 Dekanat Palembang di Wismalat Podomoro, Banyuasin, Sabtu (31/10/2026) pagi.

Foto: Komsos KAPal

Lokakarya yang diinisiasi oleh Tim Ekologi Dekanat Palembang bekerja sama dengan Komisi PSE KAPal ini berlangsung selama dua hari, dari tanggal 31 Oktober hingga 1 November 2026. Kegiatan ini diikuti oleh peserta yang berasal dari 11 paroki di Dekanat Palembang, mulai dari Paroki St. Paulus Plaju hingga Paroki Allah Maha Murah Pasangsurut, serta melibatkan berbagai komunitas dan kelompok kategorial, seperti WKRI dan PMKRI.

Hadir pula dalam acara tersebut Vikaris Jenderal KAPal, Romo Yohanes Kristianto, serta Dekan Dekanat Palembang, Romo Hyginus Gono Pratowo. Selain Romo Rakidi, lokakarya ini turut menghadirkan narasumber lain yaitu Vieronika Verbi Sununianti yang membahas deskripsi penggalian minyak di Musi Banyuasin beserta dampaknya terhadap kelestarian lingkungan hidup, serta Yustinus Joni yang memaparkan materi mengenai advokasi pangan dan lingkungan hidup.

Dalam pemaparannya, Romo Rakidi memberikan penegasan khusus mengenai hakikat Hari Pangan Sedunia (HPS) di dalam tubuh Gereja Katolik. HPS merupakan salah satu pilar utama dari karya pastoral PSE di samping Aksi Puasa Pembangunan (APP) dan Lembaga Keuangan Mikro (LKM) yang berfungsi sebagai perwujudan kepedulian nyata Gereja terhadap isu kelaparan, kedaulatan pangan, kesejahteraan petani, dan pelestarian lingkungan. Melalui perayaan HPS, Komisi PSE mendorong gerakan pertanian berkelanjutan, pemanfaatan lahan kosong, serta penyediaan pangan yang sehat dan ramah lingkungan.

“HPS bukan sekedar perayaan seremonial dalam Gereja Katolik. HPS merupakan pemberdayaan terhadap kedaulatan pangan dan lingkungan hidup,” tegas Romo Rakidi

Mengusung tema sinodalitas, Romo Rakidi mengajak umat untuk membuka telinga dan hati lebar-lebar terhadap jeritan alam dan sesama. Berdasarkan Ensiklik Laudato Si’ dari Paus Fransiskus serta hasil Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia (SAGKI) 2025, ia mengingatkan bahwa krisis lingkungan adalah krisis moral dan kemanusiaan di mana teriakan bumi sudah bersatu dengan teriakan orang miskin.

Foto: Komsos KAPal

Oleh karena itu, umat diajak melakukan pertobatan ekologis melalui konversi cara bertani dari sistem kimiawi yang eksploitatif ke sistem organik, membangun solidaritas ekonomi dengan membeli langsung dari petani lokal, serta memperkuat pendampingan di tingkat paroki.

***TJK

Leave a Reply

Your email address will not be published.