Bukan Sekadar Viral, Komsos Dipanggil Menghadirkan Wajah Manusiawi di Era Digital

Foto: Komsos KAPal

MUNTILAN — Karya komunikasi Gereja Katolik di era digital diimbau tidak terjebak dalam pemburuan popularitas dan angka penonton semata. Nilai utama karya Komunikasi Sosial (Komsos) justru terletak pada keberanian untuk tetap manusiawi, menyentuh kehidupan nyata, serta membawa perubahan positif bagi masyarakat.

Pesan tersebut ditegaskan oleh Pakar Komunikasi dan Teknologi Informasi, Richardus Eko Indrajit, saat mengisi Sesi Training of Trainers (ToT) Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) di Aula Pelican, Pusat Pastoral Sanjaya, Muntilan, Jawa Tengah, Selasa (25/8/2026) petang.

“Karya Komsos menjadi mendunia bukan ketika ia paling keras terdengar, melainkan ketika ia paling jujur menampilkan wajah manusia,” ujar Richardus Eko Indrajit.

Dalam pemaparannya bertema “Membangun Karya Komunikasi Sosial yang Berdampak Luas dan Mendunia”, Eko menekankan bahwa produksi konten digital Komsos seyogianya tidak berhenti pada status ‘viral’. Kecepatan algoritma dan kecanggihan kecerdasan artifisial (AI) tidak akan bisa menggantikan kisah-kisah autentik, kehadiran nyata, serta pijakan etis yang dimiliki Gereja.

Kisah Nyata dan Kesadaran Etis

Eko mengibaratkan karya Komsos bagaikan sebuah pohon: nilai moral menjadi akar, keterampilan serta kreativitas sebagai batang, kolaborasi sebagai cabang, dan dampak nyata pada kehidupan manusia sebagai buahnya.

Ia mendorong para penggiat Komsos untuk disiplin mengangkat kisah-kisah nyata dari pelayanan masyarakat. Dengan prinsip “satu wajah, satu kisah, satu kebenaran”, komunikasi yang dibangun akan terasa dekat dan menyentuh emosi pembaca maupun penonton. Penggunaan teknologi dan kecerdasan artifisial diperbolehkan sebagai alat bantu, namun kontrol etis dan penghormatan terhadap martabat manusia tetap memegang peranan utama.

Kekuatan Kolaborasi

Selain mutu konten, Eko menggarisbawahi pentingnya jejaring kerja sama. Ketika 38 keuskupan di seluruh Indonesia saling terhubung dan berkolaborasi, baik antarwilayah maupun dengan media public daya jangkau dan dampak sosial yang dihasilkan akan berlipat ganda dibanding bekerja secara mandiri.

Ukuran keberhasilan Komsos, menurut Eko, tidak cukup hanya dilihat dari jumlah tayangan (views), pengikut (followers), atau tingkat interaksi di media sosial. Pertanyaan terpenting adalah sejauh mana karya tersebut memberi harapan baru, membangun solidaritas, dan menyuarakan mereka yang selama ini terpinggirkan.

Mengakhiri sesinya, para peserta diajak untuk melangkah nyata di wilayah masing-masing dengan merumuskan narasi besar, menciptakan karya unggulan, serta terus membangun jaringan komunikasi yang responsif dan berdampak luas bagi sesama.

***TJK

Leave a Reply

Your email address will not be published.