Tim Bina Lanjut FKPR Regio Sumatera Dalami Arah Baru SAGKI dalam Studi Bersama di Bandung

Tim Bina Lanjut Forum Komunikasi Pimpinan Religius (FKPR) Provinsi Gerejawi Sumatera Bagian Selatan menggelar kegiatan Studi Bersama dalam rangka menghayati arah baru hasil Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia (SAGKI) 2025, dengan tema “Menghayati Arah Baru SAGKI: Pembaruan Hidup Religius dalam Tantangan Kekinian”. Kegiatan ini berlangsung pada 21–24 Januari 2026 di Wisma Bumi Silih Asih, Pusat Pastoral Keuskupan Bandung.

Sr. Winanda HK, sebagai koordinator Tim Bina Lanjut FKPR menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari agenda di tahun 2025. “Sulitnya menemukan waktu di tengah kesibukan masing-masing membuat agenda studi bersama ini baru bisa dilaksanakan di awal 2026,” ungkapnya.

Secara khusus, sesi sharing dan studi bersama dilaksanakan pada 21-22 Januari 2026, sebagai ruang refleksi dan pendalaman bersama bagi para koordinator dan pendamping bina lanjut hidup religius.

Tim Bina Lanjut FKPR Regio Sumatera sedang mendalami materi bersama.
| Foto: Dok. Pribadi

Sharing Lintas Kongregasi: Berjalan Bersama dan Saling Belajar

Hari pertama, 21 Januari 2026, diisi dengan sharing lintas kongregasi. Para peserta saling berbagi pengalaman mengenai pelaksanaan ongoing formation di masing-masing tarekat, sekaligus mengungkapkan tantangan nyata yang dihadapi para religius di tengah tuntutan pelayanan yang semakin kompleks.

Forum ini menegaskan pentingnya bina lanjut sebagai proses berjalan bersama, bukan sekadar pelaksanaan program. Melalui dialog terbuka dan saling mendengarkan, para peserta diajak untuk melihat bina lanjut sebagai ruang perjumpaan dan peneguhan panggilan lintas kongregasi.

Pendalaman Arah Baru SAGKI 2025

Pada hari kedua, 22 Januari 2026, studi bersama dilanjutkan dengan pendalaman materi oleh Vikaris Jenderal Keuskupan Bandung, Romo FX Wahyu Tri Wibowo. Dalam paparannya, Romo Wahyu menegaskan bahwa arah baru SAGKI mengajak Gereja untuk menghayati sinodalitas sebagai cara hidup.

“SAGKI 2025 menegaskan bahwa sinodalitas bukan sekadar program pastoral, melainkan cara hidup Gereja: berjalan bersama, saling mendengarkan, dan bersama-sama membedakan kehendak Allah,” ujar Romo Wahyu.

Imam kelahiran Klaten, Jawa Tengah ini menekankan bahwa hidup bakti dan imamat perlu dipahami sebagai sebuah ziarah yang terus berlangsung, bukan kondisi yang sudah selesai.

“Hidup bakti dan imamat bukan kondisi yang sudah selesai, melainkan sebuah ziarah. Peziarah bukan orang yang berhenti, tetapi orang yang terus berjalan, meski jalannya berubah,” lanjutnya.

Diskusi bersama Tim Bina Lanjut FKPR Regio Sumatera.
| Foto: Dok. Pribadi

Gereja sebagai Ruang Pemulihan

Dalam konteks tantangan kekinian, Romo Wahyu juga menyoroti realitas kelelahan batin yang kerap dialami para pelayan Gereja. Ia mengajak Gereja—dan secara khusus bina lanjut hidup religius—untuk menghadirkan wajah Gereja sebagai ruang pemulihan.

“Di balik wajah pelayanan yang tampak kuat dan sibuk, banyak pelayan Gereja sesungguhnya sedang lelah secara batin. Karena itu Gereja dipanggil menjadi rumah sakit lapangan: tempat luka disembuhkan, bukan dihakimi,” tegasnya.

Pendampingan bina lanjut, menurutnya, perlu ditandai oleh kehadiran yang menerima, dialog yang jujur, dan diskresi rohani, terutama bagi para religius yang sedang berada dalam masa transisi hidup dan pelayanan.

Memaknai Perubahan Tahap Hidup

Romo Wahyu juga menegaskan bahwa perubahan tahap hidup—khususnya pada masa medior dan senior—bukanlah kemunduran, melainkan bagian dari kematangan panggilan.

“Ketika karya berkurang, kedalaman iman justru dapat bertambah; ketika suara tidak lagi lantang, kehadiran menjadi kesaksian,” ungkapnya.

Ia menekankan bahwa kesetiaan dalam hidup religius tidak diukur dari lamanya memegang jabatan atau karya, melainkan dari kedalaman iman yang dijalani sampai akhir.

Pembinaan Berkelanjutan sebagai Murid Kristus

Hari ketiga rangkaian kegiatan studi, refleksi dan rekreasi diawali dengan perayaan Ekaristi yang dipimpin Uskup Keuskupan Bandung, Mgr. Antonius Subianto Bunjamin OSC. Dalam homilinya, Bapa Uskup menegaskan perlunya pembinaan terus menerus bagi imam, biarawan, biarawati karena tidak semua yang terpanggil bisa bertahan sampai mati.

“Banyak dari mereka yang menunjukkan pelayanan yang sangat mengagumkan, terutama pada masa mudanya. Tetapi tidak semua dapat setia konsisten dan konsekuen dengan komitmennya hingga hari tua, bahkan sampai mati,” ungkap uskup yang saat ini juga menjadi Ketua KWI ini.

Selain itu, Mgr. Anton menggarisbawahi tiga tugas sebagai murid-murid Kristus.

Pertama, sebagai asisten Tuhan, murid Kristus dipanggil untuk tinggal dekat dengan Tuhan melalui doa dan refleksi hidup.

Kedua, sebagai loudspeaker Tuhan, murid Kristus dituntut untuk terus-menerus setia mendengarkan dan merenungkan Kitab Suci agar mampu mewartakan Sabda dengan setia.

Ketiga, sebagai CEO-nya Tuhan, murid Kristus dipanggil untuk mengelola dan mewujudkan karya Tuhan secara konkret di dunia dengan penuh tanggung jawab, integritas, dan semangat pelayanan.

Mgr. Anton memberikanhomilinya dalam pertemuan Tim Bina Lanjut FKPR Regio Sumatera.
| Foto: Dok. Pribadi

Peserta dan Harapan

Kegiatan ini diikuti oleh 19 peserta, yang terdiri dari anggota Tim Bina Lanjut FKPR serta anggota tim bina lanjut dari berbagai kongregasi, yaitu SCJ, SSCC, FSGM, HK, FCh, KKS, dan SJD.

Melalui studi bersama ini, Tim Bina Lanjut FKPR berharap semakin dimampukan untuk merumuskan langkah-langkah konkret pembinaan berkelanjutan yang setia pada arah baru SAGKI, relevan dengan tantangan zaman, serta sungguh menghadirkan Gereja sebagai komunitas yang berjalan bersama, memulihkan, dan meneguhkan para religius sebagai peziarah pengharapan.

Dua hari terakhir dipakai untuk outing ke sejumlah tempat di sekitar Bandung dan penegasan bersama sebelum kembali ke tempat karya masing-masing.

***Romo Stepanus Sigit Pranoto SCJ (Kontributor Palembang)

Leave a Reply

Your email address will not be published.