Renungan Harian Selasa 27 Oktober 2026

Ef. 5:21-33; Mzm. 128:1-2.3.4-5; Luk. 13:18-21; BcO Keb 3:1-19.

Benih Kecil Akar Kasih

Saudara-saudari Sahabat yang terkasih, Pak Samsudin, seorang kepala bagian keuangan yang dihormati, divonis delapan tahun penjara karena menggelapkan dana perusahaan senilai miliaran rupiah. Di ruang sidang, ia menunduk sambil menangis di hadapan istri dan kedua anaknya. Yang mengejutkan, kejahatan itu tidak dimulai dari angka besar. Semua berawal lima tahun sebelumnya, dari satu nota kecil yang ia ubah demi menutupi kekurangan uang kas sebesar seratus ribu rupiah. Tidak ada yang curiga. Ia mengulanginya lagi, sedikit lebih besar, lalu lebih besar lagi. Kebiasaan kecil yang “sekali ini saja” itu tumbuh diam-diam, tak kasat mata, hingga akhirnya berbuah kehancuran yang menghancurkan karier, keluarga, dan kepercayaan orang-orang yang mengasihinya.

Dalam bacaan injil hari ini, Tuhan Yesus menggambarkan Kerajaan Allah seperti biji sesawi yang kecil, dan seperti ragi yang tersembunyi dalam adonan. Keduanya berbicara tentang prinsip yang sama: sesuatu yang tampak remeh pada awalnya memiliki daya untuk bertumbuh dan memengaruhi keseluruhan secara luar biasa. Prinsip ini berlaku untuk dua arah sekaligus. Kisah Pak Samsudin menunjukkan bagaimana benih ketidakjujuran yang dibiarkan tumbuh akan berakhir pada kehancuran. Namun benih yang sama dapat ditaburkan untuk kebaikan.

Bacaan pertama secara khusus mengajarkan bahwa rumah tangga yang kokoh juga dibangun dari benih-benih kecil yang ditabur setiap hari: sikap saling tunduk seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus, suami yang mengasihi istri seperti Kristus mengasihi jemaat dan menyerahkan diri-Nya baginya, serta istri yang menghormati suaminya. Kasih Kristus kepada gereja bukan kasih yang instan dan besar sekali jadi, melainkan kasih yang berkorban terus-menerus, hari demi hari, sampai jemaat-Nya “kudus dan tidak bercela”. Demikian pula pernikahan yang kuat bukan dibangun dari satu keputusan besar, tetapi dari ribuan pilihan kecil untuk mengampuni, melayani, mendengarkan, dan setia.

Saudara-saudari terkasih, sama seperti kelalaian kecil dapat bertumbuh menjadi kejahatan besar, ketidakpedulian kecil dalam rumah tangga; kata-kata kasar yang dibiarkan, kejujuran yang dikorbankan, waktu bersama yang terus ditunda, dapat bertumbuh menjadi keretakan yang dalam. Namun jika kita menaburkan benih kasih Kristus setiap hari, Roh Kudus akan bekerja seperti ragi, diam-diam mengubah seluruh rumah tangga kita menjadi tempat Kerajaan Allah dinyatakan. Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita semua.

Fr. Yustinus Irvan
Tingkat III

Leave a Reply

Your email address will not be published.