
“Perayaan hari ini mengajak kita semua yang sakit dan menderita untuk tidak merasa terbuang atau menjadi beban, karena Allah itu peduli dan Yesus adalah sumber kekuatan kita.”
Demikian diungkapkan oleh Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Palembang, Romo Yohanes Kristianto dalam renungannya saat memimpin Perayaan Ekaristi Peringatan Hari Orang Sakit Sedunia ke-34 di Gereja Paroki Santo Yoseph Palembang pada Sabtu (14/2/2026) pagi. Sejumlah imam tampak hadir mendampingi sebagai konselebran, di antaranya Pastor Paroki St. Yoseph, Romo Hyginus Gono pratowo.

Perayaan iman yang dihadiri ratusan umat ini menjadi momen yang sangat emosional karena para penderita sakit, termasuk mereka yang harus duduk di kursi roda, hadir untuk menerima minyak urapan suci sebagai simbol penguatan batin.
Bukan Sekadar Teori, Tapi Aksi Nyata
Dalam homilinya, Romo Kristianto mengingatkan bahwa penderitaan bukanlah akhir dari segalanya. Beliau menekankan beberapa poin penting bagi seluruh umat. Pertama, bagi yang sakit jangan terjebak dalam belenggu penyesalan atau rasa bersalah. Iman adalah kunci penyembuhan batin yang utama; Kedua, bagi keluarga pendampingan tidak boleh hanya sebatas teori atau sekadar memberikan obat medis. Keluarga dipanggil untuk menjadi “tanda kehadiran Yesus” dengan menemani secara ikhlas dan penuh kasih, dan Ketiga, bagi yang sehat solidaritas sejati berarti ikut merasakan penderitaan mereka yang lemah.

Kehadiran Allah dalam Kerapuhan
Pesan utama dari perayaan yang mengusung tema Belas Kasih Orang Samaria: Mengasihi dengan Menanggung Derita Orang Lain ini adalah menegaskan kembali bahwa setiap manusia, dalam kondisi fisik apa pun, tetap berharga di mata Tuhan. Pendekatan kasih sayang seringkali menjadi “obat” yang lebih manjur daripada sekadar penanganan medis biasa.
Perayaan Ekaristi ini ditutup dengan harapan agar semangat kepedulian ini terus hidup di tengah keluarga, menghadirkan kasih Allah langsung kepada mereka yang sedang berjuang melawan penyakit.
***B. Endah Tri L (Kontributor Palembang)
