Renungan Harian Selasa, 11 November 2025

PW St. Martinus dr Tours, Uskup

Keb. 2:23 – 3:9; Mzm. 34:2-3,16-17,18-19; Luk. 17:7-10; BcO Yeh. 8:1-6a,16-9:11; (P)

Like dan Subscribe.

Melayani Tanpa Like & Subscribe

Saudara-saudari yang terkasih, sering kali tanpa kita sadari, hati kita sebenarnya rindu akan pengakuan. Setelah melakukan sesuatu yang baik, muncul keinginan untuk dihargai, ingin mendengar orang berkata, “Terima kasih, kita hebat, kita luar biasa.” Kita ingin usaha kita dilihat dan jerih payah kita dianggap berarti. Namun Yesus, melalui perumpamaan tentang seorang hamba dalam Injil hari ini, mengajak kita untuk merenungkan kembali isi hati kita. Ia bertanya: apakah seorang tuan akan berterima kasih hanya karena hambanya sudah melakukan tugasnya? Tentu saja jawabannya tidak.

Sekilas, perkataan Yesus ini terdengar keras, seolah-olah apa yang kita lakukan tidak ada nilainya. Tetapi sebenarnya, Yesus ingin membuka mata kita terhadap sesuatu yang halus namun nyata, yaitu kerinduan untuk dipuji dan kebutuhan untuk diakui. Padahal, setiap kebaikan yang kita lakukan entah melayani, menolong, mengampuni, atau berkorban bukanlah alasan untuk bermegah diri. Semua itu hanyalah ungkapan syukur kecil atas kasih Allah yang lebih dulu kita terima.

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, kita semua adalah hamba-hamba yang dicintai. Hidup, nafas, dan bahkan kesempatan untuk berbuat baik pun adalah anugerah murni dari Tuhan. Maka, apa lagi yang dapat kita banggakan? Setelah melakukan segala sesuatu yang bisa kita lakukan, kata yang paling pantas keluar dari mulut kita hanyalah, “Tuhan, aku hanyalah hamba-Mu. Aku tidak mencari pujian, sebab Engkau sudah lebih dulu mengasihiku.”

Kerendahan hati yang diajarkan Yesus bukanlah sikap minder atau merasa diri hina, melainkan kesadaran bahwa segala sesuatu berasal dari Tuhan. Di situlah letak kebebasan yang sejati. Saat kita tidak lagi menuntut ucapan terima kasih, hati kita menjadi ringan untuk memberi. Saat kita tidak lagi mengejar pengakuan, jiwa kita menjadi damai dalam pelukan kasih-Nya.

Maka marilah kita belajar memberi tanpa menuntut balasan, melayani dalam diam, dan berkorban tanpa berharap pujian. Sebab kebahagiaan sejati bukanlah ketika manusia menepuk bahu kita, melainkan ketika Tuhan tersenyum melihat ketulusan hati kita. Dan ketika akhirnya kita hanya bisa berkata, “Kami adalah hamba-hamba yang tak berguna; kami hanya melakukan apa yang memang harus kami lakukan,” pada saat itulah Tuhan dimuliakan, dan hati kita dipenuhi sukacita yang tak ternilai. Semoga Tuhan memberkati kita semua.


**Fr Pius Gusnius – Tingkat 4

Foto: Pinterest

Leave a Reply

Your email address will not be published.