“Kita patut bersyukur pada sore hari ini karena boleh melangkah dan berkumpul bersama di Wismalat Podomoro untuk mengadakan pertemuan Komisi Pendidikan dan MPK Regio Sumatera hingga hari Sabtu yang akan datang. Semoga setiap proses yang kita lalui selama beberapa hari ke depan membawa berkat yang berlimpah bagi pelayanan pendidikan kita,”

Demikian disampaikan oleh Romo Gading Johanes Sianipar dalam pengantar perayaan Ekaristi membuka Pertemuan Komisi Pendidikan dan Majelis Pendidikan Katolik (MPK) Regio Sumatera di Kapel Wismalat Podomoro, Banyuasin, Rabu (11/3/2026) petang. Perayaan syukur tersebut dipimpin oleh Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Palembang, Romo Yohanes Kristianto, didampingi Sekretaris Eksekutif Komisi Pendidikan KWI Romo Antonius Vico Christiawan, SJ; Ketua Komisi Pendidikan Regio Sumatera, Romo Agustinus K.G. Faran; Ketua Komisi Pendidikan Keuskupan Agung Palembang, Romo Gading Johanes Sianipar; serta Ketua Panitia Romo Antonius Liberto.

Perayaan Ekaristi tersebut diikuti oleh 40 utusan Komisi Pendidikan keuskupan, MPK, yayasan pendidikan Katolik, dan pimpinan perguruan tinggi se-Regio Sumatera yang mengusung tema ‘Bersinergi Membangun Pendidikan Katolik yang Bermutu, Berkarakter, dan Relevan di Regio Sumatera’. Hingga Sabtu mendatang, para peserta akan menjalani rangkaian agenda refleksi dan diskusi intensif guna merumuskan arah kebijakan strategis bagi masa depan pendidikan Katolik di wilayah Sumatera.
Dalam homilinya, Romo Yohanes Kristianto menarik benang merah antara pertemuan ini dengan perjalanan masa Prapaskah yang tengah dijalani umat. Ia merefleksikan bahwa perjalanan iman para murid Yesus bermula dari sebuah undangan sederhana, “Ikutlah Aku,” yang kemudian berkembang menjadi proses pembinaan panjang antara Yesus sebagai Guru dan para murid sebagai pengikut-Nya. Romo Yohanes menekankan bahwa Yesus membentuk para murid melalui berbagai cara—mulai dari pengajaran dan teladan hidup hingga teguran yang keras. Namun, proses ini tidak selalu berjalan mulus karena para murid sering kali masih membawa kepentingan pribadi dan cara pandang yang berbeda dengan visi Yesus. Menurutnya, membangun solidaritas dan tim yang solid memang bukanlah perkara sederhana, terutama ketika komitmen mereka diuji secara drastis pada peristiwa penyaliban.

Kelemahan para murid di masa lalu tersebut, lanjut Romo Kristianto, akhirnya bertransformasi menjadi keberanian dan militansi baru setelah peristiwa kebangkitan dan pengalaman Pentakosta. Pengalaman transformatif inilah yang menjadi cermin penting bagi para pelayan pendidikan Katolik di Sumatera. Meskipun para peserta berasal dari berbagai lembaga dan keuskupan yang berbeda, mereka sejatinya dipersatukan oleh satu semangat tunggal: menghadirkan karya pendidikan yang sehati dan sevisi dengan Kristus sebagai Sang Guru Sejati. Ia mengingatkan bahwa sejarah Gereja di Sumatera telah lama berakar kuat pada dua pilar utama, yakni pendidikan dan kesehatan, di mana sekolah-sekolah Katolik telah memberikan kontribusi besar dalam mencerdaskan bangsa melalui kualitas pendidikan yang bermutu.

Namun, di balik catatan sejarah yang gemilang, Romo Kristianto mengajak seluruh peserta untuk melakukan introspeksi mendalam. Ia menegaskan bahwa tantangan terbesar saat ini tidak hanya datang dari faktor eksternal seperti perubahan regulasi dan ketatnya persaingan, melainkan dari dalam diri para pengelola itu sendiri. Pertanyaan krusialnya adalah sejauh mana sumber daya manusia yang ada masih memiliki dedikasi, integritas, dan komitmen untuk memperjuangkan pendidikan yang berkarakter. Sebagai penutup, ia menekankan bahwa sinergi antarlembaga di Regio Sumatera adalah sebuah keharusan; setiap pihak tidak boleh berjalan sendiri-sendiri, melainkan harus saling memperkuat demi melahirkan langkah-langkah konkret yang relevan dengan zaman, sehingga pendidikan Katolik dapat memberikan dampak yang semakin nyata bagi Gereja dan masyarakat.
**Diakon Bednadetus Aprilyanto
