Renungan Harian Minggu, 21 Juni 2026

Hari Minggu Biasa XII
Yer 20:10-13 Mzm. 69:8-10,13,17,33-35; Rom. 5:12-15; Mat 10:26-33; BcO 1Kor. 1:26-2:16.

Tugas Kenabian

Saudara-saudari terkasih, perkembangan teknologi informasi saat ini bagai pisau bermata dua; mempermudah hidup, namun jika tidak disikapi dengan bijak, dapat menghancurkan moral melalui penghakiman massal dan fitnah digital. Pola penderitaan batin akibat tuduhan keji ini telah dialami oleh Nabi Yeremia jauh sebelum era internet. Dipanggil dalam usia yang sangat muda, Yeremia tidak mengandalkan ego atau sekadar pemahaman hukum, melainkan kemurnian hati dan kesiapan total untuk diutus menyuarakan kehendak Allah di tengah badai penolakan.

Keterbukaan dan kesetiaan radikal inilah yang menjaga konsistensi Yeremia melintasi kepemimpinan lima raja Yehuda. Di era ketika banyak nabi palsu melacurkan suara kenabian demi menyenangkan penguasa dan melanggengkan kenyamanan rezim, Yeremia memilih berdiri kokoh tanpa memihak politik mana pun. Ia tetap murni menjadi corong ilahi yang menyuarakan kebenaran objektif, meskipun ia harus terisolasi dan menanggung risiko kebencian dari lingkungan kekuasaan.

Yeremia dengan berani menentang budaya materialistik yang menyuburkan kesenjangan sosial, serta membongkar propaganda palsu yang menidurkan nurani bangsa. Meski hidupnya dipenuhi ratapan, kepedihan, dan ancaman pembunuhan dari mereka yang terusik kenyamanannya, ia tidak pernah mundur. Bahkan saat Yerusalem runtuh dan nubuatnya terbukti, ia tetap setia mendampingi umat seraya tanpa lelah menyerukan pertobatan agar bangsa Israel kembali kepada Allah.

Saudara-saudari terkasih, hari ini, Gereja dan kita semua dipanggil untuk meneruskan gerakan kenabian Yeremia di tengah kepungan budaya manipulasi, hoaks, dan para buzzer politik yang mengaburkan kebenaran. Panggilan mendasar ini menuntut keberanian iman untuk tidak takut pada kuasa duniawi yang hanya bisa membinasakan raga, melainkan takut akan Allah yang berkuasa atas jiwa (bdk. Mat 10:28). Kita diutus untuk menjadi ‘Yeremia baru’ yang berani bersuara lurus, menolak bungkam, dan konsisten menjadi saksi kebenaran sejati. Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita semua.

Fr. Clementio Novanta SimanullangTingkat IV

Leave a Reply

Your email address will not be published.