Renungan Harian Senin, 22 Juni 2026

2Raj. 17:5-8,13-15a,18; Mzm. 60:3,4-5,12-13; Mat. 7:1-5; BcO 1Raj. 21:1-29.

Kasih Mengalahkan Penghakiman

Saudara-saudari terkasih, seorang kakek datang menemui dokter dengan wajah serius. “Dok, sepertinya istri saya sudah mulai tuli. Saya bicara, dia tidak pernah menjawab.” Dokter tersenyum bijak dan berkata, “Coba tes sederhana saja. Bicara dari jarak jauh, lalu semakin mendekat. Kalau dia tetap tidak menjawab, berarti benar ada masalah.”

Maka pulanglah si kakek. Dari ruang tamu ia berteriak, “Bu, malam ini kita makan apa?” … tidak ada jawaban. Dari dapur ia ulangi, “Bu, malam ini kita makan apa?” … tetap hening. Akhirnya ia berdiri tepat di belakang istrinya dan bertanya lagi dengan nada agak kesal, “Bu, malam ini kita makan apa?” Sang istri menoleh sambil tersenyum, “Untuk keempat kalinya aku jawab: sayur sop, Pak!

Kisah ini mengingatkan kita pada Injil yang kita dengarkan hari ini: jangan cepat menghakimi orang lain, karena sering kali “balok” ada di mata kita sendiri.  Dokter menyarankan agar kakek tersebut menguji pendengaran istrinya dengan berbicara dari jarak jauh, lalu semakin mendekat. Ternyata, sang istri menjawab dengan jelas, dan masalahnya bukan pada pendengaran istrinya, melainkan pada pendengaran si kakek sendiri.

Dalam Injil hari ini, Yesus mengingatkan kita: “Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi.” Kata-kata ini menegur kecenderungan manusia untuk cepat melihat kelemahan orang lain, sementara kita sendiri sering luput menyadari kesalahan yang lebih besar dalam diri. Menghakimi dengan mudah membuat hati kita keras dan menutup pintu belas kasih.

Yesus memakai gambaran yang jelas: selumbar di mata saudara dan balok di mata kita sendiri. Gambaran ini mengajak kita untuk bercermin, melakukan introspeksi, dan berani mengakui kelemahan diri. Dengan rendah hati, kita belajar bahwa memperbaiki diri adalah langkah pertama sebelum menegur orang lain. Sikap ini melatih kita untuk jujur, tidak munafik, dan lebih sabar dalam menghadapi sesama.

Saudara-saudari terkasih, saat kita berhenti mencari-cari kesalahan orang lain, kita membuka ruang untuk memahami, mengampuni, dan mendukung mereka. Dengan demikian, kita menjadi sahabat yang membawa damai, bukan penghakiman. Hidup kita pun menjadi cermin kasih Kristus yang menguatkan sesama. Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita semua.Fr. Yustinus Irvan HandrianTingkat II

Leave a Reply

Your email address will not be published.