Kasih yang Menjadi Mahkota Hidup

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, Injil hari ini berbicara tentang inti dari seluruh hukum dan nubuat: “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap akal budimu. Dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Yesus merangkum semua hukum Taurat ke dalam dua perintah yang sederhana, namun sekaligus sangat mendalam: kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama.
Kedua hukum ini ibarat dua tiang penopang yang tak terpisahkan. Jika kita hanya mengasihi Allah tetapi tidak sesama, iman kita menjadi kering dan palsu. Sebaliknya, jika kita hanya berbuat baik kepada sesama tanpa berakar pada kasih Allah, maka kasih itu mudah pudar, bisa berubah menjadi sekadar kewajiban sosial atau pencarian nama baik. Kasih yang sejati selalu berakar pada Allah dan berbuah bagi sesama.
Hari ini Gereja merayakan Pesta Santa Perawan Maria Ratu. Pesta ini mengingatkan kita bahwa Maria dimahkotai sebagai Ratu Surga, bukan karena kekuasaan duniawi, melainkan karena kesetiaannya dalam mengasihi Allah dan sesama. Maria hidup total dalam kasih kepada Allah: “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataan-Mu.” (Luk 1:38). Dari ketaatan dan kasihnya kepada Allah, Maria juga mengasihi sesama, hadir bagi Elisabet, peduli pada kebutuhan pesta di Kana, dan berdiri teguh di kaki salib mendampingi Yesus hingga akhir.
Maria dimahkotai sebagai Ratu karena ia sungguh menghidupi hukum kasih yang diajarkan Yesus. Kasih kepada Allah dan sesama menjadi jalan hidupnya. Mahkota Maria bukanlah tanda kejayaan pribadi, melainkan buah dari kerendahan hati, kesetiaan, dan kasih yang murni. Inilah yang membuat Maria pantas menjadi teladan kita.
Saudara-saudari, melalui Injil dan peringatan hari ini, kita diajak untuk belajar dari Maria agar kasih menjadi mahkota hidup kita. Kita dipanggil untuk lebih tekun mengasihi Allah dengan doa, Ekaristi, dan ketaatan pada firman-Nya. Pada saat yang sama, kita dipanggil untuk menunjukkan kasih kepada sesama dalam hal-hal sederhana: mengampuni, menolong yang lemah, mendengarkan dengan sabar, dan membangun perdamaian.
Jika Maria dimahkotai sebagai Ratu karena kasihnya, maka kita pun akan dimahkotai di surga jika hidup kita sungguh berakar dan berbuah dalam kasih. Sebab pada akhirnya, yang dinilai Tuhan bukan banyaknya kata-kata atau besarnya prestasi, tetapi sejauh mana kita sungguh mengasihi.
Mari bermenung, Tuhan memberkati. Amin.
**Fr. Bednadetus Aprilyanto
