Rekoleksi Imam Jelang Misa Krisma, Mgr. Yohanes Harun Yuwono: Biarkan Kristus ‘Manjing’ dan Merasuk dalam Nadi Pelayanan Kita

Di tengah kesibukan menyusun strategi pastoral, para imam Keuskupan Agung Palembang (KAPal) diajak berhenti sejenak untuk menatap dasar terdalam dari pelayanan mereka, yaitu Ekaristi. Dalam suasana penuh persaudaraan di Wismalat Podomoro, Kamis (5/3/2026) pagi, sebuah refleksi tajam mengalir tentang bagaimana Tuhan yang agung merendahkan diri demi memeluk kerapuhan manusia.

Mgr. Yohanes Harun Yuwono memberikan rekoleksi. | Foto: Komsos KAPal

“Ekaristi bukan sekadar ritual nostalgia, melainkan peristiwa di mana Allah tidak malu hadir menemui manusia. Marilah menjadikan semangat hidup Yesus yang ada dalam Ekaristi sebagai cara menghidupi iman yang benar kepada Allah. Melalui Ekaristi mari kita menimba kekuatan dari Sang Guru dan Pemilik kehidupan, sehingga hidup kita sesuai dengan hidup-Nya, cara pikir kita, sesuai dengan Ekaristi, dan sebaliknya Ekaristi memperkuat cara pikir kita,” demikian diungkapkan Uskup Agung Palembang, Mgr. Yohanes Harun Yuwono dalam materi rekoleksi berjudul Keallahan Kristus Memeluk Kemanusiaan Kita yang disajikan menjelang Misa Krisma dan Pembaruan Janji Imamat 2026.

Melampaui Sekadar Simbol

Mgr. Yuwono menegaskan bahwa Ekaristi adalah puncak di mana Kristus hadir sepenuh jiwa dan raga. Melalui peristiwa transubstansiasi, substansi roti dan anggur diubah menjadi Tubuh dan Darah-Nya yang mahamulia. Menariknya, Bapa Uskup juga menyoroti konsep konkomitansi, meski kita menerima dalam satu rupa, kita menerima Kristus seutuhnya.

Peserta rekoleksi dalam Hari Studi Imam KAPal 2026. | Foto: Komsos KAPal

Kehadiran ini adalah bukti kerendahan hati Tuhan yang luar biasa. Jika manusia sibuk mengejar pangkat dan kehormatan, Kristus justru mengosongkan diri-Nya, menjadi hamba untuk menjangkau mereka yang berada di “lembah kekelaman”.

Ekaristi sebagai Perekat Persaudaraan

Dalam rekoleksi yang diikuti 170 peserta ini, Bapa Uskup juga bahwa Ekaristi seharusnya meretas segala sekat perbedaan. Terinspirasi dari semangat St. Paulus, Mgr. Yuwono menekankan bahwa setiap orang yang menyantap Roti yang satu, menjadi satu tubuh. Ekaristi adalah perjamuan perjumpaan dan persahabatan sejati antara manusia dan Tuhan. Mengikuti teladan Kristus berarti mencintai tanpa pamrih dan tidak membeda-bedakan orang dan merayakan Ekaristi menuntut kejujuran batin serta upaya untuk bebas dari permusuhan sosial.

Peserta rekoleksi dalam Hari Studi Imam KAPal 2026. | Foto: Komsos KAPal

Dari Altar Menuju Perutusan

Menghubungkan dengan tema Hari Studi Imam tentang “Paroki Tanggap Bencana dan Kaderisasi”, refleksi ini menegaskan bahwa Ekaristi harus bermuara pada aksi. Seruan “Ite, missa est” adalah maklumat tugas perutusan bagi para imam untuk menjadi alter Christus (Kristus yang lain) di tengah umat.

Kristus yang telah “manjing” atau merasuk ke dalam nadi dan tulang para imam, diharapkan memberi kekuatan agar cara berpikir para pelayan altar selaras dengan semangat Ekaristi, memberi hidup dalam kelimpahan bagi sesama.

***TJK (Redaksi)

Leave a Reply

Your email address will not be published.