Umat Rayakan Pesta Pelindung dan HUT Ke-53 Paroki St. Maria Diangkat ke Surga Kayu Aro Jambi

“Hari ini kita merayakan syukur berdirinya Paroki dengan pelindungnya Maria Diangkat ke Surga. Umur 53 tahun itu berarti sudah dewasa bahkan mendekati awal tua. Kita diajak untuk belajar dari Bunda Maria karena ketekunan menerima Yesus, mendidik, mendampingi, dan percaya bahwa Yesus adalah Tuhan. Tidak heran Gereja memberikan penghormatan yang paling penuh, yakni Maria pasti diangkat ke Surga”.

Hal ini disampaikan oleh Vikaris Jenderal (Vikjen) Keuskupan Padang, Pastor Florianus Sarno dalam homilinya pada Perayaan Ekaristi Peringatan Pesta Pelindung dan Ulang Tahun ke-53 Paroki St. Maria Diangkat ke Surga Kayu Aro, Jambi, Jumat (15/8/2025) sore.

Pastor Florianus Sarno-Vikaris Jenderal Keuskupan Padang

Tampak hadir mendampingi sebagai konselebran adalah Pastor Paroki St. Maria Diangkat ke Surga Kayu Aro, Pastor Maximus Malaof Kosat; Vikjen Keuskupan Agung Palembang (KAPal) dan Ketua Tim Pemekaran Paroki-Keuskupan KAPal, Pastor Yohanes Kristianto; Anggota Kuria Keuskupan Padang, Pastor Stanislaus Toto Pujiwahyulistianto; anggota Tim Pemekaran KAPal, Pastor Christoforus Wahyu Tri Haryadi SCJ, Pastor Anton Liberto, Pastor Agustinus Giman dan Pastor Titus Jatra Kelana; Pastor Paroki St. Paulus Muara Bungo, Pastor Pankratius R. Boki dan Pastor Kepala Kuasi Paroki St. Maria Bunda Gereja Tebo, Pastor Andreas Eko Wahyudianto.

Vikjen Padang dan Vikjen Palembang berfoto bersama Para Imam Konselebran

Lebih lanjut, dalam perayaan yang dihadiri oleh seratusan umat ini, Pastor Sarno juga menegaskan bahwa Maria adalah model beriman yang setia. “Dari perjalanan iman Maria itu kita bisa belajar bahwa Maria itu tidak pernah berpisah dengan Yesus, Ia selalu setia. Perjalanan iman Maria inilah menjadi model Gereja Katolik, menjadi model beriman kita hingga saat ini”, tegasnya.

Paduan Suara (atas) dan umat yang hadir dalam perayaan HUT Paroki (bawah)

Selayang Pandang Paroki Kayu Aro

Paroki St. Maria Diangkat ke Surga merupakan Paroki yang secara teritorial berada di Bedeng VIII Seberang, Kayu Aro, Sungai Lintang, Kecamatan Kayu Aro Barat, Kabupaten Kerinci, Jambi. Berdirinya komunitas umat Katolik di wilayah ini tak lepas dari hadirnya perkebunan teh Kayu Aro. Perkebunan ini dibuka dan dikelola oleh Perusahaan Belanda bernama NV. Namlodse Venotschaaf Handle Veriniging Amsterdam (HVA) pada tahun 1920. Perusahaan ini mulai melakukan penanaman pada 1923 dan membangun pabrik pengolahan teh pada 1925. Perkebunan ini menjadi perkebunan teh tertua di Indonesia dan menjadi kebun teh tertinggi kedua di dunia, karena berada di ketinggian 1600 mdpl.

Pemandangan Gunung Kerinci dari Kayu Aro

Sejak tahun 1959 lahan perkebunan teh yang luasnya mencapai 2.624,69 Ha berikut pabrik pengolahannya diambil alih oleh Pemerintah Republik Indonesia. Usaha perkebunan ini selanjutnya dikelola oleh PT. Perkebunan Nusantara (PTPN) IV, Regional IV Jambi-Sumatera Barat dan menghasilkan salah satu produk yang diberi nama Teh Hitam Celup Kayu Aro (Highland Tea Since 1920).

Perkebunan Teh PTPN IV di Kayu Aro-Jambi

Dalam kurun waktu yang panjang itu, komunitas umat Katolik pun terbentuk. Mereka umumnya adalah karyawan perkebunan yang berasal dari Pulau Jawa. Mereka dilayani oleh imam Serikat Xaverian yang datang dari Padang, Sumatera Barat.

Penuh Tantangan

Paroki Kayu Aro secara teritorial berada di wilayah Provinsi Jambi, namun sejak awal berdirinya 53 tahun silam, secara gerejani berada dalam reksa pastoral Keuskupan Padang. Pastor Maximus menjelaskan bahwa umat di wilayah ini pada awalnya dilayani oleh para imam misionaris Serikat Xaverian yang datang dari Padang. Pelayanan itu kemudian dilanjutkan oleh para imam diosesan Padang. Keterbatasan tenaga imam yang berkarya di Keuskupan Padang berdampak pada pelayanan umat. “Tidak ada imam yang tinggal menetap dan melayani wilayah ini. Lebih dari 30 tahun umat di wilayah ini tidak mendapat pelayanan pastoral yang memadai. Imam datang satu bulan atau bahkan tiga bulan sekali”, jelas Pastor Maxi.

Pastor Maximus Malaof Kosat-Pastor Paroki St. Maria Diangkat ke Surga Kayu Aro

Menurut Pastor Maxi, kondisi itu berdampak besar terhadap kuantitas atau jumlah umat di wilayah Paroki Kayu Aro. Pembelajaran atau katekese jarang terjadi. Pemahaman dan pengetahuan iman umat sangat terbatas. Akhirnya, banyak umat meninggalkan Yesus, meninggalkan Gereja. “Dulu jumlah umat di Paroki ini cukup banyak. Selain yang berada di pusat paroki, mereka tersebar di banyak stasi, seperti Sungai Penuh, Pengkolan Dua, Plompek, Padang Aro, Kersik Tua, dan beberapa stasi lainnya. Namun, karena kondisi pelayanan yang tidak berjalan dengan baik itu terjadi dalam kurun waktu yang relatif panjang, akhirnya jumlah umat merosot tajam karena banyak umat yang meninggalkan Gereja”, ungkapnya.

Imam lulusan Seminari Tinggi St. Petrus Pematangsiantar ini mengungkapkan bahwa sejak dua tahun terakhir ini ia ditugaskan oleh Uskup Padang, Mgr. Vitus Robianto Solichin SX untuk tinggal menetap dan melayani sebagai Pastor Paroki di Kayu Aro. “Sekarang umat di Paroki ini berjumlah sekitar 300an jiwa dan tersebar di empat stasi, yaitu Bedeng VIII (Pusat Paroki), Stasi St. Paulus Sungai Penuh, Stasi St. Andreas Pengkolan Dua, dan Stasi St. Martinus Padang Aro”.

“Saya rutin melayani Misa, baik hari Minggu maupun Misa Harian. Semua stasi mendapat giliran untuk Misa. Di tengah situasi yang ada, saya hendak menghidupkan kembali kerinduan umat akan Ekaristi. Harapannya, kerinduan itu membuat umat semakin mencintai Ekaristi yang berbuah dalam kesaksian hidup sehari-hari, sehingga akhirnya juga mengundang saudara-saudari yang lain untuk kembali pulang ke rumahnya”, imbuhnya.

“Berbagai tantangan dan pengalaman jatuh bangun yang dialami umat di Paroki ini. Pada akhirnya hari ini umat boleh merayakan ulang tahunnya ke-53. Umat dengan berbagai macam cara, dengan berbagai macam jalan terus mencoba untuk taat, setia kepada Allah dan iman akan Yesus Kristus itu sebagaimana dihidupi Bunda Maria. Semoga di waktu-waktu yang akan datang, iman dan berbagai aspek kehidupan  umat di Paroki ini semakin lebih baik”, harapnya.

Kehadiran Tim Pemekaran KAPal

Vikjen KAPal, Pastor Yohanes Kristianto yang juga ketua Tim Pemekaran Paroki-Keuskupan dalam sambutan singkatnya menjelaskan bahwa wilayah pelayanan Keuskupan Agung Palembang meliputi 3 provinsi, yaitu Sumatera Selatan, Jambi, dan Bengkulu. “Secara pastoral, ada wilayah pelayanan dalam teritorial Provinsi Sumatera Barat yang dilayani oleh Paroki yang berada di wilayah Keuskupan Agung Palembang, seperti Paroki Muara Bungo yang melayani beberapa stasi di Sumbar. Namun, sebaliknya juga ada beberapa komunitas umat di wilayah Provinsi Jambi yang secara pastoral dilayani oleh Keuskupan Padang, seperti di Paroki Kayu Aro ini”, ungkapnya.

Pastor Kristianto bersama Bartolomeus Sapin, salah satu sesepuh umat Kayu Aro

Lebih lanjut, Pastor Kristianto juga menegaskan pentingnya pemetaan wilayah agar pelayanan pastoral semakin baik. “Kami bertemu untuk sekedar melakukan pemetaan. Ada beberapa wilayah yang kemungkinan besar juga akan berubah. Ada perkembangan umat yang sangat luar biasa di wilayah Riau dan Jambi. Kami berkomunikasi terkait dengan itu. Hal ini menjadi penting agar pelayanan umat dapat berjalan maksimal, imam dekat dengan umat dan umat dekat dengan imam”, ungkapnya.

**RD. Titus Jatra Kelana

Foto: Komsos KAPal

Leave a Reply

Your email address will not be published.