BANYUASIN — Perayaan Hari Pangan Sedunia (HPS) ke-46 tingkat Dekanat Palembang secara resmi ditutup melalui perayaan Ekaristi yang dipimpin Dekan Dekanat Palembang, Romo Hyginus Gono Pratowo di Wismalat Podomoro, Banyuasin, pada Minggu (1/11/2026) siang. Sejumlah imam tampak hadir menjadi konselebran, di antaranya Ketua Komisi PSE KAPal, Romo Laurensius Rakidi dan Ketua Komisi Keadilan dan Perdamaian KAPal, Romo Anton Liberto.

Dalam homilinya, Romo Gono menegaskan bahwa kekudusan bukanlah hal yang rumit atau hanya milik orang-orang tertentu, melainkan panggilan bagi setiap orang yang telah dibaptis untuk diwujudkan lewat tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Rangkaian acara yang berlangsung selama dua hari sejak 31 Oktober hingga 1 November 2026 ini diinisiasi oleh Tim Ekologi Dekanat Palembang bekerja sama dengan Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) Keuskupan Agung Palembang (KAPal). Kegiatan ini diikuti oleh puluhan peserta dari 11 paroki di Dekanat Palembang serta perwakilan kelompok kategorial seperti PMKRI dan WKRI.
Mulai dari Hal Kecil dengan Cinta yang Besar
Mengawali pesannya, Romo Gono mengingatkan umat tentang makna kebahagiaan sejati seperti yang diajarkan dalam Injil, bahwa kebahagiaan ditemukan dalam hati yang terbuka, penuh belas kasih, dan merindukan kebenaran. Menurutnya, seringkali orang keliru berpikir bahwa menjadi kudus berarti harus melakukan hal-hal luar biasa atau mengasingkan diri dari dunia.
“Seorang ibu menjadi kudus ketika merawat keluarganya dengan penuh kasih sayang. Seorang ayah bekerja dengan jujur dan bertanggung jawab. Seorang guru mendidik dengan kesabaran, dan pegiat sosial menjalankan tugas dengan penuh kejujuran,” ujar Romo Gono.

Ia menambahkan, umat tidak harus menunggu program atau wacana besar untuk berbuat kebaikan. Kekudusan dapat dimulai dari hal-hal kecil yang dilakukan dengan cinta yang besar, termasuk dalam komitmen merawat alam dan lingkungan sekitar.
Berani Hidup Berbeda di Tengah Dunia
Hal penting kedua yang disoroti adalah keberanian untuk hidup berbeda dari arus dunia. Di tengah masyarakat yang kerap menawarkan standar kebahagiaan materialistis atau budaya yang kurang jujur, umat dipanggil untuk tetap mengasihi, mengampuni, dan bertindak benar meskipun jalan tersebut tidak selalu mudah atau bahkan sering kali mendapat penolakan.
“Ketika kita menyerukan gerakan bijak, tidak membuang sampah sembarangan atau merawat lingkungan, kadang ada saja komentar miring. Namun, kepedulian itu harus tetap kita rawat sebagai wujud nyata iman kita,” pesan Romo Gono.
Pelantikan dan Aksi Nyata Lingkungan
Usai homili, rangkaian acara dilanjutkan dengan upacara pelantikan Tim Ekologi Dekanat Palembang oleh Romo Gono Pratowo.

Sebagai bentuk komitmen nyata terhadap pelestarian lingkungan sebagai “rumah kita bersama”, kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama serta penanaman bibit pohon secara simbolis di kompleks Wismalat Podomoro. Melalui langkah sederhana ini, semangat pelestarian alam diharapkan terus tumbuh di setiap paroki di Dekanat Palembang.
***TJK
