Jangan Ragu Minta Tolong Kepada Bunda Maria

Ratusan umat Keuskupan Agung Palembang berkumpul di kompleks ziarah rohani Via Crucis Sukamoro dan Gua Maria Mater Misericordiae. Dari pagi hari hingga siang menuju sore, Minggu (01/5), mereka melakukan olah rohani. Dimulai dengan jalan salib, memuncak pada Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Mgr. Yohanes Harun Yuwono.

Belasan umat dan imam konselebran berarak bersama Patung Bunda Maria menuju Gua Maria Mater Misericordiae. Panasnya terik mentari tidak menyurutkan semangat mereka menaikan pujian kepada Bunda Maria. Doa Rosario mengawali Ekaristi yang dilangsungkan pukul 14.30 WIB.

Misa Pembukaan Bulan Maria – Foto: Maria Sylvista

Uskup Agung Palembang, Mgr. Harun menjelaskan mengapa kita sebagai umat Katolik menghormati Bunda Maria. Maria adalah pribadi yang mewujudnyatakan kasih Allah kepada umat-Nya, melalui bangsa Israel, dalam perjanjian lama. Maria merupakan Tabut Perjanjian Baru, karena Yesus, yang adalah Allah Putera, bersemayam di dalam rahimnya.

“Dia (Maria) memenuhi apa yang menjadi kerinduan dari Bangsa Israel dalam perjanjian lama. Dalam perjanjian lama Allah hadir dalam wujud dekalog yang disimpan dalam Tabut Perjanjian. Tabut Perjanjian mempunyai kekuatan Allah sendiri dan karena itu, tidak sembarang orang bisa menyentuh. Maria mengandung putera Allah, membawa dalam tubuhnya, Putera Allah yang Mahatinggi. Maria kudus dan dengan demikian, tak sembarang orang boleh menyentuhnya, pun Yosef yang diberikan Allah sebagai kepala keluarga Nazareth,” kata Mgr. Harun, mengawali homilinya.

Umat Mengikuti Misa Pembukaan Bulan Maria – Foto: Maria Sylvista

Santo Yosef dipertemukan dengan Bunda Maria yang mengandung Yesus, yang menjadi kerinduan Perjanjian Lama. Yesus, menurut bapak uskup, mempunyai kekuatan yang setara dengan Allah, karena Dia adalah Putera Allah.

“Yesus sendiri yang sejak semula bersama-sama dengan Allah dan ketika lahir ke dunia, Kitab Ibrani mengatakan seluruh kepenuhan Allah tinggal dalam diri Yesus. Dengan itu, maka Dia Ilahi, setara, sebanding, semartabat dengan Allah. Menyentuh yang menyimpan, yang kudus berarti mati. Yosef kendatipun mengambil Maria sebagai istrinya, saya meyakini, dia tidak menyentuhnya,” tutur Mgr. Harun.

Saat peristiwa penyaliban, sesaat sebelum wafat, Yesus memberikan Maria kepada murid-Nya dan murid-Nya diberikan Yesus kepada Maria. Dengan demikian, kata Uskup Harun, kita adalah putra dan putri Maria.

Gua Maria Mater Misericordiae Sukamoro – Foto: Maria Sylvista

“Dalam seluruh perjalanan pastoral Yesus, Maria diikutsertakan untuk melindungi putra-putri Gereja. Untuk melindungi murid-murid Yesus,” katanya.

“Maria, jangankan dimintai tolong, tidak dimintai tolong saja hatinya tergugah. Dalam perjamuan nikah di Kana, ketika tuan rumah gelisah karena kehabisan anggur, Maria mengatakan kepada Yesus, “mereka kehabisan anggur”. Tidak diminta, Maria menolong, apalagi kalau diminta. Maka jangan ragu terhadap kebaikan Bunda Maria. Mintalah pertolongan. Bunda penuh belas kasih. Mater Misericordiae. Maka dia akan terbuka dengan segala kebutuhan kita,” pungkasnya. **

Kristiana Rinawati

Leave a Reply

Your email address will not be published.