Suasana Seminari Menengah Santo Paulus Palembang pada Sabtu (25/10/2025) pagi tampak berbeda. Aktivitas harian yang biasa dimulai pukul 04.30 WIB, hari ini dimulai lebih cepat. Tepat pukul 04.00 WIB para seminaris telah berkumpul dan berdoa bersama untuk mengawali rangkaian kegiatan ziarah Porta Sancta Tahun Yubileum 2025 ke Taman Doa Via Crucis Sukamoro, Banyuasin.
Buku Pedoman Formatio yang menjadi acuan pembinaan seminari menegaskan bahwa ziarah adalah salah satu kegiatan rutin seminari yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Oktober (bulan Rosario) dan dibingkai dengan long march yaitu berjalan kaki dalam kelompok menempuh jarak tertentu menuju tempat tujuan. Tujuan kegiatan ini antara lain untuk membina hidup rohani, mengembangkan semangat kerja sama, persaudaraan, kepedulian, dan daya juang. Salah satu agenda rutin tahunan seminari ini dibingkai dalam perayaan Tahun Yubileum yang dilaksanakan dalam bentuk long march,.

Usai doa bersama, para seminaris yang berjumlah 100 orang mulai berjalan berjalan kaki berkelompok menempuh perjalanan sejauh 22 km. Seminaris SMA memakai seragam pramuka dan seminaris Rhetorica memakai baju hitam sebagai tanda pengenal. Suasana penuh sukacita dan kebersamaan begitu mengemuka. Rektor Seminari, Pastor Titus Waris Widodo SCJ dan beberapa pembina lainnya juga turut hadir dan berjalan bersama para seminaris.

Langit masih gelap, lampu-lampu jalan masih terang bernyala, di beberapa titik jalan yang dilalui bahkan tampak gelap tanpa penerangan. Lalu lintas jalan juga masih lengang. Salah seorang seminaris bernama Dimas mengungkapkan perasaannya. “Rute perjalanan ini cukup menantang, mengingat jarak yang harus ditempuh dari seminari menuju Via Crucis Sukamoro bukanlah jarak yang dekat. Namun, semangat dan tekad kami tidak luntur, meski lelah dan ada juga yang mengeluh, kami tetap saling mnedukung, terus melangkah dengan sukacita,” tuturnya.
Perjalanan tersebut juga menjadi kesempatan bagi para seminaris untuk semakin mendalami tema Tahun Pembinaan 2025 yang sejalan dengan tema Tahun Yubileum, yaitu Spes Non Confundit (Pengharapan Tidak Mengecewakan). Para seminaris diajak untuk merasakan sendiri betapa setiap langkah dalam kehidupan, baik yang penuh kebahagiaan maupun tantangan, harus dihadapi dengan penuh harapan dan keyakinan bahwa Tuhan selalu menyertai mereka. Meskipun perjalanan jauh dan penuh tantangan, para seminaris meyakini bahwa setiap langkah yang mereka tempuh akan membawa mereka lebih dekat kepada Tuhan dan pengertian yang lebih mendalam tentang makna pengorbanan dan cinta kasih Kristus.

Setelah menempuh perjalanan panjang itu, akhirnya pada pukul 09.00 WIB seluruh seminaris telah tiba di di Taman Doa Via Crucis Sukamoro. Ada sukacita yang meluap dan rasa syukur mendalam yang terungkap, mengalahkan rasa lelah perjalanan. Sajian sarapan yang telah tersaji pun dinikmati bersama dengan penuh persaudaraan.
Selanjutnya, usai sarapan, para seminaris menerima materi tentang pengertian, sejarah dan makna ziarah Porta Sancta yang disajikan oleh Direktur Spiritual Seminari St. Paulus, Pastor Robertus Susilo Haryono SCJ. Dalam paparannya ia menjelaskan bahwa bagi Gereja Katolik Tahun Yubelium merupakan tahun yang istimewa dan penuh berkat, menjadi kesempatan untuk merayakan belas kasih dan karya keselamatan Tuhan, bertobat, dan memperbarui hidup.
“Melintasi Porta Sancta memiliki makna penghapusan dosa atau pertobatan, dan pembaharuan iman,” ungkapnya.
Setelah mendengarkan materi, kegiatan dilanjutkan dengan Ibadat Jalan Salib, merenungkan makna pengorbanan dan penderitaan Kristus dan sharing kelompok, berbagi makna panggilan, pengharapan, dan peran Bunda Maria dalam perjalanan hidup panggilan masing-masing.

Mewakili kelas Rhetorica, Pancratius Victor menuturkan bahwa pengalaman ziarah dan long march hari ini meneguhkan semangat panggilannya sebagai calon imam. “Melalui ziarah ini, para seminaris tidak hanya melakukan perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan batin yang mendalam. Ziarah ini juga mempererat rasa persaudaraan dan kebersamaan di antara para seminaris. Meskipun kami datang dari berbagai latar belakang, tapi kami semua memiliki tujuan yang sama yakni untuk mengenal dan mengikuti Yesus Kristus lebih dekat lagi,” ungkapnya.
Pengalaman ziarah ini menurutnya juga semakin menyadarkan seminaris bahwa iman, doa, ketekunan, dan harapan adalah kekuatan yang mampu membawa mereka melewati setiap tantangan dalam hidup. “Kegiatan ini tidak hanya mengajarkan kami tentang nilai-nilai iman, tetapi juga tentang pentingnya kebersamaan, pengorbanan, dan ketekunan dalam menggapai tujuan hidup yang lebih mulia sebagai calon imam, pemimpin Gereja masa depan. Terus berjuang, berdoa dan berharap, karena pengharapan tidak pernah mengecewakan.”
Rangkaian ziarah ini ditutup dengan Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Praefect Disciplinae seminari, Pastor Petrus Sukino.
**Albertus Dimas dan Pancratius Victor Ananta-Seminaris Kelas Rhetorica
Foto: Dokumentasi Seminari Palembang
