Dalam keadaan normal, seorang Kristen yang tidak memiliki persekutuan penuh dengan Paus di Roma, TIDAK BOLEH menerima Komuni Suci dalam Gereja Katolik.
Tapi kan, orang Kristen dari denominasi atau kelompok manapun, mereka kan percaya kepada Tuhan Yesus? Apakah mereka tidak boleh bersatu dengan Tuhan dalam Komuni Suci? Kok Gereja Katolik melarang?

Ritus saat menerima Tubuh dan Darah Kristus dalam Gereja Katolik dinamakan Komuni. Nah, komuni ini berasal dari bahasa Latin: Con berarti “dengan” dan unio berarti “persatuan atau persekutuan”. Bila digabungkan berarti: persatuan atau persekutuan dengan. Dengan siapa? Dengan Kristus yang Tubuh dan Darah-Nya kita sambut dan dengan Gereja, mempelai Kudus-Nya, yang diserahi amanat ‘perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku’ (Lukas 22:19).
Maka saat Komuni dibagikan, pelayan akan berkata, “Tubuh Kristus, atau Tubuh dan Darah Kristus.” Saat itu kita menjawab “Amin!”
Jawaban ‘Amin’ berarti kita yang menerima Komuni, menyatakan ‘percaya pada semua yang diajarkan dan yang diimani oleh Gereja Katolik.’ Pertanyaannya, apakah mereka mengimani semua ajaran Gereja Katolik?
Jadi jelas, mengapa orang Kristen dari aliran manapun selama dia tidak berada dalam persekutuan dengan Gereja Katolik tidak dapat menerima Komuni Suci dalam Gereja Katolik.
Lalu apa yang diajarkan Gereja tentang Sakramen Tubuh dan Darah Kristus atau Ekaristi?
Pertama, roti dan anggur yang telah dikonsekrasikan dalam Doa Syukur Agung berubah substansinya atau nilainya menjadi Tubuh dan Darah Kristus. “Oleh konsekrasi terjadilah perubahan transsubstansiasi roti dan anggur ke dalam tubuh dan darah Kristus. Di dalam rupa roti dan anggur yang telah dikonsekrir itu Kristus sendiri, Dia yang hidup dan dimuliakan, hadir sungguh, nyata, dan secara substansial dengan tubuh-Nya, darah-Nya, jiwa-Nya, dan kodrat ilahi-Nya.” (KGK 1413)
Nah, iman akan transsubstansiasi atau perubahan substansi atas roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus ini, tidak sejalan dengan ajaran aliran-aliran Kristen non-Katolik, yang hanya memercayai roti dan anggur hanya simbol Tubuh Yesus.

Dan benar, yang memungkinkan terjadinya transsubstansiasi atas roti dan anggur menjadi tubuh dan darah Kristus, hanya melalui kuasa tahbisan yang diterimakan Yesus kepada para rasul-Nya dan dilanjutkan hingga sekarang ini dalam Gereja Katolik. Maka Gereja-gereja Kristen yang memisahkan diri dari Gereja Katolik, memutuskan tali suksesi apostolik, yang secara singkat, mereka kehilangan Sakramen tahbisan, yang berarti juga kehilangan Ekaristi.
Kedua, Gereja Katolik mengajarkan bahwa “Ekaristi adalah Sakramen bagi mereka, yang hidup dalam persekutuan penuh dengan Gereja.” (bdk. KGK 1395). Maksudnya apa? Orang yang hidup dalam dan menerima ajaran Gereja Katolik secara penuh. Simpelnya, kalau mau komuni di Gereja Katolik, jadilah Katolik.
Lalu, bagaimana sebaliknya? Bolehkah umat Katolik menerima Komuni di Gereja Kristen non-Katolik? Tidak boleh. Kita tidak tahu bagaimana ajaran mereka. Ingat, komuni tidak hanya menyatukan dirimu dengan Tuhan Yesus, tapi juga dengan suatu Gereja, termasuk ajaran-ajarannya.
Namun dalam Katekismus Gereja Katolik Nomor 1401 dikatakan bahwa dalam keadaan mendesak dengan seizin uskup, seorang Kristen non-Katolik dapat menerima Sakramen Ekaristi, Tobat, dan Pengurapan Orang Sakit, dengan syarat bila mereka sendiri secara sukarela memintanya dan mengerti makna Sakramen-sakramen itu, serta mereka memperlihatkan iman Katolik dan berada dalam disposisi yang baik. **
Kristiana Rinawati
