
Permintaan ahli Taurat dan orang Farisi kepada Yesus agar Ia menunjukkan suatu tanda sebenarnya bukanlah permintaan dari hati yang haus akan kebenaran, melainkan dari hati yang keras dan curiga. Mereka telah melihat begitu banyak mukjizat yang Yesus lakukan: menyembuhkan orang sakit, mengusir setan, bahkan membangkitkan orang mati. Namun, semua itu tampaknya belum cukup. Mereka menuntut bukti lebih lagi, bukan karena ingin percaya, tetapi karena enggan untuk percaya.
Yesus menanggapi mereka dengan keras: “Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda, tetapi kepadanya tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus.” Ini adalah pernyataan yang tegas. Yesus menyebut generasi itu jahat dan tidak setia karena mereka menolak percaya bahkan ketika kebenaran ada tepat di depan mata mereka.
Yesus menunjuk pada tanda Yunus: tiga hari tiga malam di dalam perut ikan besar, yang menggambarkan penderitaan, kematian, dan kebangkitan-Nya sendiri. Kebangkitan Kristus menjadi tanda terbesar dalam sejarah keselamatan. Jika seseorang tidak percaya kepada-Nya setelah kebangkitan itu, maka tidak ada tanda apa pun yang akan membuat mereka percaya. Ini adalah peringatan serius bagi siapa saja yang menunda pertobatan dengan alasan belum “melihat cukup bukti.”
Yesus juga menyebut dua tokoh non-Israel: orang-orang Niniwe dan Ratu dari Selatan. Orang Niniwe, yang notabene bangsa kafir, bertobat hanya karena mendengar khotbah Yunus. Ratu dari Selatan rela menempuh perjalanan jauh untuk mendengarkan hikmat Salomo. Tetapi, orang-orang sezaman Yesus yang telah menyaksikan mukjizat, mendengar pengajaran-Nya yang penuh kuasa, justru menutup hati mereka.
Pesannya sangat jelas: kerinduan akan tanda sering kali menjadi pelarian dari tuntutan iman yang sejati. Kita pun bisa jatuh dalam kesalahan yang sama. Kita ingin Tuhan membuktikan kasih dan kuasa-Nya lewat mujizat yang luar biasa, namun kita gagal melihat kasih-Nya dalam hal-hal yang sederhana: dalam perjumpaan dengan sesama, dalam firman yang dibacakan, dalam sakramen yang kita rayakan, dan dalam suara hati kita sendiri.
Yesus mengundang kita untuk membuka hati, bukan menuntut tanda. Dalam kehidupan ini, justru hati yang percaya lebih dahulu yang akan mampu mengenali tanda-tanda kehadiran Allah. Kita tidak kekurangan tanda. Kita hanya perlu kepekaan dan kerendahan hati.
Mari bermenung, Tuhan memberkati.
** Fr. Bednadetus Aprilyanto
