Dosen STF Driyarkara Tekankan Pentingnya Kedalaman Makna dalam Karya Komunikasi Digital

Foto: Komsos KAPal

MUNTILAN – Di tengah gempuran konten digital yang membanjiri media sosial, para pelaku komunikasi dan pembuat konten diminta untuk tidak sekadar mengejar tren atau jumlah pengikut (followers). Komunikasi digital seharusnya menjadi ruang kreatif yang mampu membuka pemikiran dan kemungkinan baru bagi masyarakat.

Pesan tegas tersebut disampaikan oleh Dosen Filsafat Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara Jakarta, Romo Fransiskus Wawan Setyadi SJ, dalam acara Training of Trainers (TOT) Imagologi Komsos Sesi 3 bertajuk Imajinasi Profetik: Komsos sebagai Ruang Mimpi Gereja di Aula Pelican, Pusat Pastoral Sanjaya Muntilan, Jawa Tengah, Selasa (25/8/2026) siang.

“Jangan membuat konten hanya karena latah atau sekadar ingin mendapatkan pengikut sebanyak-banyaknya. Konten itu harus menawarkan roh tertentu, sesuatu yang lahir dari imajinasi kreatif dan produktif,” tegas Romo Wawan.

Ia menjelaskan bahwa imajinasi dalam pembuatan karya bukan berarti berkhayal atau melarikan diri dari realitas. Sebaliknya, imajinasi yang kreatif memampukan seorang komunikator untuk melihat peristiwa sehari-hari dari sudut pandang baru, mengolahnya menjadi narasi yang bermakna, dan menawarkan solusi atau harapan bagi pembacanya.

Menurutnya, proses kreatif tidak berhenti saat sebuah konten selesai dibuat dan diunggah. Dampak terpenting justru terjadi ketika karya tersebut menyapa publik dan mampu mengubah cara pandang seseorang terhadap kehidupan.

Meski tidak semua konten langsung memberikan dampak besar bagi setiap orang, hal itu tak boleh menyurutkan semangat para kreator.

“Tidak setiap pembacaan memberikan efek yang sama. Tapi kalau ada satu atau dua karya yang mampu membawa seseorang pada perubahan, itu sudah jadi alasan bagi kita untuk terus membuat karya yang memikat dan menantang,” ujarnya.

Lebih lanjut, Romo Wawan juga mengingatkan agar setiap pembuat konten tetap memperhatikan etika dan konteks masyarakat sasaran. Bahasa yang digunakan hendaknya mudah dipahami dan tidak terlalu rumit agar pesan yang disampaikan benar-benar sampai dan memberikan daya ubah.

Ia mengajak para peserta untuk berani keluar dari kebiasaan sekadar memproduksi konten. Pelaku komunikasi ditantang untuk membangun karya yang memiliki kedalaman makna, peka terhadap realitas sosial, serta mampu memberikan harapan bagi masa depan.

***TJK

Leave a Reply

Your email address will not be published.