Renungan Harian Selasa, 23 Juni 2026

2Raj. 19:9b-11,14-21,31-35a,36; Mzm. 48:2-3ab,3cd-4,10-11; Mat. 7:6,12-14; BcO 1Raj. 22:1-28.

Jalan Kesucian

Saudara-saudari terkasih,  suatu ketika saya diajak teman untuk mendaki sebuah gunung. Tawaran itu spontan saya tolak, karena saya belum pernah mendaki sebuah gunung dan takut tidak kuat mendaki. Saya membayangkan bahwa mendaki gunung bukanlah perkara mudah, ada banyak tantangan atau kendala yang mungkin akan terjadi, mulai dari jalan mendaki, medan yang curam, berbatu, jalan yang sempit, cuaca yang tak menentu, dan lain sebagainya. Kondidi itu tak jarang membuat nyali ciut dan memilih mundur karena takut atau tidak berani melawan banyaknya tantangan.

Saudara-saudari terkasih, bacaan injil pada hari ini mengisahkan tentang Yesus yang mengajak para murid untuk masuk melalui pintu yang sempit. Jalan sempit itu adalah jalan iman, kesetiaan, dan ketaatan kepada Allah. Banyak orang memilih jalan lebar karena tampak lebih mudah dan nyaman, tetapi jalan itu sering membuat manusia jauh dari Tuhan. Sebaliknya, jalan sempit mengajak orang untuk hidup benar, memperlakukan sesama dengan kasih, dan tetap setia meskipun harus berjuang. Karena itu Yesus juga mengajarkan, “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka.” Jalan menuju kehidupan sejati diwujudkan dalam kasih yang nyata kepada sesama.

Pesan Injil ini tampak nyata dalam bacaan pertama hari ini. Raja Hizkia menghadapi ancaman besar dari raja Asyur yang menghina Allah dan menebarkan ketakutan kepada bangsa Israel. Secara manusiawi, Hizkia bisa saja menyerah atau memilih jalan mudah dengan mengandalkan kekuatan duniawi. Namun ia memilih jalan sempit: percaya kepada Tuhan dan menyerahkan pergumulannya dalam doa. Kesetiaan Hizkia menunjukkan bahwa berjalan bersama Allah memang tidak selalu mudah, tetapi Tuhan sendiri yang akan bertindak bagi orang yang berharap kepada-Nya.

Saudara-saudari terkasih, melalui sabda Allah pada hari ini mari kita berani memilih jalan Tuhan di tengah dunia yang sering menawarkan jalan pintas. Jalan sempit mungkin penuh tantangan, tetapi itulah jalan yang membawa kepada kehidupan. Ketika kita tetap jujur, mengampuni, setia dalam panggilan, dan mengandalkan Tuhan seperti Hizkia, kita sedang berjalan menuju pintu kehidupan yang dijanjikan Allah. Tuhan tidak pernah meninggalkan orang yang tetap setia di jalan-Nya. Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita semua.Fr. Yulius SusiloTingkat IV

Leave a Reply

Your email address will not be published.