Menemani “Generasi Gelisah”: OMK Butuh Kehadiran, Bukan Sekadar Program

Menghadapi zaman yang terus berubah, Orang Muda Katolik (OMK) saat ini sering kali terjebak dalam rasa gelisah, mulai dari bingung menentukan pilihan hidup hingga masalah kesehatan mental. Menanggapi realitas ini, Komisi Kepemudaan (Komkep) dari enam keuskupan di Regio Sumatera berkumpul untuk merefleksikan kembali cara mendampingi anak muda agar tidak sekadar membuat acara, melainkan hadir sebagai sahabat perjalanan.

Bukan Sekadar Angka, Tapi Soal Hati

Dalam sesi kedua pertemuan yang digelar di Rumah Retret Giri Nugraha (RRGN) Palembang, Kamis (5/2/2026), Romo Frans Kristi Adi Prasetya selaku Sekretaris Eksekutif Komkep KWI memaparkan fakta yang cukup menantang. Meski jumlah OMK di Indonesia mencapai sekitar empat juta orang, nyatanya masih sedikit dari mereka yang aktif terlibat dalam kehidupan Gereja.

Romo Frans Kristi Adi Prasetya menyampaikan materinya. | Foto: Komsos KAPal

Penyebabnya sederhana namun mendalam: OMK kurang ditemani. Romo Kristi menekankan bahwa anak muda tidak butuh dijejali banyak program, melainkan membutuhkan kehadiran pendamping yang mau berjalan bersama mereka. “Hati setiap orang muda adalah tanah yang kudus,” ungkapnya, mengingatkan para pendamping untuk mendekati hidup anak muda dengan penuh hormat dan kasih.

Mengubah Gelisah Menjadi Tenaga

Gelisah tidak selalu buruk. Merujuk pada nasihat Paus Fransiskus dalam Christus Vivit, ada yang disebut “kegelisahan sehat”—yaitu dorongan yang membuat anak muda berani mengambil tanggung jawab dan melangkah maju.

Salah satu poin penting dalam pertemuan ini adalah perlunya pembinaan yang berkelanjutan sesuai jenjang usia, atau disebut permanent formation. Pada jenjang SMP (13–15 tahun) mereka dibantu untuk fokus mengenal jati diri; pada jenjang SMA (16–18 tahun) mereka diajak belajar mengambil keputusan dan bertanggung jawab; pada jenjang Dewasa Awal (19–25 tahun) mereka diarahkan untuk fokus pada perutusan, profesionalitas, dan persiapan hidup berkeluarga; dan pada jenjang Dewasa Muda (26–40 tahun) mereka menyadari saatnya membimbing generasi di bawahnya.

Tantangan dan Peluang

Pertemuan ini ditutup dengan sesi self assessment untuk memetakan tantangan dan peluang di setiap keuskupan. Sesi ini dipandu secara daring oleh Dessi, salah satu anggota Komkep KWI. Pesan utamanya jelas: pendampingan OMK adalah sebuah proses panjang yang setia, bukan sekadar urusan organisasi, agar mereka siap menjadi pembawa perubahan di Tengah Gereja dan masyarakat.

***Diakon Bednadetus Aprilyanto

Leave a Reply

Your email address will not be published.