“Selamat Jalan, Romo Semar” : Kenangan Romo Petrus Santoso SCJ tentang Romo Teja

Setelah bergumul dengan penyakit yang dideritanya, Romo Teja berserah kepada yang memberi hidup dalam kata-kata Pater Dehon, “Untuk Dia aku hidup, untuk Dia aku mati.” Sakit dan penderitaan Romo Tejo telah selesai dan Dia kembali ke Rumah Bapa dalam keabadian tanggal 21 Februari 2026.

Banyak kenangan yang mengesan di saat berjumpa dengan Romo Teja, konfraterku ini.

Pertama, Suatu hari saya menyapa beliau dan memanggilnya, “Hi, Romo Semar”. Lalu reaksi beliau adalah “Huss, bukan Semar tetapi Bagong”. Saya kaget, tetapi saya bahagia, karena beliau tidak marah. Alasan saya spontan memanggilnya “Romo Semar”, karena penampilannya yang unik: Badannya pendek, perutnya buncit besar, cara berjalannya khas, juga gaya bicaranya, khususnya intonasinya istimewa.

Kedua, Saya dan Romo Tejo sama-sama dekat dengan Romo Martin Van Ooij SCJ. Romo Tejo bertemu Romo Van Ooij di Paroki Kota Gajah dan Saya berjumpa dengan Romo Van Ooij di Way Abung II (Stasi Purbasakti) dan Paroki Kalirejo. Kemudian kami sama-sama mengikuti jejak Romo Van Ooij SCJ. Romo Tejo menjadi misionaris di India dan saya di ICA (International Community of Asia). Juga kami bertiga pernah berkarya di Paroki Santo Stefanus Cilandak Jakarta Selatan. Intinya, kami mengikuti jejak “Sang Mahaguru: Romo Van Ooij SCJ”.

Ketiga, Romo Tejo adalah satu pribadi yang kukagumi dalam menyampaikan ide-idenya, khususnya dalam tulisan-tulisanku di Tabloid Communio, bagian konsultasi keluarga. Sebab, beliau menguasai Bidang Konseling. Dan di saat memberikan Retret, Rekoleksi, Seminar dan Workshop. Ide-idenya bernas. Meskipun tidak begitu aktif, refleksi renungan-renungannya di sampaikan lewat YouTube (Audio).

Jika diteruskan banyak karya beliau untuk Konggregasi dan Keuskupan. Beliau ada Romo yang bertalenta dalam memberikan Retret, Rekoleksi, Seminar, dan Workshop. Tutur bahasanya sistematis dan penuh “joke”. Cara bicara dan penampilannya saja sudah mengundang tawa: Rambutnya yang ikal-lembut, kaca matanya yang kecil, dan kalau berbicara sering diselipi dengan Bahasa Inggris.

Tapi yang bandel dan “ngeyel” jika diingatkan adalah suka makan. Apalagi jika makan B2. Beberapa kali terdengar di telingaku reaksinya itu: Beliau ingin hidup bahagia dan mati juga bahagia.

Romo Tejo, semoga engkau benar-benar bahagia. Romo tidak sakit lagi. Romo tidak menderita lagi. Dan sekarang engkau hidup bahagia bersama Bapa di surga.

Romo selamat jalan. Saya akan merindukan senyummu itu. Dan tentunya saya akan tetap memanggilmu: “Romo Semar”. Jangan marah ya Romo. RIP.

Macau, 22 Februari 2026

***Romo Petrus Santoso SCJ

Leave a Reply

Your email address will not be published.