Menemukan Hal-hal Positif

“Carilah yang baik dan jangan yang jahat, supaya kamu hidup; dengan demikian Tuhan, semesta alam, akan menyertai kamu, seperti yang kamu katakana,” kata Nabi Amos (Amos 5:14).

Seorang anak memaksakan pandangannya kepada ibunya. Menurut anak itu, sang kakak adalah orang yang tidak bisa dipercaya. Kakaknya itu suka menjahili dia. Dia sering ditinggalkan oleh kakaknya ketika bepergian bersama-sama. Karena itu, dalam arti tertentu, sang kakak itu jahat sekali di matanya.

“Kakak itu jahat. Dia egois. Masak, dia mau menang sendiri?” kata anak itu kepada ibunya.

“Iya, tapi kakakmu juga suka memberi kamu coklat. Waktu kamu jatuh, dia mau menggendongmu,” jawab ibunya.

Anak itu tidak mau menerima. Dia merasa ibunya selalu membela sang kakak. “Ibu selalu begitu. Ibu selalu membela kakak,” kata anak itu.

Ibunya tersenyum mendengar kata-kata sang anak. “Yah, kalau kamu hanya mau mencari yang buruk, apa pun yang ada dalam diri kakakmu selalu buruk. Padahal ada banyak hal baik dalam diri kakaku,” kata ibunya.

Anak itu tertegun mendengar kata-kata ibunya. Ia tersenyum kecut. “Ibu benar. Mulai sekarang saya mencoba mencari dan menemukan hal-hal yang baik dalam diri kakak,” kata anak itu berjanji.

Banyak Hal Baik

Ada orang yang lebih memperhatikan hal-hal yang negatif atau kurang dari orang lain. Lantas mereka membuat penilaian yang juga negatif terhadap orang lain. Mereka pun mencari orang lain yang sama tipenya untuk memberikan penilaian yang sama. Akibatnya, ketidakharmonisan terjadi dalam hidup bersama.

Kisah di atas memberi kita inspirasi untuk tidak mudah memberi cap terhadap orang lain. Apalagi cap negatif sering lebih mudah disematkan kepada orang lain yang dianggap tidak sepaham. Ibu itu memiliki sikap bijaksana. Ia tidak mudah percaya pada anaknya yang mengadu kepadanya. Ia menyadarkan anaknya untuk menemukan hal-hal baik dan positif yang ada dalam diri kakaknya.

Banyak terjadi kekacauan dalam hidup bersama, karena kesalahan menilai orang lain. Ketika orang salah menilai, sebenarnya orang menyingkirkan sesamanya dari hidupnya. Orang tidak mau sesamanya itu terlibat dalam hidup bersama. Akibatnya, berbagai kegiatan positif bagi kemajuan bersama menjadi tersendat-sendat. Semestinya, orang tidak gegabah dalam menilai orang lain.

Orang beriman mesti selalu melihat hal-hal baik dari diri sesamanya. Memang, dalam diri manusia ada dua sisi yang bertentangan, yaitu negatif dan positif. Tetapi kita mesti yakin bahwa hal-hal baik atau positif senantiasa mendominasi hidup manusia.

Mari kita terus-menerus menemukan hal-hal yang baik dalam diri sesama kita. Dengan demikian, senantiasa terjadi keharmonisan dalam hidup bersama. Selalu semangat. Salam sehat. Tuhan memberkati. **

Frans de Sales SCJ

Leave a Reply

Your email address will not be published.