Wujudkan Gereja yang Berbelarasa: Keuskupan Agung Palembang Dorong Gerakan Tangguh Bencana

Peserta Hari Studi Imam | Foto : Komsos KAPal

Menghadirkan kasih melalui tindakan nyata bagi sesama yang membutuhkan menjadi inti dari Gerakan Paroki Tangguh Bencana. Hal ini ditegaskan dalam materi yang disampaikan oleh Frans Rudy Raka dari Caritas Indonesia-Yayasan Karina KWI pada rangkaian Hari Studi Imam Keuskupan Agung Palembang (KAPal) di Wismalat Podomoro, Selasa (3/3/2026).

Gerakan Paroki Tangguh bukan sekadar program struktural, melainkan sebuah gerakan penyadaran untuk menciptakan budaya berbelarasa. Melalui konsep ini, Gereja di tingkat paroki diajak untuk memiliki kesiapan mandiri dalam menghadapi bencana, mulai dari tahap pra-bencana, tanggap darurat, hingga pasca-bencana dengan mengoptimalkan sumber daya lokal.

Konsep Dasar dan Karakteristik Paroki Tangguh 

Frans Rudy Raka menjelaskan bahwa konsep dasar Gerakan Paroki Tangguh bertumpu pada tiga pilar utama. Pertama, sebagai gerakan penyadaran untuk membangun budaya peduli. Kedua, adanya unit pelayanan pastoral khusus, seperti Caritas Paroki, yang bertanggung jawab mengoordinasikan karya amal kasih secara teratur. Ketiga, perwujudan aksi nyata Gereja dalam mengelola sumber daya paroki saat situasi darurat terjadi.

Frans Rudy Raka | Foto : Komsos KAPal

Ia juga memaparkan tiga komponen kunci yang harus diperkuat untuk mencapai ketangguhan tersebut, yaitu peningkatan kapasitas, keterampilan, dan pengetahuan layanan kemanusiaan yang efektif, kolaborasi dan koordinasi dengan berbagai pihak, serta kemitraan yang handal dalam upaya penyelamatan nyawa dan pemulihan pascabencana.

Pesan Mgr. Aloysius Sudarso SCJ: Dimulai dari Akar Rumput

Uskup Emeritus KAPal sekaligus Ketua Caritas Indonesia-Karina KWI, Mgr. Aloysius Sudarso SCJ, memberikan penegasan spiritual yang mendalam atas gerakan ini. Beliau menyampaikan bahwa gerakan Paroki Tangguh Bencana tidak boleh berhenti pada level pimpinan, tetapi harus dimulai dari unit terkecil yaitu Komunitas Basis Gerejani (KBG).

“Gerakan ini harus menyentuh masyarakat luas karena kita memiliki tanggung jawab moral atas keselamatan manusia dan seluruh ciptaan,” ungkap Mgr. Sudarso.

Beliau menekankan bahwa sikap dasar yang wajib dimiliki oleh setiap pelayan dan umat adalah belarasa, sebuah sikap yang mampu menerjemahkan cinta kasih Allah ke dalam tindakan konkret di tengah penderitaan sesama.

Sesi tanya jawab| Foto : Komsos KAPal

Bukan Sekadar Program Tambahan 

Dalam sesi pendalaman, ditekankan bahwa paroki tangguh adalah konsekuensi iman sebagai “garam dan terang dunia”. Melalui peta jalan (road map) yang jelas, mulai dari komitmen, pembentukan tim, hingga kajian risiko partisipatif diharapkan setiap paroki di KAPal tidak lagi berjalan sendiri-sendiri, melainkan bersinergi dalam persaudaraan demi ketangguhan dan keberlanjutan.

Kegiatan ini diharapkan mampu mengubah cara pandang paroki dari yang sebelumnya hanya bersifat reaktif menjadi lebih proaktif dan terencana dalam menghadapi berbagai ancaman bencana di wilayah masing-masing.

***TJK (Redaksi)

Leave a Reply

Your email address will not be published.