Mengapa Gereja Katolik Sangat Menghormati Bunda Maria?

Kita mengasihi dan menghormati Bunda Maria, pertama-tama karena Yesus. Maria adalah Ibu Tuhan kita. Tuhan Yesus sangat mengasihi Bunda Maria. Alkitab mencatat beberapa peristiwa ini. Yesus melakukan mukjizat pertama-Nya, mengubah air menjadi anggur atas permintaan Bunda Maria (bdk. Yohanes 2: 1-11).

Prosesi Perarakan Patung Bunda Maria, Minggu (01/05) di Paroki Hati Kudus Palembang – Foto: Instagram Paroki Hati Kudus Palembang

Sesaat sebelum wafat, Yesus tidak menginginkan bunda-Nya hidup terlantar, maka Dia menyerahkan Bunda Maria kepada Yohanes, murid yang paling dikasihi-Nya dengan mengatakan, “Inilah ibumu.” Pun Yesus tidak mau murid terkasih-Nya terlantar, tidak punya Ibu. Kepada Bunda Maria, Yesus berkata, “Inilah anakmu” (Yohanes 19: 26-27). Sejak saat itu, Maria menjadi Bunda semua pengikut Kristus.

Jika kita menghormati dan mengasihi Yesus, maka sudah sepantasnya kita juga mengasihi sosok yang begitu dikasihi dan dihormati oleh Yesus, yaitu Bunda Maria. Bahkan Malaikat pun menyapanya sebagai “yang dikaruniai dan yang disertai Tuhan” (bdk. Lukas 1:28). Lantas Elisabeth pun memuji Bunda Maria sebagai “yang terberkati dari antara semua wanita” (Lukas 1:42).

Kedua, karena teladan Bunda Maria yang selalu mengatakan ‘ya’ terhadap kehendak Allah. Dari awal karya penebusan, Bunda Maria mengatakan ‘ya’ terhadap kehendak Allah dengan berkata, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” (Lukas 1:38).

Saat Yesus sengsara bahkan wafat di salib, Bunda Maria tetap setia pada kehendak Allah, dengan menemani Yesus hingga akhir hidup-Nya. Maka, Bunda Maria adalah satu-satunya makhluk yang pernah hidup dengan ketaatan sempurna terhadap kehendak Allah. Katekismus Gereja Katolik mengajarkan: “Karena ia menyetujui secara penuh dan utuh kehendak Bapa, karya penebusan Putera dan setiap dorongan Roh Kudus, maka Perawan Maria adalah contoh iman dan cinta bagi Gereja. Oleh karena itu, ia “adalah anggota Gereja yang maha unggul dan sangat khusus” (LG 53); ia tampil sebagai “citra Gereja” (ecclesiae typus) (LG 63).” KGK #967

Ketiga, Bunda Maria tidak pernah meninggalkan kita, anak-anaknya. Kitab Suci mencatat bahwa sesudah kenaikan Tuhan ke surga, Bunda Maria bersama para rasul menantikan kedatangan Roh Kudus. “Mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama, dengan beberapa perempuan serta Maria, ibu Yesus, dan dengan saudara-saudara Yesus” (Kisah Para Rasul 1:14).

Katekismus Gereja Katolik mengajarkan, “Sesudah anaknya naik ke surga, Maria “menyertai Gereja pada awal mula dengan doa-doanya” (LG 69). Bersama dengan para Rasul dan beberapa wanita, “kita melihat pula Maria memohon anugerah Roh dengan doa-doanya, Roh yang sudah menaunginya di saat ia menerima warta gembira” (LG 59).” KGK #965

Sebagaimana Bunda Maria yang terus menyertai para rasul dan murid Tuhan, sampai akhir hidupnya, demikianlah kini, dia yang telah mulia di surga bersama Putera-Nya pun, akan terus mendampingi kita melalui doa-doanya. Jadi, jika kita memiliki Bapa surgawi, maka kita juga memiliki Ibu surgawi, yang senantiasa mengantarkan doa-doa kita kepada Putera-Nya, Yesus Kristus. **

Kristiana Rinawati

Leave a Reply

Your email address will not be published.