Uskup Agung Palembang Tutup Rangkaian Pesparani II: Setiap Pribadi adalah Belahan Jiwa Allah

PALEMBANG — LP3KD Provinsi Sumatera Selatan sukses menggelar rangkaian Pesta Paduan Suara Gerejani (Pesparani) 2 dan menutupnya dengan Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Uskup Agung Palembang, Mgr. Yohanes Harun di Auditorium Sekolah Kusuma Bangsa Palembang, Minggu (25/10/2026) pagi. Sejumlah imam hadir sebagai konselebran, di antaranya Ketua Komisi Kateketik, Kitab Suci, dan Liturgi Keuskupan Agung Palembang, Romo Agustinus Giman dan Pastor Paroki St. Yosef Pekerja Tanjung Enim, Romo Guido Suprapto.  

Foto: Komsos KAPal

Dalam homilinya, pada perayaan yang diikuti lebih dari 1000 orang terdiri dari peserta lomba, official, panitia, dan umat ini, Mgr. Yohanes menekankan pentingnya menjaga martabat kemanusiaan dan spiritualitas di tengah dinamika dunia modern. Mengambil ilustrasi filosofis dari tanaman teratai, Uskup mengingatkan agar umat tidak terpengaruh oleh lingkungan yang buruk.

“Makin buruk kualitas lumpur, makin tercemar air tempatnya dia hidup, makin berkualitas umbi bunga lotus itu. Seperti itu jemaat di Tesalonika. Ketika banyak orang berlomba-lomba untuk korupsi, kita harus semakin saleh. Ketika banyak orang berlomba-lomba untuk berbuat jahat, kita harus makin baik,” tutur Uskup.

Uskup yang juga memimpin Komisi Kerasulan Awam KWI ini menyampaikan pesan mendalam mengenai nilai martabat setiap pribadi yang dicipta secitra dengan Allah.Ia mengungkapkan bahwa martabat manusia tidak boleh dirusak oleh tindakan-tindakan destruktif seperti perundungan maupun perdagangan orang.

Foto: Komsos KAPal

“Tak seorang pun boleh direndahkan, boleh dilecehkan, karena setiap pribadi kita adalah belahan jiwa Allah, gambar diri Allah. Yang boleh kita lakukan adalah kasihilah sesamamu manusia seperti engkau mencintai dirimu sendiri,” tegasnya.

Menanggapi suasana kompetisi Pesparani 2 yang penuh antusiasme, Mgr. Yuwono mengingatkan seluruh kontingen bahwa perolehan piala bukanlah orientasi utama dari perhelatan rohani ini.

“Pasti ada yang kecewa nanti kalau tidak dapat juara. Tapi juara entah berapa pun bukan tujuan akhir dari pertemuan Pesparani ini. Tujuan akhirnya adalah kalau kalian bisa membanggakan Gereja, membanggakan nusa dan bangsa, membanggakan masyarakat, itu yang harusnya menjadi tujuan,” pesan Uskup.

Menjadi Duta

Sebelum berkat, Ketua LP3KD Provinsi Sumatera Selatan, Alphonsus Supardi, seraya mengutip seruan Pengkhotbah, ia mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang tgelah mendukung dan berpartidipasi sehingga seluruh rangkaian kegiatan perlombaan dapat berjalan dengan baik.

“Setiap masa ada waktunya. Ada waktu untuk memulai dan waktu untuk mengakhiri. Atas nama LP3KD Provinsi Sumatera Selatan beserta panitia, kami mengucapkan terima kasih,” ujar Supardi.

Dalam laporannya, Supardi menyampaikan bahwa ajang ini diikuti oleh 9 kontingen dari kabupaten/kota di Sumatera Selatan. Lebih lanjut ia menggarisbawahi makna lomba dalam Pesparani.

“Soal hasil, soal pemenang, kita boleh berkompetisi, tetapi apa pun hasilnya biarlah hanya demi kemuliaan nama Tuhan saja,” ungkapnya.

Foto: Komsos KAPal

Menutup sambutannya, Supardi berpesan agar seluruh peserta yang bertanding di berbagai cabang lomba mulai dari paduan suara, mazmur, cerdas cermat rohani, hingga bertutur kitab suci dapat membawa pulang nilai-nilai positif ke daerah masing-masing.

“Pengalaman-pengalaman baik yang anda terima, anda alami, dipraktikkan dan dilakukan di paroki masing-masing. Jangan berhenti di ajang Pesparani ini, tetapi silakan ikut mengambil bagian dalam perayaan-perayaan di paroki,” pungkas Supardi.

Rangkaian Ekaristi ditutup dengan sesi foto bersama sekaligus menjadi momen untuk mengabadikan momen kebersamaan yang mengemuka.

***Fransiska Panca S

Leave a Reply

Your email address will not be published.