Sarasehan Bulan Kebangsaan Dekanat Belitang: Menggerakkan Umat dari Altar Menuju Ruang Publik

Foto: Istimewa

BELITANG — Komitmen untuk memperdalam spiritualitas sekaligus mendorong peran aktif umat Katolik di tengah masyarakat menjadi wacana sentral dalam Sarasehan Bulan Kebangsaan 2026 se-Dekanat Belitang yang diselenggarakan di Paroki Santa Maria Assumpta, Mojosari, pada Selasa (11/8/2026). Kegiatan yang dihadiri para imam, biarawan-biarawati, serta utusan umat dari seluruh paroki ini  mengusung tema “Dari Altar ke Pasar: Berakar dalam Devosi, Melahirkan Kader Gereja dan Bangsa”.

Hadir sebagai narasumber dalam kegiatan ini adalah Moderator Komisi Kerasulan  Awam Keuskupan Agung Palembang (Kerawam KAPal), Romo Agustinus Riyanto SCJ didampingi Ketua Komisi Kerawam KAPal, Aloysius Harmadi, dan Dekan Dekanat Belitang, Romo Silvester Joko Susanto.

Menghubungkan Kesalehan Altar dan Realitas Harian

Mengacu pada panduan resmi Bulan Kebangsaan KAPal 2026, arahan “Dari Altar ke Pasar” menekankan pentingnya membangun jembatan antara perayaan iman dan kehidupan nyata. Umat diajak untuk tidak berhenti pada spiritualitas yang bersifat ritualistik-pribadi, melainkan mengintegrasikan doa serta devosi dengan keterlibatan sosial-kemasyarakatan berlandaskan Ajaran Sosial Gereja (ASG).

Pelaksanaan kegiatan ini bertepatan dengan fokus pastoral Keuskupan Agung Palembang yang menetapkan tahun 2026 sebagai Tahun Devosional dengan perhatian khusus pada Liturgi dan Devosi. Pada saat bersamaan, agenda ini merespons hasil keputusan Temu Pastoral (Tepas) 2025 para Uskup Regio Sumatera yang menempatkan kaderisasi awam sebagai salah satu prioritas utama.

Dalam refleksinya, Romo Agustinus Riyanto SCJ menegaskan bahwa doa dan relasi dengan Tuhan merupakan fondasi utama bagi umat untuk hadir dan melayani. Semangat tersebut dirangkum dalam prinsip “Menjadi Pemimpin Kristiani dari Lutut yang Bertelut” sebuah pesan bahwa kepemimpinan Katolik berakar pada kerendahan hati dalam doa, namun menemukan wujud nyatanya saat berani keluar untuk melayani sesama.

Menjadikan Ruang Publik Tempat Kesaksian Iman

Dalam perspektif materi Bulan Kebangsaan KAPal 2026, istilah “pasar” dirumuskan secara luas sebagai gambaran ruang publik tempat manusia beraktivitas sehari-hari. “Kaum awam dipanggil secara khusus untuk menghadirkan nilai-nilai Injil dalam berbagai lini kehidupan, termasuk politik, sosial, ekonomi, kebudayaan, ilmu pengetahuan, seni, media massa, hingga lingup keluarga,” ungkap Romo Riyanto.

Lebih lanjut, imam yang berkarya di Universitas Katolikk Musi Charitas Palembang ini juga menegaskan tentang panggilan perutusan untuk mewujudkan iman dalam berbagai lini kehidupan. “Di ruang-ruang publik inilah iman awam diuji dan diwujudkan secara konkret melalui dedikasi profesi, pelayanan, tanggung jawab sosial, kepemimpinan yang berintegritas, serta kepekaan terhadap kelompok yang terpinggirkan,” tegasnya.

Strategi Kaderisasi

Dalam paparannya Romo Riyanto juga menegaskan pentingnya penyiapan kader-kader Katolik yang tidak hanya memiliki kedalaman rohani, tetapi juga menguasai kompetensi, karakter kokoh, dan kepedulian sosial. Kaderisasi tidak dibatasi pada mereka yang telah aktif di organisasi, melainkan dimulai dari lingkup paling mendasar: keluarga, lingkungan, Komunitas Basis Gerejani (KBG), kelompok kategorial, hingga organisasi kemasyarakatan Katolik.

Sebagai langkah nyata dalam jejaring kaderisasi tingkat keuskupan, proses pendampingan ini diarahkan pada pembentukan pusat data talenta (talent pool) untuk memetakan serta mengoptimalkan berbagai potensi yang dimiliki oleh umat.

Aksi dan Komitmen Nyata

Foto: Istimewa

Sarasehan Bulan Kebangsaan Dekanat Belitang ini berorientasi pada aksi nyata dan gerakan konkret, yaitu: Menghidupkan kembali tradisi doa bersama di tingkat keluarga sebagai basis pembinaan iman, mendorong gerakan kepedulian sosial bagi masyarakat yang mengalami kesulitan hidup dan terpinggirkan, terbentuknya basis data potensi umat yang terorganisir untuk kebutuhan pelayanan Gereja dan masyarakat, dan meningkatnya keberanian Orang Muda Katolik (OMK) untuk mengambil peran aktif dalam pelayanan publik, kepemimpinan, dan organisasi kemasyarakatan.

Melalui dinamika sarasehan ini, umat Dekanat Belitang kembali diingatkan bahwa devosi yang dihidupi di altar harus memancar menjadi pelayanan nyata di tengah dunia, menjadikan setiap orang beriman sebagai garam dan terang bagi Gereja dan bangsa.

***Andreas Daris Awalistyo (Kontributor  Palembang)

Leave a Reply

Your email address will not be published.