Umat Katolik Sejati itu Bersaudara dengan Semua Orang

Anda ingin menjadi orang Katolik sejati yang mengimani ajaran Gereja Katolik? Anda harus membangun persaudaraan sejati di mana-mana. Syarat ini diungkapkan Uskup Agung Palembang, Mgr. Yohanes Harun Yuwono, di hadapan lebih dari seratus peserta Seminar Moderasi Agama: Upaya Bersama Mempersatukan Bangsa untuk Pulih Lebih Cepat, Bangkit Lebih Kuat, Minggu (28/8).

Cara membangun persaudaraan adalah dengan hidup inklusif, membuka hati untuk bersaudara dengan siapapun. Ini adalah buah dari beragama. Semakin orang beragama, kata uskup agung, semakin dia harus menjadi manusia yang manusiawi, semakin toleran, dan semakin tidak mempunyai musuh.

Uskup Harun memberi judul materi yang disampaikannya Moderasi Beragama Mempromosikan Persaudaraan Sejati.

(Kiri ke Kanan) Romo Stepanus Sigit Pranoto SCJ, Drs. K.H. Mal’an Abdullah, M.H.I., Mgr. Yohanes Harun Yuwono

Moderasi: Tidak Ekstrem Kiri, Tidak Ekstrem Kanan

Moderasi, dari kata latin, moderatio artinya jalan tengah. Bukan menghayati agama setengah-setengah, moderasi dalam penghayatan masyarakat pluralisme agama (multi agama), berarti menghargai iman kepercayaan masing-masing pribadi.

“Kita seratus persen memercayai agamanya kita adalah yang benar, tapi orang lain juga percaya bahwa agama yang mereka anut sebagai yang benar. Dalam arti itu, tidak satu sama lain mempersalahkan, menyinggung, menghina, dan mengejek. Tidak ekstrem kiri, tidak ekstrem kanan,” kata Mgr. Yohanes Harun Yuwono, dalam pemaparannya.

Ekstrem kiri mementingkan hal sekular. “Misalnya mementingkan harta duniawi, pangkat jabatan yang fana, pada tingkat yang lebih ekstrim, bisa jadi ateis. Ekstrem kanan dihidupi para agamawan, yang makin ke kanan membuat orang fanatik, fundamentalis, bahkan bisa menjadi ‘teroris’, bisa jadi sangat praktis, ingin mendirikan negara dengan faham agama tertentu misalnya,” jelasnya.

Mgr. Yohanes Harun Yuwono (kanan) bersama Drs. K.H. Mal’an Abdullah, M.H.I. dalam Seminar Moderasi Agama: Upaya Bersama Mempersatukan Bangsa untuk Pulih Lebih Cepat, Bangkit Lebih Kuat, Minggu (28/8).

Merendahkan Manusia Berarti Merendahkan Allah

Gereja Katolik mengajarkan, bahwa setiap pribadi manusia lahir bukan atas kehendaknya sendiri, melainkan atas kehendak Allah. Manusia diciptakan semata-mata karena kasih Allah dan manusia tidak diciptakan sendirian (bdk. Kej. 2:18).

Bukti nyata kasih Allah kepada manusia, tergenapi dalam pewahyuan-Nya menjadi manusia. “Manusia menjadi model pewahyuan diri Allah. Allah mengungkapkan kebaikan-Nya dalam wujud manusia, yang kami orang Kristen imani dalam diri Kristus. Karena itu, manusia bermartabat luhur, mulia di mata Allah. Maka merendahkan manusia, berarti merendahkan Allah sendiri, yang menghendaki perbedaan itu,” jelas Mgr. Harun.

Ajaran Gereja Katolik Terhadap Orang Beriman Lain

Jika Allah mengasihi setiap pribadi manusia yang diciptakan-Nya tanpa pandang bulu, maka begitu juga ajaran Gereja Katolik. Sejak Konsili Vatikan II, kata Uskup Harun, Gereja Katolik mengajak umatnya dengan tulus hati menghormati siapapun, juga dari sudut pandang agama dan dari sudut pandang kemanusiaan.

Nostra Aetate tahun 1965, mendokumentasikan hubungan Gereja dengan agama-agama non-Kristen dengan mengatakan, bahwa tujuan akhir semua bangsa adalah Allah. Dalam Gaudium et Spes, kalimat pertama sangat inspiratif, yang menjadi kalimat yang kita dengungkan di mana-mana dalam menjalin persaudaraan sejati dengan semua orang, kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan orang-orang zaman sekarang, terutama kaum miskin, tidak disebut agamanya apa, semua orang yang menderita adalah saudara-saudari kemanusiaan kita,” katanya.

Paus Fransiskus mengajarkan kita merajut persaudaraan sejati melalui dokumen-dokumen dan surat-surat apostoliknya. Laudato Si menekankan bahwa bumi adalah rumah kita bersama. “Kita berada dalam rumah yang sama. Dalam rumah yang sama, berarti kita juga saudara-saudari satu sama lain. Rumah ini harus kita wariskan, bukan hanya untuk orang dalam agama tertentu, melainkan kepada semua generasi muda dari segala latar belakang apapun, kita harus mewariskan rumah ini dengan baik,” pungkas Monseigneur Harun.

Dokumen Abu Dhabi di mana pertemuan Paus Fransiskus dengan Imam Besar Al-Azhar Sheikh Ahmed el-Tayeb mengokohkan kembali tonggak persaudaraan manusia untuk perdamaian dunia. “Dua tahun lalu Paus Fransiskus mengeluarkan Ensiklik Fratelli Tutti: kita semua adalah saudara. Sinode Universal Gereja Katolik bertema berjalan bersama. Ini tidak hanya antara orang Katolik dengan orang Katolik, tetapi berjalan bersama dengan semua orang, dengan segala latar belakang apapun. Praksis di Indonesia, Gereja Katolik menghargai perkawinan campur. Tetap menghormati orang yang berkeyakinan lain, menghormati agama-agama lain,” jelas uskup kelahiran Lampung ini.

Bagaimana Tindakan Konkret?

Mgr. Harun Yuwono mengajak peserta yang hadir merawat persaudaraan manusia melalui aneka events nasional.

“Barangkali kita bisa menumbuhkan persaudaraan sejati dengan merayakan hari-hari raya nasional. Selain silaturahmi pada hari besar agama masing-masing, bisa di hari kemerdekaan, hari sumpah pemuda, bisa di hari-hari lain. Hari-hari raya nasional itu pastilah bukan hari raya agama tertentu, tetapi menjadi hari raya kemerdekaan kita, sebagai bangsa dan putra-putri Indonesia,” katanya.

Dia juga mengajak para seminaris untuk menjalin persaudaraan dengan remaja sebaya mereka yang beriman lain. Misalnya dengan para santri, juga mereka yang bersekolah di sekolah-sekolah agamis lainnya. **

Kristiana Rinawati

Leave a Reply

Your email address will not be published.