Melayani dengan Hati yang Mendengarkan

Melayani dengan Hati | Foto : Pinterest

Dalam bacaan pertama (Kej. 18:1-10a), kita melihat kisah Abraham yang menjamu tiga tamu misterius di pohon tarbantin dekat Mamre. Tanpa tahu siapa mereka, Abraham menunjukkan keramahan luar biasa. Ia bergegas menyambut, menyiapkan makanan, dan melayani dengan hati tulus. Tindakan Abraham menunjukkan bahwa pelayanan sejati dimulai dari kepekaan terhadap kehadiran orang lain dan diwujudkan dalam sikap hormat dan kasih yang konkret. Dari tindakan inilah ia mendapat berkat: janji tentang kelahiran seorang anak, Ishak.

Bacaan kedua (Kol. 1:24-28) membawa kita pada teladan Rasul Paulus yang dengan penuh sukacita menanggung penderitaan demi Gereja. Bagi Paulus, pelayanan bukan hanya tindakan jasmani, tetapi juga kesediaan memikul salib demi pewartaan Kristus. Ia menyadari bahwa Kristus, “pengharapan akan kemuliaan”, adalah harta rohani yang harus ia wartakan kepada semua orang. Maka, pelayanan dalam Kristus adalah kesatuan antara penderitaan, pengharapan, dan pewartaan.

Injil Lukas (Luk. 10:38-42) mengisahkan kunjungan Yesus ke rumah Marta dan Maria. Marta sibuk melayani, sementara Maria duduk mendengarkan Yesus. Yesus menegur Marta, bukan karena ia bekerja, tetapi karena hatinya gelisah dan khawatir, serta tidak memberi ruang untuk mendengarkan Sabda. Yesus mengajarkan bahwa pelayanan tanpa kedekatan dengan Tuhan bisa kehilangan arah. Sebaliknya, mendengarkan Sabda memberi dasar rohani bagi pelayanan.

Ketiga bacaan ini mengajak kita untuk menggabungkan dua sikap penting dalam kehidupan iman: pelayanan dan kontemplasi. Abraham melayani dengan tulus, Paulus menderita demi mewartakan Kristus, Maria memilih duduk di kaki Yesus untuk menyimak Sabda. Semuanya menjadi gambaran utuh dari seorang murid sejati: mampu hadir bagi sesama, tetapi juga mampu duduk diam di hadapan Tuhan.

Kita bisa menjadi seperti Marta, yang aktif, rajin, dan ingin melakukan yang terbaik, tetapi sering kehilangan damai karena tidak punya waktu untuk mendengarkan Tuhan. Atau kita bisa belajar dari Maria, yang tahu bahwa di tengah kesibukan, ada saatnya untuk diam dan merenungkan Sabda. Dan seperti Abraham, kita diajak menyambut Tuhan yang hadir dalam rupa sesama.

Mari kita mohon rahmat agar pelayanan kita tidak hanya aktif secara lahiriah, tetapi juga mengalir dari hati yang penuh Sabda Tuhan. Sebab hanya dari relasi yang mendalam dengan Kristus, pelayanan kita akan menjadi berkat bagi dunia.

Tuhan memberkati.

** Fr. Bednadetus Aprilyanto

Leave a Reply

Your email address will not be published.