Pelatihan aplikasi BIDUK (Basis Integrasi Data Umat Keuskupan) dilaksanakan Sabtu (18/6) di Xaverius Centrum Studiorum Palembang, Sumatera Selatan. Kegiatan tersebut dihadiri oleh lebih kurang 87 orang peserta yang merupakan perwakilan dari setiap paroki yang berada di Keuskupan Agung Palembang. Peserta sosialisasi dan pelatihan BIDUK terdiri dari Pastor Paroki, Sekretaris Dewan Paroki (DP), Sekretariat Paroki dan Tim Biduk Keuskupan Agung Palembang.

Kegiatan diawali dengan Perayaan Ekaristi yang dipimpin Rm. Widi Pr dan diampingi oleh lima pastor lainnya yaitu Rm. Felix Astono Atmaja SCJ, Rm. Immanuel Gunadi Pr, Rm. Paulus Sarmono SCJ, Rm. Amatus Sukadi SCJ dan Rm. Adi Prasojo Pr.
“Melalui Perayaan Ekaristi, kita diajak untuk melibatkan Tuhan dalam segala rencana dan kegiatan yang akan dilaksanakan. Kita percaya Tuhan akan mengabulkan apa yang kita butuhkan,” ujar Rm. Widi Pr dalam homilinya.
Ia juga mengatakan bahwa kehadiran para peserta dalam pelatihan tersebut bukan sekedar belajar menginput data. Para peserta diajak untuk melihat nilai penting di balik itu.
“Kita diajak untuk meneruskan surat gembala bapa uskup untuk memperjuangkan nilai-nilai yang akan kita teruskan di paroki kita masing-masing. Upaya kita terlihat bukan sekedar karya yang kita kumpulkan tetapi juga nilai baik yang dikumpulkan,” tambahnya.
Usai Perayaan Ekaristi acara dilanjutkan dengan sambutan oleh Pastor Felix Astana Atmaja SCJ. Ia mengatakan bahwa pada dasarnya pelatihan ini diadakan, karena pengurus paroki masih mengalami kesulitan untuk menginput data umat dengan baik. “Sebetulnya kegiatan ini diadakan untuk menindak lanjuti tujuan dari sinode kedua pada Mei 2009, yaitu sinode berbasis data. Kemudian dari tahun ke tahun ternyata tidak berproses dengan baik. Semoga pelatihan ini berbuah baik. Ini menjadi tantangan baik bagi kita untuk semangat melayani,” tutur Pastor Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Palembang ini.
Setelah pelatihan ini, para peserta diharapkan menindak lanjuti proses penginputan data di masing-masing paroki. Kemudian hasilnya akan dievaluasi pada puncak sinode, yaitu pada September 2022 mendatang.

Kegiatan ini mengundang Tim pelatih BIDUK dari Keuskupan Agung Jakarta. Pelatih berjumlah enam orang di antaranya Victor Korompis, Yamin, Johan Septian, Henri Setiawan, Djunaedi, dan Ivan Sangkereng sebagai narasumber utama.
Tim BIDUK dari Keuskupan Agung Jakarta ini telah mekakukan pelatihan-pelatihan di beberapa keuskupan yang ada di Indonesia. Kali ini mereka menawarkan diri untuk memberikan pelatihan di Keuskupan Agung Palembang.
Pelatihan dibagi dalam dua sesi. Sesi pertama dimulai dengan pemaparan materi oleh TIM BIDUK Nusantara KAJ. Sesi kedua praktik penggunaan aplikasi BIDUK.
Tujuan dari pelatihan adalah memahami kegunaan program apalikasi BIDUK dan cara kerjanya, memahami pengaturan user dan akses, mengetahui data yang ada di BIDUK, menambah dan mengubah data umat, melakukan pencarian data, dan menggunakan fasiltas dashboard.
BIDUK merupakan program aplikasi pendataan umat Katolik yang berbasis web yang fiturnya meliputi pembuatan Kartu Keluarga, pencatatan profil umat, pencatatan data sakramen dan laporan-laporan lainnya.
Pengembangan BIDUK sudah dimulai sejak 2015 atas inisiatif Keuskupan Agung Jakarta. BIDUK dibuat oleh Universitas Bina Nusantara dalam ikatan kontrak kerjasama profesional yang didasari oleh semangat ingin membantu keuskupan-keuskupan yang ada di Indonesia dalam hal pendataan umat.
Pelatihan aplikasi BIDUK Nusantara ini sangat penting bagi para peserta, karena dalam aplikasi tersebut terdapat manajemen sistem informasi yang mampu menyimpan data seluruh umat keuskupan dilengkapi dengan tingkat keamanan dan perlindungan yang baik. Sistem informasi tersebut dapat diakses dan digunakan oleh seluruh paroki di keuskupan. Sistem ini juga menyediakan laporan-laporan yang dibutuhkan untuk pelayanan umat dan menyederhanakan proses laporan dari paroki ke keuskupan.
Usai pemamparan materi, para peserta melakukan praktiik penggunaan aplikasi BIDUK. Praktik diawali dengan pembuatan user name, memasukkan identitas hingga menginput data-data umat masing-masing paroki.
Para peserta sangat antusias mengikuti kegiatan pelatihan tersebut. Banyak hal yang didiskusikan dengan tim pelatih terutama mengenai kekurangan dan kelebihan fitur-fitur yang disediakan dalam aplikasi BIDUK. Tidak hanya bertanya, para peserta juga memberikan solusi dan saran agar bisa menyediakan fitur-fitur yang labih rinci.
BIDUK hanya menyediakan fitur untuk menginput data secara umum untuk keseluruhan umat dalam satu paroki. Namun, dalam satu paroki terdiri dari stasi, wilayah, dan lingkungan. Sebaiknya ditambahkan tiga fitur tersebut, supaya lebih mudah dan lebih rinci dalam memasukkan data umat. **
Kristina Yuyuani Daro

Revolusi digital Gereja KAPAL memang sudah waktunya