
PEMATANGSIANTAR — Media sosial kini bukan lagi sekadar tempat membagikan foto atau informasi kegiatan, melainkan telah bergeser menjadi ruang perjumpaan dan interaksi yang nyata. Hal tersebut menjadi sorotan utama dalam Hari Kedua Pertemuan Komsos dan SIGNIS Regio Sumatra yang digelar secara hybrid dari Aula Catholic Center-Pusat Pembinaan Umat Keuskupan Agung Medan (CC-PPU KAM), Pematangsiantar, Rabu (23/9/2026) pagi.
Menghadirkan General Manager Corporate Marketing Communication (CMC) BINUS Group, Haris Suhendra sesi bertajuk “Media Sosial, Perkembangan dan Peluang” ini mengajak para pegiat Komunikasi Sosial (Komsos) untuk mengadopsi pendekatan baru dalam menyampaikan pesan iman.
Haris mengungkapkan, dari sekitar 180 juta pengguna media sosial di Indonesia, kelompok usia 25–34 tahun menjadi porsi terbesar. Namun, pesan tidak cukup hanya sekadar dibuat lalu diunggah.
“Ketika menggunakan media sosial, sangat efektif untuk mengajak orang atau melakukan hal-hal yang baik. Itu peluang yang luar biasa. Buat konten, siapa target audiensnya, itu yang paling penting,” ungkapnya.
Lebih lanjut, ia juga menekankan bahwa media sosial bukan hanya sebagai sarana publikasi, tetapi sebagai ruang untuk berjumpa, berinteraksi, membangun percakapan, dan menghadirkan pesan yang relevan.

Dalam pemaparannya, Haris menekankan empat pilar konten yang bisa diterapkan Komsos: edukasi, hiburan, persuasif, dan komunitas. Pendekatan User-Generated Content (UGC) atau konten berbasis pengalaman umat, seperti kesaksian Orang Muda Katolik (OMK), cerita relawan, hingga kisah kehidupan umat di pelosok dinilai jauh lebih autentik dan mudah dipercaya audiens.
Menang dalam Pertarungan “Kecepatan Jempol”
Tantangan terbesar media sosial saat ini adalah memikat perhatian audiens di tengah derasnya arus informasi. Audiens kerap menentukan untuk melihat atau melewati sebuah konten hanya dalam hitungan 0,03 detik.
Untuk memenangkan pertarungan kecepatan jempol ini, Haris menyarankan penggunaan hook atau pembuka yang kuat di awal video pendek berdurasi 15 hingga 60 detik. Pesan emosional di awal dapat menjadi pintu masuk sebelum membawa audiens ke pesan yang lebih mendalam.
Merambah Generative AI dan Pengelolaan Profesional
Selain media sosial konvensional, perubahan cara masyarakat mencari informasi melalui teknologi Generative AI juga menjadi perhatian. Agar karya Gereja tetap relevan dan mudah ditemukan dalam pencarian AI, aset digital seperti situs web dan platform media sosial harus dikelola secara konsisten.
Haris menegaskan bahwa pengelolaan digital tidak bisa lagi dijadikan pekerjaan sampingan. Diperlukan perencanaan matang melalui kalender editorial (editorial calendar), penunjukan penanggung jawab (PIC), serta pemanfaatan teknologi pendukung hingga perangkat analitik.
Pada akhirnya, penggunaan teknologi dan strategi media sosial bagi Komsos bertujuan untuk menyapa, mendengarkan, dan membangun relasi sejati dengan umat. Media sosial hadir bukan sekadar untuk mengejar jumlah pengikut atau likes, melainkan menjadi jalan perjumpaan yang membawakan harapan dan makna hidup.
***Lisbet Theresa Pakpahan (Laporan dari Pematangsiantar)
