Dalam sebuah pertemuan di Makau, para uskup, akademisi, dan komunikator Asia menyerukan agar kecerdasan buatan (AI) digunakan untuk melayani martabat manusia. Mereka juga meminta agar para pewarta Injil muda di dunia digital mendapatkan pengakuan dan pendampingan pastoral yang lebih besar.

Gereja di Asia didorong untuk menempatkan martabat manusia sebagai inti pengembangan kecerdasan buatan (AI), sekaligus memberikan pengakuan, pembinaan, dan dukungan yang lebih besar kepada para misionaris digital muda.
Menurut Radio Veritas Asia, seruan tersebut disampaikan dalam sidang tahunan Kantor Komunikasi Sosial Federasi Konferensi Waligereja Asia (FABC-OSC), yang berlangsung di Makau pada 27–31 Oktober.
Para peserta berkumpul dengan mengusung tema “Magnifica Humanitas dan Jalan Sinodal Evangelisasi di Asia: Mengomunikasikan Kristus pada Era Kecerdasan Buatan.”
Wajah di Balik Layar
Dalam sambutannya pada 29 Oktober, Uskup Marcelino Antonio Maralit Jr., Ketua FABC-OSC, menyerukan transformasi digital yang tetap melindungi hubungan antarmanusia. Ia mengatakan, bagi jutaan orang di Asia, perjumpaan pertama mereka dengan Gereja mungkin terjadi melalui sebuah layar.
“Di balik setiap layar di Asia, ada wajah manusia,” ujarnya.
Ia menggambarkan dunia digital sebagai “alun-alun utama, Areopagus zaman kita”, seraya mengakui adanya kesenjangan antara masyarakat yang telah terhubung dengan teknologi dan mereka yang masih belum memiliki akses.
Merujuk pada ajaran Paus Leo XIV, ia menegaskan bahwa tantangan terdalam dari kecerdasan buatan berkaitan dengan pertanyaan mengenai makna menjadi manusia.
Uskup Maralit juga memperingatkan berbagai ancaman, seperti perdagangan manusia yang terjadi dalam operasi penipuan siber, eksploitasi anak secara daring, pengawasan digital, serta penggunaan teknologi deepfake untuk memanipulasi gambar dan video.
Ia mengingatkan para klerus agar tidak pernah menyampaikan homili yang dihasilkan AI seolah-olah merupakan karya mereka sendiri. Ia juga menegaskan bahwa pendampingan rohani tidak boleh diserahkan kepada algoritma.
Sejumlah usulan yang disampaikannya mencakup pembinaan, transparansi, perlindungan data pribadi, serta solidaritas terhadap para pekerja marginal yang tenaga dan pekerjaannya menopang perkembangan teknologi digital.
Melindungi Mereka yang Rentan
Dampak kemanusiaan dari perkembangan teknologi juga menjadi perhatian dalam pidato utama yang disampaikan Dr. Levi Checketts dari Hong Kong Baptist University.
Ia menyoroti kerusakan lingkungan akibat aktivitas pertambangan dan limbah elektronik, serta pekerjaan pengolahan data yang dibayar rendah dan menimbulkan tekanan psikologis.
Ia mengkritik pendekatan yang memandang penuaan, kerentanan, dan keterbatasan manusia sebagai kekurangan yang harus dihilangkan oleh teknologi.
Sementara itu, Profesor Leo-Martin Angelo R. Ocampo, seorang Dominikan awam dari Universitas Santo Tomas di Manila, mengajak peserta melihat persoalan tersebut melalui perbandingan antara Babel dan Yerusalem.
Menurutnya, teknologi dapat mendorong kesombongan dan keinginan untuk mengendalikan, tetapi juga dapat membantu membangun kembali hubungan antarmanusia serta memastikan bahwa setiap orang memiliki tempat.
Algoritma mencerminkan prioritas manusia. Karena itu, tanggung jawab etis menjadi sesuatu yang tidak dapat diabaikan.
Berakar pada Doa dan Perjumpaan
Dalam Misa pembukaan pada 28 Oktober, Uskup Stephen Lee Bun-sang dari Makau mengingatkan bahwa Yesus memilih orang-orang dengan sejarah hidup dan keterbatasan mereka masing-masing.
Ia menegaskan bahwa pewartaan Injil membutuhkan kerendahan hati, doa, serta perhatian terhadap penderitaan sesama.
“Mendengarkan sebelum berbicara, mendampingi sebelum menghakimi,” pesannya.
Uskup Malcolm Sequeira dari Amravati, India, juga mengajak para komunikator untuk tetap berakar dalam Kristus ketika menghadapi perubahan teknologi.
Mengacu pada ajakan Santo Paulus untuk mengenakan perlengkapan senjata Allah, ia mengingatkan agar mereka tidak menjadikan kecerdasan buatan sebagai sumber rasa aman.
“Yakinlah. Jangan takut. Jangan panik,” ujarnya.
Memberi Ruang bagi Para Misionaris Digital
Penekanan pada pentingnya pendampingan tersebut tercermin dalam presentasi Gethsemani Cindy Gorospe, Koordinator Komunikasi Sosial Radio Veritas Asia, pada 29 Oktober.
Ia membagikan pengalaman penyelenggaraan Pertemuan Misionaris Digital Katolik Asia Pertama, yang mempertemukan lebih dari 100 kreator konten dari 17 negara Asia di Manila pada 10–13 September.
“Gereja perlu segera mengintegrasikan mereka ke dalam kehidupan Gereja,” ujarnya. Ia meminta Gereja-Gereja lokal dan Konferensi Waligereja untuk mendengarkan para kreator konten muda serta memberikan kesempatan kepada mereka untuk berpartisipasi dalam kehidupan pastoral.
Gorospe menjelaskan bahwa para kreator muda mengharapkan adanya komunikasi langsung dengan para uskup untuk memperoleh pendampingan dalam discernment atau penegasan rohani, arahan kanonik, serta perlindungan pastoral.
Mereka membutuhkan hubungan yang lebih erat dengan pimpinan Gereja lokal serta struktur pendukung yang dapat menopang pekerjaan mereka dan menjawab berbagai tekanan yang dihadapi.
Gorospe juga menyoroti persoalan isolasi, kelelahan mental, dan risiko politik yang dihadapi para misionaris digital.
Ia mengusulkan pembentukan komite khusus FABC-OSC serta program pembinaan yang memadukan teologi, ketangguhan spiritual, dan keterampilan komunikasi.
Menjelang Hari Orang Muda Sedunia (World Youth Day/WYD) 2027 di Seoul, ia mendesak para pemimpin Gereja untuk mengakui para komunikator muda sebagai rekan kerja dalam pewartaan Injil.
Melampaui Layar Digital
Dr. Victor Lam, penasihat Keuskupan Hong Kong untuk bidang katekese dan teknologi informasi, menyerukan agar “kebijaksanaan hati” menjadi pedoman dalam menjalankan misi ini.
Menurutnya, perjumpaan melalui dunia digital seharusnya mengarah pada hubungan antarmanusia yang bertahan lama dan keterlibatan dalam kehidupan sakramental Gereja.
Prioritas yang perlu diperhatikan, antara lain membantu kaum muda menggunakan teknologi secara bertanggung jawab dan bebas, memperkuat hubungan personal, serta mengarahkan inovasi untuk mendukung keadilan, perdamaian, dan kesejahteraan bersama.
Dr. Lam juga mengajak para misionaris digital untuk tidak hanya mengejar popularitas, tetapi menjadikan pewartaan Injil sebagai prioritas utama.
***Vatican News
Dari Vatican News, 31 Oktober 2026
