Meditasi Minggu, 13 Agustus 2022 – Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, Tahun Liturgi C

Perjalanan Misi Maria

Why 11,19a.12,1-6a; 1Kor 15,20-27; Lk 1,39-56

Narasi perjalanan Yesus dan para murid-Nya ke Yerusalem hari Minggu ini diintervensi dengan HR SP Maria Diangkat ke Surga. Bacaan pertama dalam Liturgi Sabda menampilkan penampakan “seorang perempuan berselubung matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya” (Why 12,1). Dia sedang mengandung dan hendak melahirkan seorang anak.

Sementara itu muncul juga penampakan seekor naga merah padam di hadapan perempuan yang hendak melahirkan itu. Naga merah bersiap-siap menelan anak dalam kandungan itu segera setelah ia dilahirkan nanti. Tetapi tiba-tiba begitu anak itu dilahirkan ia langsung dirampas oleh malaikat Tuhan dan dibawa ke hadapan takhta Allah yang mahatinggi. Sedangkan perempuan itu lari ke padang gurun, ke suatu tempat yang telah disediakan baginya sehingga ia pun terpelihara (Why 12,6). Para Bapa Gereja merenungkan penampakan perempuan berselubung itu sebagai figur Maria, Bunda Tuhan.

Sukacita Elisabeth

Maria, Bunda Tuhan sendiri dalam Injil dikisahkan melakukan perjalanan “misi” mengunjungi Elisabeth, sanak keluarganya. Sebenarnya, dalam tradisi masyarakat Yahudi tidak biasa bagi seorang wanita lajang atau yang sudah bertunangan bepergian sendiri, apalagi dalam jarak tempuh yang jauh dengan melintasi pegunungan (Luk 1,39). Mungkin, Maria sudah mendapat persetujuan dari Yosep, atau mungkin dia ditemani oleh orang lain dalam perjalanannya melintasi pegunungan Yehuda.

Dalam catatan penginjil Lukas, meskipun ini adalah perjumpaan Maria dan Elisabeth, kisah itu digambarkan sebagai perjumpaan dua anak, antara Yesus dalam rahim Maria dan Yohanes yang melonjak kegirangan dalam kandungan Elisabeth. Reaksi Yohanes dalam kandungan ibunya mengingatkan para pendengar Lukas pada kisah Yakub dan Esau dalam Kej 25,22-26. Sejak dalam kandungan Ribka, ibunya, Esau dan Yakub “bertolak-tolakan”, saling berjuang demi supremasi, bahkan di dalam rahim ibunya (Kej 25,22). Hal ini menimbulkan kegelisahan besar dalam batin ibunya.

Dalam episode perjumpaan Maria dan Elisabeth sama sekali tidak ada ketegangan. Yohanes melonjak kegirangan di hadapan ibu Yesus, yang mengandung Yesus di dalam rahimnya (ay. 41,44). Bahkan sejak di dalam rahim ibunya, Yohanes memulai pelayanannya sebagai pelopor bagi jalan Tuhan. Sedangkan Elisabeth, dalam tanggapan atas “shalom” yang dibawa oleh Maria, dengan lantang mengungkapkan pikiran Allah. Elisabeth dipenuhi dengan Roh Kudus Ketika dia menyampaikan jawaban atas salam yang dibagikan Maria. Teks mencatat, “Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring: “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu” (Luk 1,41-42). Elisabeth mengakui berkat istimewa yang dimiliki oleh Maria ini karena telah mengandung putera Allah. Ini adalah “sabda bahagia” pertama dalam Perjanjian Baru yang menjadi akar segala sukacita.

Begitulah Elisabeth dan Yohanes dalam kandungan ibunya bergirang atas kedatangan Tuhan. Sukacita adalah sikap dasar yang diharapkan oleh penginjil Lukas sebagai tanggapan atas kedatangan Yesus ke panggung sejarah. Sikap dasar ini ditemukan dalam reaksi Elisabeth. Dia adalah “santa yang luar biasa.” Sikapnya terangkum dalam pertanyaan “Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?” (Luk 1,43). Dia seorang yang rendah hati dan terlibat langsung dalam rencana Allah.

Kidung Pujian Maria

Magnificat (Luk 12,46-56) adalah salah satu dari tiga kidung utama dalam kisah seputar kanak-kanak dalam Perjanjian Baru. Kidung lainnya adalah Benedictus (Luk 1,67-79) dan Nunc Dimittis (Luk 2,28-32). Maria mengangkat kidung pujian kepada Tuhan atas segala perbuatan yang telah dikerjakan terhadapnya dan juga terhadap orang-orang benar sebagaimana tampak dalam sejarah selama berabad-abad.

Maria bergembira karena menyadari apa yang Tuhan telah lakukan pada dirinya. Ia mengangkat pujian kepada Tuhan untuk dirinya dan untuk komunitas umat Allah sepanjang waktu. Maria menyadari Tuhan telah menemuinya dalam ketidakberdayaan dan kelemahannya. Tuhan dialami dekat kepada orang yang patah hati dan menyelamatkan mereka yang remuk jiwanya (Mzm 34,19). Demikianlah, Tuhan juga mendatangi kita dalam kerapuhan kita.

Berkat Tuhan menggerakkan orang percaya untuk bersukacita karena Yang mahatinggi secara pribadi memperhatikan kita dan bertindak atas nama kita. Maria menjadi teladan kerendahan hati dan kesetiaan. Ia telah memberi contoh yang begitu penting bagaimana menanggapi berkat Tuhan yang diterimanya di tengah budaya abad pertama yang cenderung merendahkan status wanita sebagai yang sekunder. Kidung Maria mengingatkan para pendengar Lukas pada wanita-wanita yang terpuji dalam Perjanjian Lama, seperti Miriam (Kel 15,21), Hana (1Sam 2,1-10, dan Debora (Hak 5).

Pesan Singkat

Maria telah melakukan perjalanan “misi” membawa Yesus, sumber sukacita, keluar rumah melintasi pegunungan dan jalan-jalan terjal untuk menjumpai Elisabeth. Sebuah perjalanan “mendekatkan” sumber segala berkat yang membuat orang ‘melonjak’ kegirangan. Sebuah perjalanan yang mengangkat jiwa untuk mengidungkan pujian kepada Allah karena Dia telah memperhatikan dan mendatangi umatNya.

Quezon City-Philippine 2022 @donjustin

Leave a Reply

Your email address will not be published.