Umat Paroki St. Fransiskus de Sales (Sanfrades) Palembang memasuki masa pantang dan puasa tahun 2026 melalui perayaan Misa Rabu Abu yang berlangsung pada Rabu (18/2). Suasana penuh khidmat ini menjadi penanda dimulainya perjalanan pertobatan dan pembaruan hidup bagi ribuan umat selama masa Prapaskah.

Keterlibatan Generasi Muda
Kekhidmatan Perayaan Ekaristi sudah terasa sejak pagi hari pada misa pukul 07.00 WIB. Menariknya, perayaan ini didominasi oleh kehadiran dan peran aktif siswa-siswi sekolah Xaverius. Mereka tidak hanya hadir sebagai peserta, tetapi juga mengambil peran vital sebagai petugas koor, lektor, pemazmur, hingga tata laksana.

Meskipun didominasi anak sekolah, banyak pula umat paroki dan tamu dari luar yang ikut memadati gereja hingga tidak ada kursi yang tersisa.
Antusiasme Meluap di Misa Sore
Semangat yang sama berlanjut pada perayaan kedua pukul 18.00 WIB. Antusiasme umat yang luar biasa membuat kapasitas di dalam gereja tidak mencukupi, sehingga sebagian umat harus menempati area aula. Meski begitu, suasana tetap berlangsung sangat khusyuk saat umat satu per satu menerima tanda abu di dahi mereka.

Pesan Pertobatan: Dari Hati ke Aksi Nyata
Misa sore dipimpin oleh Pastor Paroki Sanfrades, Romo Petrus Haryanto SCJ. Dalam homilinya, beliau menekankan bahwa abu bukan sekadar simbol fisik, melainkan lambang hati yang hancur dan rendah di hadapan Tuhan.
“Tanda abu ini mengajak kita untuk memiliki hati yang remuk dan rendah di hadapan Tuhan, tetapi juga menghantar kita pada pertobatan yang batiniah sekaligus lahiriah,” tegasnya.
Beliau juga mengingatkan bahwa inti dari puasa dan pantang bukan hanya soal perubahan batin, melainkan harus terwujud dalam tindakan kasih yang nyata kepada sesama manusia. Melalui momen ini, umat Paroki Sanfrades diharapkan dapat menjalani masa Prapaskah dengan kesederhanaan hidup dan komitmen untuk terus berbagi, menghadirkan buah-buah kasih dalam kehidupan sehari-hari.
***Fr. Simeon Sanjaya SCJ (Kontributor Paroki Sanfrades)
