
Hari kedua workshop para formator Jumat, (8/5) di RR Giri Nugraha kembali diisi dengan pendalaman tema How To Be a Good Enough Formator, yang kali ini membahas pemahaman kepribadian formandi. Materi disampaikan oleh Romo Yohanes Rasul Susanto SCJ, yang akrab disapa Rm. Santo.
Dalam paparannya, Rm. Santo menegaskan bahwa para formator harus menyadari sejak awal bahwa setiap calon formandi datang dengan berbagai kekurangan, kerapuhan, serta pengalaman hidup yang tidak selalu ideal. Karena itu, formator dituntut siap menerima dan mendampingi mereka dengan penuh kesabaran.
“Tugas formator adalah menerima kenyataan bahwa tidak ada calon yang sempurna, sama seperti formator juga yang tidak sempurna,” ujarnya.

Ia juga menyoroti tantangan besar formasio di era modern, ketika banyak formandi lebih mudah terpengaruh oleh tawaran duniawi dan perkembangan teknologi digital. Rm. Santo membandingkan kehidupan seminari pada masa lalu dengan situasi saat ini.
“Zaman saya, setelah makan siang para frater duduk bersama di teras untuk berbincang. Sekarang, teras sering sepi karena banyak yang memilih ke ruang komputer, membuka internet, YouTube, Facebook, dan sebagainya,” ungkapnya.

Menurutnya, nilai tertinggi dari panggilan religius adalah hidup bersatu dengan Allah. Karena itu, kehidupan doa pribadi harus menjadi fondasi utama, bukan sekadar rutinitas tambahan.
Ia menjelaskan bahwa tujuan utama formasio adalah membantu calon menghidupi nilai-nilai panggilan sebagai proyek hidup yang objektif, sekaligus mengurangi motivasi-motivasi yang bertentangan dengan panggilan tersebut. Selain itu, formasio juga bertujuan menumbuhkan kebebasan batin agar calon mampu mengambil keputusan secara matang dan bertanggung jawab.

Dalam sesi sharing, Rm. Santo menekankan pentingnya kemampuan formator untuk membaca persoalan yang tidak selalu tampak di permukaan. Ketidaktaatan seorang formandi, misalnya, belum tentu semata-mata karena penolakan, tetapi bisa jadi dipengaruhi oleh masalah motivasi, luka batin, atau kurangnya kebebasan pribadi.
“Formator harus mampu membaca apa yang tidak tertuliskan,” jelasnya.
Pendekatan pembinaan pun, menurutnya, perlu disesuaikan dengan latar belakang budaya, keluarga, serta konteks zaman dari masing-masing calon. Seorang pembina yang belum selesai dengan dirinya sendiri akan mengalami kesulitan dalam mendampingi orang lain. Oleh sebab itu, kedewasaan pribadi formator menjadi syarat penting.

Rm. Santo mengibaratkan formator sebagai seniman, tukang kebun, sekaligus dokter. Setiap formandi membutuhkan pendekatan berbeda sesuai karakter dan kebutuhannya.
“Ketika seseorang demam, tidak selalu obatnya sama. Demikian pula dalam pembinaan, tidak ada satu pendekatan yang cocok untuk semua,” katanya. Karena itu, formator perlu mempelajari latar belakang calon secara menyeluruh, membangun relasi personal, dan menciptakan suasana yang nyaman agar formandi merasa aman untuk bertumbuh.
Selain itu, ia juga mengingatkan bahwa formator harus memahami berbagai kebutuhan dasar manusia, seperti kebutuhan akan perhatian, penghargaan, dan penerimaan. Semua itu perlu dikenali agar proses pendampingan berjalan lebih efektif.

Menutup materinya, Rm. Santo menegaskan bahwa rahmat panggilan tidak menghapus kodrat manusia, melainkan menyempurnakannya. Maka, formator harus sungguh memahami apakah persoalan yang dihadapi seorang calon merupakan masalah yang tampak di permukaan (presenting problem) atau justru akar persoalan yang sesungguhnya (real problem).
Dengan pemahaman mendalam inilah, seorang formator dapat menjalankan tugasnya secara lebih bijaksana, manusiawi, dan efektif dalam mendampingi calon-calon religius menuju panggilan yang autentik.
***Kristina Yuyuani Daro
