Ketika Minyak Jadi Sumber Penghidupan, Pakar Sosiologi UNSRI Ingatkan Ancaman Nyata Kerusakan Bumi bagi Generasi Masa Depan

BANYUASIN – Dosen Sosiologi FISIP Universitas Sriwijaya (UNSRI), Vieronica Verbi Sununianti, mengingatkan bahwa aktivitas penambangan minyak artisanal di tengah keterbatasan pilihan ekonomi masyarakat kerap mengorbankan kelestarian lingkungan serta keselamatan generasi mendatang. Hal tersebut disampaikannya dalam materi bertajuk “Ketika Minyak menjadi Sumber Penghidupan, Bumi Menanggung Beban” pada Lokakarya Perayaan Hari Pangan Sedunia (HPS) Ke-46 Dekanat Palembang di Wismalat Podomoro, Banyuasin, Sabtu (31/10/2026) siang.

Foto: Komsos KAPal

Lokakarya yang dikoordinir oleh Tim Ekologi Dekanat Palembang bekerja sama dengan Komisi PSE KAPal ini berlangsung selama dua hari (31 Oktober–1 November 2026). Acara ini diikuti oleh puluhan peserta dari 11 Paroki di Dekanat Palembang, mulai dari Paroki St. Petrus Palembang hingga Paroki St. Maria Bunda Penolong Abadi Prabumulih, serta melibatkan berbagai komunitas dan kelompok kategorial seperti WKRI dan PMKRI.

Hadir pula dalam kegiatan tersebut Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Palembang, Romo Yohanes Kristianto, serta Dekan Dekanat Palembang, Romo Hyginus Gono Pratowo. Selain Vieronica, lokakarya ini juga menghadirkan narasumber lain yakni Romo Laurentius Rakidi dan Yustinus Joni.

Dalam pemaparannya, Vieronica menyoroti dilema di pedesaan seperti di Musi Banyuasin, di mana anjloknya harga karet dan sempitnya pilihan mata pencaharian membuat masyarakat beralih ke penambangan minyak tradisional. Meski memberikan uang tunai cepat bagi ekonomi rumah tangga, aktivitas ekstraktif ini meninggalkan persoalan ekologis yang masif.

“Bagaimana menjaga bumi tanpa meninggalkan manusianya? Mengapa pertambangan tetap berlangsung ketika risikonya diketahui? Pekerjaan menyediakan penghasilan ketika pilihan ekonomi menyempit, namun tanah, air, dan keselamatan menghadapi risiko yang memengaruhi generasi berikutnya,” ungkap Vieronica.

Foto: Komsos KAPal

Dampak bagi Lingkungan dan Generasi Selanjutnya

Vieronica memberikan penegasan khusus mengenai alur pencemaran yang ditimbulkan oleh tumpahan minyak dan residu penambangan yang merusak media tanah serta air permukaan maupun air tanah. Kerusakan ekologis ini tidak hanya mengganggu produktivitas lahan dan pangan lokal, tetapi juga mengancam kesehatan masyarakat.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa ukuran kesejahteraan tidak boleh berhenti pada perolehan pendapatan instan untuk generasi sekarang saja. Keadilan ekologis menuntut adanya perlindungan terhadap hak tumbuh kembang anak serta kondisi lingkungan yang bersih di masa depan.

“Anak dan generasi berikutnya: apa yang diwariskan? Keadilan ekologis perlu mempertimbangkan kehidupan sesudah kita. Ukuran kesejahteraan tidak berhenti pada pendapatan generasi sekarang,” tegasnya.

Lebih lanjut, alumni SMA Xaverius 1 Palembang ini juga mendorong pemulihan lahan kritis melalui pendekatan demplot restorasi berbasis partisipasi masyarakat seperti program CARE REVIVED.

Menurutnya, dibutuhkan pendampingan untuk meningkatkan mutu nafkah. Pendampingan itu bukan berarti memaksa warga meninggalkan pekerjaan, tetapi meningkatkan kapasitas lewat keterampilan dan pembelajaran, keselamatan dengan lebih perhatian pada risiko kerja, diversifikasi dengan melihat peluang penghasilan pendamping, serta kelembagaan terkait peran, jejaring, dan sumber daya.

Foto: Komsos KAPal

“Laudato Si dengan tegas menyebut krisis ekologis adalah krisis sosial. Manusia, ruang hidup, dan keadilan tidak dapat dipisahkan. Pertobatan ekologis dimulai dari mendengarkan, memahami akar persoalan, dan bertindak bersama dengan bukti serta tanggung jawab,” pungkasnya.

***TJK

Leave a Reply

Your email address will not be published.