Kis. 18:23-28; Mzm. 47:2-3,8-9,10; Yoh. 16:23b-28. BcO Kis. 23:12-35.
Tanpa Jarak

Saudara-saudari terkasih, dalam Injil hari ini, Yesus dikisahkan sedang memberikan wejangan kepada murid-murid-Nya. Ia berbicara tentang sebuah perubahan besar yang akan terjadi dalam hubungan antara manusia dengan Allah. Pernahkah kita merasa ada jarak yang membentang antara diri kita dengan Tuhan? Sering kali, rasa tidak layak atau tumpukan beban hidup membuat kita enggan untuk bersuara. Namun, dalam wejangan terakhir-Nya, Yesus meruntuhkan tembok pemisah itu. Ia memberikan sebuah janji yang luar biasa: apa pun yang kita minta kepada Bapa dalam nama-Nya, akan diberikan. Ini adalah perubahan besar dalam sejarah manusia, di mana kita kini memiliki akses langsung menuju takhta kasih karunia tanpa perlu merasa ragu lagi.
Penting untuk kita sadari bahwa berdoa “dalam nama Yesus” bukanlah sebuah mantra ajaib atau sekadar formalitas kata penutup. Nama Yesus merepresentasikan otoritas dan misi-Nya. Saat kita berdoa dalam nama-Nya, kita sebenarnya sedang menyelaraskan detak jantung keinginan kita dengan kehendak Tuhan. Bapa mengabulkan doa kita bukan karena kesucian atau kehebatan kita, melainkan karena perantaraan Putra-Nya. Inilah jaminan bahwa setiap bisikan dan seruan hati kita benar-benar didengar di surga.
Yesus menjanjikan sukacita yang penuh, sebuah rasa damai yang tidak ditawarkan oleh dunia. Jika dunia hanya memberi kesenangan yang sementara dan bergantung pada situasi, sukacita dari Yesus bersifat kokoh karena didasarkan pada kepastian bahwa kita tidak pernah berjalan sendirian. Banyak dari kita merasa “kosong” meski hidup terlihat mapan dan telah memiliki segalanya. Sering kali kekosongan itu muncul karena saluran komunikasi kita dengan Sang Pencipta tersumbat. Doa yang jujur adalah cara kita membuka kembali sumbatan tersebut agar beban hidup tak lagi kita panggul sendirian.
Satu hal yang paling menyentuh adalah penegasan Yesus bahwa Bapa sendiri sangat mengasihi kita. Kita perlu membuang pandangan keliru yang menganggap Allah sebagai hakim yang kejam dan hanya Yesuslah yang lembut. Melalui pesan ini, Yesus meluruskan bahwa Bapa dan Diri-Nya memiliki kasih yang sama besarnya. Allah bukanlah sosok yang jauh; Ia adalah Bapa yang personal, yang mengenal nama kita, memahami setiap kegelisahan kita, dan selalu rindu untuk bercakap-cakap layaknya seorang ayah dengan anak kesayangan-Nya.
Saudara-saudari terkasih, sebagai penutup, Yesus mengingatkan kembali akan identitas asli kita: kita datang dari Allah dan pada akhirnya akan kembali kepada-Nya. Kesadaran ini memberikan kita perspektif yang benar bahwa dunia ini hanyalah tempat perhentian sementara untuk berkarya dan menabur kasih. Dengan menyadari bahwa rumah kita yang sesungguhnya ada pada Bapa, kita dapat menjalani hidup dengan lebih tenang dan penuh harapan. Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita semua.
Fr. Ignasius Seda (Tingkat I)
