
Kongres II Komunitas Devosional Kerahiman Ilahi resmi dibuka dengan Perayaan Ekaristi pada Jumat (27/2) pukul 15.30 WIB di Rumah Retret Giri Nugraha KM 7 Palembang. Perayaan tersebut dipimpin oleh Uskup Emeritus Keuskupan Agung Palembang, Mgr. Aloysius Sudarso SCJ didampingi sejumlah imam konselebran, di antaranya Moderator Devosional, Romo Petrus Sukino dan Moderator Kerahiman Ilahi, Romo Yohanes Rettob MSC.
Dalam homilinya, Mgr. Aloysius Sudarso menegaskan bahwa salah satu bentuk nyata kerahiman Allah adalah keputusan-Nya mengutus Yesus Kristus menjadi manusia. “Kerahiman Allah melampaui kemampuan manusia,” ujarnya.

Menurutnya, kerahiman merupakan wujud kasih Allah. Kasih itu selalu mengasihi dan memberi. Anugerah terbesar yang diberikan kepada manusia adalah kehidupan, yang memang berakhir dengan kematian. Namun, melalui Yesus Kristus, kematian telah dikalahkan.
Mgr. Sudarso juga menyinggung spiritualitas Santa Faustina Kowalska, yang dikenal sebagai rasul Kerahiman Ilahi. Ia menekankan bahwa Santa Faustina sungguh merenungkan Allah yang maha pengasih dan membangun relasi yang mendalam dengan-Nya.
“Kita harus memiliki relasi yang sungguh dengan Tuhan seperti Santa Faustina, bukan hanya sebatas doa,” katanya.

Ia mengingatkan bahwa devosi tidak berhenti pada praktik doa, tetapi harus memfasilitasi relasi pribadi dengan Tuhan sekaligus mendorong umat untuk menghadirkan kasih kepada sesama. Kerahiman Allah, lanjutnya, tidak hanya dikenangkan dalam Perayaan Ekaristi, tetapi juga diwujudkan dalam tindakan kasih konkret.
“Agama tanpa relasi adalah penyembahan berhala. Kita beragama dan berdevosi karena kita mau berelasi dengan Tuhan sendiri,” tegasnya.
Sebagai umat yang telah dibaptis dan merayakan Ekaristi, kata dia, umat beriman bersentuhan sekaligus berkomunikasi dengan Allah sendiri, dalam segala situasi kehidupan baik dalam sakit, kemalangan, maupun kebahagiaan.

Ia berharap Kongres II ini semakin meneguhkan anggota komunitas untuk bertumbuh dalam iman dan menjadi tanda hidup Kerahiman Ilahi di tengah keluarga, Gereja, dan masyarakat.
“Hati dari semua devosi adalah iman. Karena kita beriman, kita menghayati kerahiman Allah dalam hidup kita. Semoga kongres ini membawa berkat bagi Gereja dan dunia, serta kerasulan ilahi semakin nyata dalam wajah Gereja di tengah dunia,” tandasnya.
***Yuyuani Daro
