Satu Abad Kongregasi FCh: Karya Monumental Pemulihan Kemanusiaan dan Belarasa Tak Terbagi

Bedah Buku menyongsong 100 th Charitas di Indonesia. | Foto: Komsos KAPal

PALEMBANG – Perjalanan 100 tahun Kongregasi Suster Santo Fransiskus Charitas (FCh) di Indonesia bukan sekadar catatan waktu, melainkan sebuah ziarah panjang dalam memulihkan kemanusiaan yang terluka. Hal ini dikupas tuntas dalam acara bedah buku Misteri Muder Trees dan Seabad Suster Charitas di Indonesia yang digelar di Ballroom Fransiskus Asisi Charitas Hospital Palembang, Jumat (26/6/2026) pagi.

Hadir sebagai pembedah utama adalah Guru Besar Sejarah Gereja dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, Romo Antonius Eddy Kristiyanto OFM. Ia menyebut kedua buku tersebut sebagai karya monumental. Menurutnya, literatur ini dengan gamblang menunjukkan bahwa panggilan hidup para suster Charitas bersambung erat dengan misi sosial untuk menolong sesama yang papa dan menderita.

“Para pendahulu FCh memiliki visi jauh ke depan dan melampaui kesempitan. Hal ini terbukti sekaligus teruji melalui peran mereka sebagai pengasah hati nurani, pencerah akal budi, dan penggerak aksi,” ujar Romo Eddy di hadapan ratusan peserta yang memadati ruangan.

Lebih lanjut, alumnus Universitas Kepausan Gregoriana Roma ini memuji keberhasilan Kongregasi FCh dalam menjaga keseimbangan antara pola hidup bersama (komunitas) dengan perluasan pelayanan. Saat ini, kepak sayap pelayanan Suster Charitas telah berkembang menjadi 39 komunitas yang tersebar luas di 11 keuskupan, mulai dari Keuskupan Agung Palembang, Keuskupan Paramaribo di Suriname, hingga Keuskupan Jackson di Mississippi, Amerika Serikat. Bagi Romo Eddy, perkembangan ini merupakan bukti nyata dari sistem pembinaan (formasio) yang valid dan kokoh di dalam tubuh kongregasi.

Romo Antonius Eddy Kristiyanto OFM. | Foto: Komsos KAPal

Biarawan Fransiskan ini juga menggarisbawahi bahwa selama satu abad pertamanya, FCh tidak hanya menerapkan pola see-judge-act (lihat-nilai-bertindak), tetapi juga mengembangkannya lewat evaluasi mendalam dan refleksi masa depan (profleksi). Semua itu dilakukan dengan tetap memegang teguh komitmen belarasa total kepada kelompok kecil, miskin, dan tersisih.

“FCh memperlihatkan kombinasi nyata yang serasi antara kekuatan iman Kristiani, spiritualitas Fransiskan, mistik salibi, tradisi yang sehat, dan harapan religius,” tuturnya.

Pelayanan FCh di bidang kesehatan, pendidikan, sosial, hingga kategorial dinilai sebagai wujud nyata panggilan untuk berakar pada keberagaman budaya Indonesia. Melalui pengelolaan spiritualitas khas Fransiskan, para suster terus berkontribusi bagi kebaikan bersama (bonum commune).

“Terima kasih FCh, yang akan melanjutkan ziarah abad kedua demi menegaskan belarasa yang tak terbagi dan tak bertepi,” pungkasnya

Acara yang berlangsung khidmat ini turut dihadiri oleh Uskup Agung Palembang, Mgr. Yohanes Harun Yuwono, Dekan Dekanat Palembang Romo Hyginus Gono Pratowo, serta Pimpinan Umum Kongregasi FCh, Sr. M. Patricia FCh.

***TJK

Leave a Reply

Your email address will not be published.